Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Di tengah menjamurnya kafe modern di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sebuah warung bernuansa pedesaan berdiri tenang di Desa Doko, Kecamatan Ngasem. Tempat itu bernama Arumpala Kopi.
Arumpala Kopi bukan sekadar ruang makan, melainkan ruang perhentian bagi mereka yang merindukan suasana desa dan kehangatan cita rasa Jawa.
Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disambut rindangnya pepohonan serta gubuk-gubuk kecil bergaya tradisional yang tertata sederhana.
Suasana sejuk dan tenang seolah mengajak siapa pun meninggalkan hiruk-pikuk kota.
Tak heran jika Arumpala Kopi kerap menjadi pilihan untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas.
Di balik kesederhanaan tempatnya, kafe ini menyuguhkan menu rumahan khas Jawa yang akrab di lidah.
Nasi jangan deso dan nasi goreng Jawa menjadi menu andalan. Rasa yang bersahaja, namun kaya bumbu, berpadu dengan kuatnya nuansa pedesaan yang dihadirkan.
Arumpala Kopi berdiri sejak 2021. Di baliknya ada sosok Muhammad Cahya Gumelar, atau yang akrab disapa Agum.
Baginya, Arumpala bukan semata usaha kuliner, melainkan perwujudan kecintaannya terhadap budaya Jawa yang telah diwariskan keluarganya sejak lama.
“Keluarga saya memang sangat menyukai budaya Jawa, mulai dari bangunan sampai nilai-nilainya. Dari situ muncul ide untuk membuat tempat makan dengan konsep Jawa,” tutur Agum.
Di saat banyak pelaku usaha berlomba menghadirkan konsep kekinian, Arumpala Kopi justru memilih jalur berbeda dengan mempertahankan identitas lokal. Agum meyakini budaya tidak harus ditinggalkan demi modernitas.
“Sekarang kafe modern sudah banyak. Padahal kita sebagai orang Jawa punya kearifan sendiri. Di sini bukan soal banyaknya menu, tapi suasana dan nuansa Jawanya,” katanya.
Kesederhanaan hidup masyarakat desa tercermin dalam menu yang disajikan. Nasi jangan deso, misalnya, disuguhkan lengkap dengan sayur lodeh tahu, telur dadar, gerih, dan kerupuk.
Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan potret keseharian masyarakat desa yang diwariskan turun-temurun.
“Ini memang makanan sehari-hari orang desa. Resepnya dari keluarga,” ungkap Agum.
Tak hanya unggul dari segi rasa dan suasana, Arumpala Kopi juga menawarkan harga yang bersahabat, mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000.
Setiap hari, tempat ini dikunjungi sekitar 50 hingga 100 orang. Pengunjung datang tidak hanya dari Kediri, tetapi juga dari Surabaya dan wilayah Karesidenan Kediri.
Seiring waktu, Arumpala Kopi berkembang menjadi ruang berkumpul berbagai komunitas. Tempat ini kerap dimanfaatkan untuk sesi foto prapernikahan hingga pop-up market yang melibatkan pelaku UMKM lokal.
“Kami pernah bikin pasar dadakan untuk teman-teman UMKM yang belum punya tempat. Ada yang jual aksesori, gelang, thrift, sampai makanan. Kadang juga ada hiburan DJ, tapi konsep tradisionalnya tetap kami jaga,” jelasnya.
Nama Arumpala sendiri memiliki makna tersendiri. Kata Arum diambil dari Jalan Tegal Arum, lokasi berdirinya warung. Sementara Pala berasal dari kata palawija, yang melambangkan kekayaan rempah-rempah Nusantara.
“Kami ingin menggambarkan Indonesia yang kaya akan rempah dan budaya. Itu yang kami tuangkan dalam nama Arumpala,” pungkas Agum.
Isa, salah satu pengunjung, mengaku merasa nyaman berada di Arumpala Kopi. Selain lokasinya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ia juga menilai makanan di tempat ini memiliki cita rasa yang kuat.
“Lodehnya enak banget, rasanya khas Jawa dan bumbunya terasa. Makan di sini juga nyaman karena suasananya adem dan tenang,” katanya.






