Dianggap Rawan, Persik vs PSIM Digelar di Gresik Tanpa Penonton

Persik Kediri
Ilustrasi: Skuad Persik Kediri saat merayakan gol pada salah satu laga di Super League musim 2025/2026. Doc: Persik Kediri

Metaranews.co, Kota Kediri – Pertandingan Persik Kediri melawan PSIM Yogyakarta resmi tidak digelar di Stadion Brawijaya, Kota Kediri.

Laga tersebut dipindahkan ke Stadion Djoko Samudro, Gresik, dan dipastikan berlangsung tanpa penonton pada Jumat (13/2/2026) pukul 15.30 WIB.

Bacaan Lainnya

Panitia Pelaksana Pertandingan (Panpel) Persik Kediri, Tri Widodo, menyatakan hingga kini izin keramaian untuk menggelar pertandingan di Kota Kediri belum diterbitkan.

“Untuk pertandingan antara Persik Kediri vs PSIM akan digelar di Stadion Djoko Samudro, Gresik, pada tanggal 13 pukul 15.30 WIB. Kenapa di sana, karena kita tidak diberi izin keramaian untuk pertandingan tersebut,” jelas Widodo, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, penolakan izin tersebut berkaitan dengan catatan kelam pertemuan kedua tim pada 2019 di Stadion Brawijaya.

“Kenapa tidak diberi izin karena ada catatan kelam saat melawan PSIM di Stadion Brawijaya,” tuturnya.

Widodo menegaskan pihaknya sebenarnya telah menawarkan opsi pertandingan tanpa penonton di Kediri. Namun, kepolisian tetap tidak memberikan izin.

“Sebenarnya kita sudah memberikan opsi tanpa penonton dalam pertandingan itu, namun demikian pihak kepolisian tetap tidak memberi izin,” lanjutnya.

Meski tetap digelar di wilayah Jawa Timur, pertandingan di Gresik juga dipastikan tanpa kehadiran suporter.

“Untuk pertandingan di Gresik nantinya juga tanpa penonton 0 penonton,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, laga kandang Macan Putih kontra PSIM Yogyakarta memang dipastikan tidak bisa digelar di Stadion Brawijaya. Izin penggunaan stadion tidak diterbitkan.

Tri Widodo membenarkan hal tersebut saat dikonfirmasi melalui pesan singkat. Ia menyatakan pertandingan kontra PSIM tidak memperoleh izin penggunaan Stadion Brawijaya.

Tidak turunnya izin tersebut diduga kuat berkaitan dengan kerusuhan yang pecah pada pertemuan terakhir kedua tim di Kediri, 2019 silam.

Saat itu, Persik yang bertindak sebagai tuan rumah menang 2-0 atas PSIM dalam laga Liga 2. Namun, kemenangan tersebut ternodai insiden ricuh menjelang akhir pertandingan.

Kericuhan bermula dari saling ejek antarsuporter di tribun. Situasi memanas dan berkembang menjadi aksi pelemparan botol, batu, serta benda keras lainnya.

Sejumlah suporter bahkan turun ke lapangan. Aparat keamanan terpaksa turun tangan untuk meredam bentrokan dan memisahkan massa dari kedua kubu.

Kerusuhan tidak berhenti setelah peluit panjang dibunyikan. Bentrokan meluas hingga ke luar stadion, termasuk area parkir dan sejumlah ruas jalan di sekitar Stadion Brawijaya.

Akibat insiden tersebut, puluhan suporter dari kedua tim dilaporkan mengalami luka-luka. Sejumlah anggota kepolisian yang bertugas mengamankan pertandingan juga menjadi korban dan harus menjalani perawatan medis.

Kerusuhan itu juga menyebabkan kerusakan fasilitas umum serta kendaraan milik warga yang terparkir di sekitar stadion.

Pascainsiden, Komite Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi kepada PSIM Yogyakarta. Suporter Laskar Mataram dinilai terbukti melakukan pelanggaran disiplin berupa tindakan provokatif dan keterlibatan dalam kericuhan.

PSSI menjatuhkan hukuman larangan mendukung tim secara langsung di stadion, baik saat laga kandang maupun tandang, dalam jangka waktu tertentu.

Meski sempat diajukan banding oleh pihak PSIM, sanksi tersebut tetap menjadi catatan serius bagi federasi.

Hingga kini, kerusuhan laga Persik kontra PSIM pada 2019 masih menjadi pertimbangan utama dalam aspek keamanan setiap kali kedua tim dijadwalkan bertemu.

Trauma dan potensi konflik antarsuporter dinilai belum sepenuhnya hilang.

Kondisi itu berdampak langsung pada kebijakan perizinan pertandingan, termasuk larangan menggelar laga Persik melawan PSIM di Stadion Brawijaya pada musim ini.

Pos terkait