metaranews.co, Jombang — Sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Tambakberas diwarnai dinamika dan kegaduhan antarpeserta hari ini.
Menanggapi situasi yang memanas di sekitar arena sidang, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen, turun tangan meredam ketegangan dengan menegaskan netralitas pengamanan dan mengingatkan para peserta tentang adab.
Dalam pernyataan resminya, Nabil Haroen menegaskan bahwa pengerahan personel Pagar Nusa murni untuk pengabdian (khidmah) dan tidak terafiliasi dengan kubu mana pun.
“Pagar Nusa hadir di arena Muktamar semata-mata untuk menjalankan khidmah menjaga keamanan, ketertiban, dan marwah Muktamar Nahdlatul Ulama. Kami tidak berada pada kepentingan kandidat atau kelompok mana pun,” tegasnya.
Terkait eskalasi yang terjadi, ia meminta seluruh pihak untuk menahan diri dan menghormati mekanisme persidangan yang berlaku. Meski perbedaan pandangan dan pilihan adalah hal yang lumrah dalam dinamika organisasi, ia mewanti-wanti agar hal tersebut tidak berkembang menjadi tindakan destruktif.
Secara khusus, Nabil mengingatkan para muktamirin tentang nilai historis dan kesakralan lokasi Muktamar.
Tambakberas merupakan tempat bersemayamnya salah satu pendiri (muassis) sekaligus penggerak utama NU, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab).
”Sudah sepatutnya kita menjaga adab di hadapan para masyayikh. Jangan sampai di tempat yang menyimpan jejak perjuangan dan pengabdian beliau, kita justru mempertontonkan pertengkaran yang mencederai persaudaraan sesama Nahdliyin,” pesannya.
Guna memastikan sidang pleno dapat kembali berjalan tertib, Pagar Nusa telah menginstruksikan jajarannya untuk membentuk barisan pengamanan yang membantu panitia. Pihaknya berupaya memblokade potensi gesekan yang lebih luas dengan pendekatan yang humanis.
”Saya sudah menginstruksikan seluruh anggota Pagar Nusa agar bertindak secara terukur, tidak mudah terpancing, tidak melakukan tindakan provokatif, dan mengedepankan pendekatan persuasif,” tambah Nabil.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa Muktamar adalah forum tertinggi jam’iyyah (organisasi). Oleh karena itu, penyelesaian masalah harus dikembalikan pada meja musyawarah, bukan melalui tekanan apalagi adu kekuatan fisik di lapangan.
Tugas Pagar Nusa, menurutnya, sangat sederhana: menjaga keselamatan para kiai, peserta, forum, dan memastikan Muktamar selesai dengan damai.
”Mari kita jaga Tambakberas, kita jaga kehormatan Muktamar, dan kita jaga persaudaraan. Jangan sampai para muassis yang telah mewariskan NU kepada kita justru kita kecewakan karena kita tidak mampu menjaga adab dalam berbeda pilihan,” pungkasnya. (***)
Penulis : Ubaidhilah
Editor : Imam Mubarok






