Banyak Ular Masuk Pemukiman Warga, Begini Penjelasan BKSDA

BKSDA
Caption: Evakuasi ular oleh petugas Damkar Kabupaten Kediri. Doc: Satpol PP Kabupaten Kediri

Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, melalui Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) mencatat peningkatan laporan warga terkait kemunculan ular di area permukiman pada awal tahun 2026.

Sepanjang Februari hingga awal Maret 2026, petugas telah mengevakuasi sedikitnya 24 ekor ular dari berbagai lokasi.

Bacaan Lainnya

Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satriyo, menyebut fenomena tersebut menjadi tren musiman yang kerap terjadi saat musim penghujan.

“Kalau di Damkar itu ada tren ya istilahnya. Kalau di musim penghujan seperti ini kita memang banyak mengevakuasi ular, tawon vespa, dan biawak. Dan ular hari ini memang cukup sering ditemukan,” jelas Kaleb kepada Metaranews, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, ular-ular tersebut kerap masuk ke kandang ayam atau tempat-tempat yang hangat di sekitar lingkungan warga. Tak sedikit pula ular yang diamankan berukuran besar, sehingga membuat warga khawatir.

“Yang banyak ular ini ke kandang ayam, atau ke lokasi yang memang hangat di lingkungan warga,” tambahnya.

Kaleb menjelaskan, ular yang berhasil ditangkap biasanya ditampung sementara oleh petugas.

Untuk jenis ular berbisa maupun ular sawah, pihaknya akan melepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari permukiman. Sementara untuk jenis ular sanca atau piton, biasanya diambil oleh komunitas pecinta reptil.

“Untuk ular yang sudah kita tangkap biasanya kita tampung. Kalau ularnya berbisa atau ular sawah biasanya kita lepas ke habitatnya, tapi kalau untuk ular sanca atau piton biasanya diambil pecinta reptil,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Resort Konservasi Wilayah 01 BKSDA Kediri (Seksi Konservasi Wilayah I Kediri), Dafid Fathur Rohman, menyampaikan bahwa periode saat ini memang merupakan fase banyaknya telur ular menetas.

“Hari ini memang sudah fasenya ular ini banyak yang menetas di hari-hari ini,” ujarnya.

Dafid menegaskan, keberadaan ular tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sekitar manusia karena habitatnya memang berdampingan dengan aktivitas warga. Namun demikian, masyarakat diimbau untuk tidak membunuh satwa tersebut.

“Memang ular ini mau tidak mau habitatnya ada di sekitar kita. Warga sebisanya menghalaunya, namun jangan membunuhnya karena mereka itu salah satu penyeimbang ekosistem yang ada,” jelasnya.

Secara ilmiah, keberadaan ular memang memiliki peran penting dalam rantai makanan.

Berdasarkan penjelasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ular berfungsi sebagai predator alami yang membantu mengendalikan populasi hama seperti tikus, yang kerap merusak lahan pertanian dan menjadi vektor penyakit.

Tanpa predator alami, keseimbangan ekosistem bisa terganggu.

“Kami dari Balai Konservasi tidak menyarankan untuk membinasakan karena satwa tersebut memiliki fungsi penyeimbang ekosistem,” katanya.

Di sisi lain, data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa gigitan ular berbisa masih menjadi persoalan kesehatan global, terutama di wilayah tropis dan pedesaan.

Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada, tidak melakukan penanganan sendiri jika tidak memiliki keahlian, serta segera menghubungi petugas berwenang apabila menemukan ular di lingkungan tempat tinggal.

“Dengan meningkatnya temuan ular di musim penghujan ini, warga Kabupaten Kediri diharapkan tetap tenang, tidak panik, serta mengedepankan langkah aman dan bijak dalam menyikapi kemunculan satwa liar tersebut,” pungkas Dafid

Pos terkait