‎Dari Aspal Baru ke Kopi Senja, Mengintip Ramainya Jalur Lintas Santren Kediri

‎Metaranews.co, Kota Kediri – Senja perlahan turun di hamparan persawahan Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

‎Angin sore berembus pelan, membawa aroma kopi yang mengepul dari cangkir-cangkir sederhana di pinggir jalan.

Bacaan Lainnya

Di momen itulah, budaya ngopi sore—atau yang kini akrab disebut kopi senja—menjadi denyut baru kehidupan di Jalur Lintas Santren (JLS).

Jalan yang membelah area persawahan ini belakangan menjelma ruang sosial alternatif bagi warga, khususnya anak muda. Pemandangan alam yang terbuka, cahaya redup matahari sore, dan suasana yang tenang menciptakan sensasi berbeda saat menikmati secangkir kopi.

Tak heran, jalur ini kini ramai dipadati pengunjung menjelang petang, sekaligus membawa berkah bagi para pedagang dadakan.

Kopi senja merujuk pada kebiasaan penjual dan penikmat kopi yang mulai berdatangan sejak pukul 15.00 WIB hingga selepas azan magrib.

Di sepanjang jalan, deretan sepeda motor yang dimodifikasi menjadi warung kopi mini berjajar rapi. Pada jok belakang motor, terpasang boks berisi peralatan sederhana—kompor kecil, teko, gelas, hingga aneka minuman dan camilan.

‎Pengunjung tak sekadar membeli kopi.

Mereka duduk santai di atas tikar atau kursi seadanya, berbincang, menikmati gorengan hangat, sambil menatap hamparan sawah yang mulai diselimuti warna jingga senja.

‎Salah satu penjual kopi senja, Yanuar Rizky, mengaku awal mula berjualan di JLS berangkat dari rasa penasaran setelah melihat konten viral di media sosial TikTok. Ia sempat berinteraksi di kolom komentar untuk menanyakan perizinan berjualan di lokasi tersebut.

“Awalnya saya komentar, nanya kalau jualan di sini perlu izin atau tidak. Lalu ada yang membalas agar menghubungi panitia,” ujar Yanuar.

‎Pria asal Desa Gurah, Kabupaten Kediri itu menyebut, kawasan JLS mulai ramai sekitar tiga minggu terakhir, setelah jalan tersebut selesai diaspal pada akhir Desember 2025. Sejak itu, JLS kian ramai dilalui dan dikunjungi warga, terutama mereka yang sekadar ingin nongkrong atau menikmati sore hari.

‎“Orang-orang menyebutnya Jalur Lintas Santren. Tempatnya enak buat nongkrong sambil menikmati suasana sore,” tuturnya.

Di lapaknya, Yanuar tak hanya menjual kopi. Ia juga menyediakan beragam minuman sachet seperti Pop Ice, Marimas, Nutrisari, hingga aneka gorengan dan nasi bungkus.

Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong—minuman dibanderol Rp3 ribu hingga Rp5 ribu, sementara gorengan mulai Rp2 ribu per biji.

Meski baru beberapa hari berjualan, Yanuar mengaku lapaknya tak pernah sepi. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, baik warga lokal maupun dari luar daerah. Puncak keramaian biasanya terjadi mulai pukul 16.00 WIB hingga menjelang magrib, terutama saat akhir pekan atau hari libur.

“Alhamdulillah, pengunjungnya ramai. Kalau hari biasa bisa habis sekitar 50 cup, kalau weekend bisa sampai 100 cup,” katanya.

Dengan penjualan tersebut, Yanuar mengaku bisa meraup penghasilan hingga Rp500 ribu per hari dari minuman saja, belum termasuk gorengan dan nasi bungkus. Bagi Yanuar, fenomena kopi senja di JLS bukan sekadar tren sesaat, melainkan peluang ekonomi yang nyata.

‎“Ini jadi berkah tersendiri buat saya. Bukan cuma saya, pedagang lain di sini juga ikut merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

‎Ia berharap, viralnya Jalur Lintas Santren dapat terus membawa dampak positif bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil yang menggantungkan harapan pada denyut senja di pinggir persawahan Kota Kediri.

Untuk diketahui tak hanya Yanuar di sekitaran JLS Kota Kediri kini banyak ditemukan pedagang kopi.

Pos terkait