Dari Langgar Angkring hingga Jam Istiwa’, Ini 7 Saksi Bisu Awal Berdirinya Ponpes Lirboyo

Ponpes Lirboyo
Caption: Gerbang lama di Serambi Masjid Lawang 9, Kamis (26/2/2026). Doc: Ubai/Metaranews.co

Metaranews.co, Kota Kediri – Berdiri sejak 1910 M, Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, menjelma menjadi salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.

Didirikan oleh KH Abdul Karim, pesantren ini bertumbuh dari bangunan-bangunan sederhana. Jejak fisik era awal itu kini justru menjadi saksi bisu perjalanan panjang pendidikan Islam di Kota Kediri.

Bacaan Lainnya

Di tengah arus modernisasi dan pembangunan fasilitas baru, sejumlah bangunan peninggalan masa perintisan tetap dirawat dan dipertahankan.

Bagi pengasuh pesantren, bangunan-bangunan tersebut bukan sekadar artefak lama, melainkan penanda sejarah dan ruh perjuangan.

Salah satu Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Oing Abdul Muid, menegaskan bahwa pelestarian bangunan lama bukan semata-mata mempertahankan fisik bangunan.

“Keberadaan bangunan lama di Pondok Pesantren Lirboyo dipertahankan bukan semata karena nilai fisiknya, melainkan karena nilai historis dan spiritual yang dikandungnya,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, bangunan-bangunan tersebut menjadi saksi perjuangan para masyayikh dalam merintis pesantren dengan penuh kesederhanaan.

“Bangunan tersebut menjadi saksi perjalanan para masyayikh dalam merintis pesantren dengan penuh kesederhanaan dan keikhlasan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pelestarian memiliki dimensi edukatif bagi para santri. Mereka tidak hanya menempati ruang belajar, tetapi juga dituntut memahami sejarah panjang di balik berdirinya pesantren.

“Upaya mempertahankannya merupakan bentuk napak tilas sejarah sekaligus media edukasi bagi santri, agar memahami bahwa pondok ini dibangun di atas fondasi perjuangan, kesahajaan, dan pengorbanan,” tuturnya.

Nilai kesederhanaan itu, lanjutnya, merupakan ruh yang harus terus hidup dalam diri setiap santri.

“Nilai kesederhanaan inilah yang diharapkan tetap tertanam dalam diri santri, baik selama di pesantren maupun ketika terjun ke masyarakat,” tambahnya.

Di sisi lain, pesantren tetap melakukan penyesuaian terhadap kebutuhan zaman. Pelestarian dilakukan secara selektif dan proporsional tanpa menghambat perkembangan lembaga.

“Pesantren melakukan pelestarian melalui pendekatan selektif dan proporsional. Beberapa bangunan tetap dijaga keaslian bentuknya sebagai representasi warisan sejarah,” jelasnya.

Renovasi tetap dilakukan pada bagian tertentu demi menunjang kenyamanan dan keberlangsungan pendidikan, dengan tetap berpijak pada arahan para masyayikh.

“Namun, pada bagian tertentu yang memerlukan pembaruan demi menunjang kenyamanan serta keberlangsungan proses ta’lim wa ta’allum, dilakukan renovasi dengan tetap mempertimbangkan arahan dan dawuh para masyayikh,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pelestarian dan perkembangan bukan dua hal yang saling bertentangan.

“Dengan demikian, pelestarian tidak menghambat perkembangan, melainkan berjalan selaras dengan kebutuhan zaman,” pungkasnya.

Berikut tujuh peninggalan masyayikh Lirboyo pada era awal pendirian pesantren:

  1. Langgar Angkring (1910), Mushala Pertama

Langgar Angkring menjadi titik mula berdirinya pesantren pada 1910. Bangunan kayu dan bambu yang sederhana itu merupakan mushala pertama tempat Mbah Manab – sapaan KH Abdul Karim – mengajarkan ilmu agama kepada santri dan masyarakat sekitar.

Dari ruang kecil itulah pengajian dimulai. Seiring bertambahnya jumlah santri, aktivitas keilmuan berkembang pesat hingga Lirboyo dikenal luas sebagai pusat pendidikan Islam tradisional berbasis kitab kuning.

Ponpes Lirboyo
Caption: Langgar Angkrim, musola pertama di era KH Abdul Karim Lirboyo yang kini direnovasi namun tetap mempertahankan struktur bangunan. Doc: Metaranews.co
  1. Pondok Lama, Asrama Santri Generasi Awal

Tak jauh dari masjid berdiri Pondok Lama, asrama pertama para santri. Bangunan berukuran sekitar 8 x 6 meter itu terdiri atas kamar-kamar kecil yang saling berhadapan.

Kesederhanaannya merekam kehidupan santri generasi awal: belajar dalam keterbatasan, tidur beralas tikar, serta hidup dalam disiplin dan kesahajaan. Hingga kini, Pondok Lama tetap berdiri sebagai simbol keteguhan tradisi.

Ponpes Lirboyo
Caption: Pondok lama di Kawasan Asrama Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Doc: Ubaidhillah/Metaranews.co
  1. Tembok Putih, Penanda Batas Lingkungan Pesantren

Tembok Putih menjadi penanda historis antara wilayah internal pesantren dan area luar. Pada masa awal, tembok ini bukan sekadar pembatas fisik, melainkan simbol pemisah antara lingkungan pendidikan dan kehidupan masyarakat umum.

Keberadaannya mencerminkan tata ruang pesantren tempo dulu yang menekankan adab, kerapian, dan kemandirian santri.

Ponpes Lirboyo
Caption: Tembok putih penanda pondok lama dan pondok baru. Doc: Metaranews.co
  1. Masjid Lawang Songo dan Gerbang Tua

Masjid Lawang Songo yang dibangun sekitar 1913 menjadi pusat ibadah sekaligus pengajian. Nama “Lawang Songo” berarti sembilan pintu, merujuk pada jumlah pintu utama masjid tersebut.

Gerbang tua menuju masjid masih dipertahankan hingga kini. Kayu-kayu tua dan desain klasiknya menjadi pengingat bahwa dari masjid inilah ribuan santri ditempa secara spiritual dan intelektual selama lebih dari satu abad.

Ponpes Lirboyo
Caption: Masjid Lawang 9 di Ponpes Lirboyo. Doc: Metaranews.co
  1. Sumur Pertama, Sumber Kehidupan Awal

Di bagian barat masjid terdapat sumur tua yang diyakini sebagai sumur pertama pesantren. Sumur ini menjadi sumber air utama bagi santri pada masa awal, digunakan untuk wudu, mandi, dan kebutuhan sehari-hari.

Airnya yang tetap jernih membuat sumur tersebut dijaga dan dipagari sebagai bagian dari peninggalan bersejarah.

Ponpes Lirboyo
Caption: Sumur pertama di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri. Doc: Metaranews.co
  1. Kuburan Dempul, Fragmen Sejarah Lirboyo

Kuburan Dempul berada di sekitar area pesantren dan kerap disebut dalam kisah awal berdirinya Lirboyo. Dalam narasi yang berkembang, lokasi ini memiliki latar historis tersendiri sebelum pesantren berdiri.

Meski bukan bagian inti kompleks pendidikan, keberadaannya menjadi fragmen penting dalam rangkaian sejarah dakwah di wilayah Lirboyo.

  1. Jam Istiwa’, Penentu Waktu Salat Tradisional
Ponpes Lirboyo
Caption: Santri menunjuk jam istiwa’ yang ada di dalam Masjid Lawang 9 Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Doc: Ubaidhillah/Metaranews.co

Di lingkungan Masjid Lawang Songo juga terdapat Jam Istiwa’, alat tradisional untuk menentukan waktu salat berdasarkan posisi matahari.

Sebelum teknologi modern digunakan, alat ini menjadi pedoman waktu bagi santri. Keberadaannya menegaskan bahwa tradisi keilmuan Islam di Lirboyo tidak hanya bertumpu pada kajian kitab, tetapi juga pada ketelitian dalam menentukan waktu ibadah.

Pos terkait