Drama 7 Gol di Brawijaya: Persik Tumbang 3-4 dari Bhayangkara FC, Marcos Reina Soroti Keputusan Wasit

Persik Kediri
Caption: Pertandingan Persik Kediri melawan Bhayangkara FC di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jumat (20/2/2026) malam. Doc: Persik Kediri

Metaranews.co, Kota Kediri – Persik Kediri harus menelan pil pahit pada pekan ke-19 Super League 2025/2026.

Menjamu Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Brawijaya, Jumat (20/2/2026) malam, Macan Putih kalah tipis 3-4 dalam laga dramatis yang dihiasi tujuh gol.

Bacaan Lainnya

Pertandingan yang diguyur hujan dan disaksikan 2.311 penonton itu berlangsung dalam tempo tinggi sejak menit awal.

Bhayangkara lebih dulu membuka keunggulan melalui Slavko Damjanovic pada menit ke-7.

Persik merespons cepat. Gol Adrian Nicolas Luna Retamar pada menit ke-13 dan Ady Eko Jayanto (21’) membalikkan keadaan. Tuan rumah sempat berada di atas angin.

Namun, Bhayangkara bangkit. I Putu Gede Juni Antara (31’) dan Nehar Sadiki (38’, 45+2’) membuat tim tamu kembali unggul sebelum turun minum.

Memasuki babak kedua, jual beli serangan tak terhindarkan. Jose Enrique Rodriguez sempat menghidupkan asa Persik lewat gol pada menit ke-51 dan 81’.

Akan tetapi, ketajaman lini depan Bhayangkara melalui Jean Marie Privat Befolo Mbarga (59’, 89’) serta Bernard Henri Cedric Doumbia (74’, 87’) memastikan tiga poin dibawa pulang tim tamu dari Kediri.

Pelatih Persik, Marcos Reina Torres, mengaku memiliki perasaan campur aduk seusai laga.

“Saya memiliki tiga perasaan malam ini. Pertama, saya bangga dengan cara tim memainkan bola, cara menyerang, bagaimana mereka berani membangun dari belakang, menutup permainan dan mencoba memenangkan pertandingan,” ujarnya.

“Kami lebih baik dari lawan dalam banyak momen,” lanjut Marcos.

Namun, ia tak menutupi kekecewaannya terhadap detail kecil yang berujung fatal.

“Ada dua hal yang tidak saya senangi. Kami tidak melindungi situasi yang sudah bagus. Kami tidak bisa memenangkan pertandingan dengan cara yang lebih tenang ketika laga menjadi sangat sulit. Hari ini kami memberikan pertandingan ini kepada Bhayangkara,” tegasnya.

Marcos juga secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan wasit, Yudi Nurcahya.

Ia menyoroti momen ketika Wahyu Subo Seto dinilai layak menerima kartu kuning kedua, serta insiden yang menurutnya pantas berbuah kartu merah di babak pertama.

“Seseorang harus menjelaskan kenapa tidak ada kartu kuning kedua untuk Subo Seto. Saya tidak paham. Juga tidak ada kartu merah di pertengahan babak pertama saat kami mencetak gol dari Kiko. Jika Indonesia ingin berkembang, situasi seperti ini tidak bisa terjadi,” tuturnya.

Menurut dia, keputusan tersebut berpotensi mengubah jalannya pertandingan secara signifikan.

“Jika itu kartu merah, saya yakin kami menang 100 persen. Jadi seseorang harus menjelaskan ini kepada saya,” sebut Marcos.

Di luar polemik tersebut, Marcos tetap menyoroti aspek teknis yang harus dibenahi timnya. Ia menegaskan kekalahan bukan disebabkan absennya satu pemain.

“Imanol adalah pemain yang sangat penting bagi kami. Tapi hari ini Adi memainkan posisi itu, dan dia melakukannya dengan bagus. Masalahnya bukan di situ. Tim sudah memainkan posisi dengan baik ketika menguasai bola,” jelasnya.

Fokus utama evaluasi, lanjut Marcos, adalah pertahanan kolektif, terutama dalam situasi bola mati dan duel di dalam kotak penalti.

“Kami harus bertahan lebih baik saat set-pieces. Kami harus lebih kuat di dalam kotak. Ini bukan soal satu gelandang, tapi seluruh tim. Kemenangan itu sebenarnya ada di sisi kami, tapi kami harus lebih baik dalam detail,” tutupnya.

Pos terkait