Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Tan Malaka Institute (TMI) Jawa Timur akan menggelar Haul ke-77 Tan Malaka pada Sabtu (13/2/2026) besok.
Kegiatan tersebut berlangsung di pusara Tan Malaka, Desa Selopagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Ketua TMI Jatim, Imam Mubarok, menegaskan kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas pemikiran dan perjuangan salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia.
“Haul ini dibuka untuk umum, dan haul ini penting untuk merawat ingatan kolektif bangsa,” ujar pria yang kerap disapa Gus Barok itu, Jumat (13/2/2026).
“Tan Malaka bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi juga seorang pemikir besar yang meletakkan dasar-dasar berpikir kritis bagi bangsa ini,” lanjutnya.
Menurut Gus Barok, haul bukan sekadar seremoni tahunan. Kegiatan ini disebutnya sebagai ruang untuk menghidupkan kembali gagasan dan keteladanan Tan Malaka sebagai negarawan dan pemikir revolusioner.
“Kita merayakan haul di pusara Tan sejak 2006, terhitung hingga hari ini sudah 20 kali. Ini bukan tanpa alasan, melainkan agar supaya generasi kita hari paham siapa sosok Tan Malaka ini, dan cara berpikirnya bisa menular di generasi kita hari ini,” katanya.
Ia menambahkan, generasi hari ini perlu mengetahui bahwa Tan Malaka merupakan salah satu tokoh yang secara konseptual telah menggagas bentuk negara republik jauh sebelum Proklamasi 1945.
Dalam berbagai tulisan dan perjuangannya, Tan Malaka konsisten mendorong Indonesia merdeka dalam bentuk republik yang berdaulat penuh di tangan rakyat.
Imam juga menyoroti salah satu warisan intelektual terbesar Tan Malaka, yakni buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Karya tersebut menekankan pentingnya cara berpikir ilmiah dan rasional dalam membangun bangsa.
“Madilog mengajarkan bangsa ini untuk tidak terjebak pada takhayul dan cara berpikir irasional. Tan ingin rakyat Indonesia menjadi bangsa yang berpikir ilmiah, kritis, dan merdeka secara mental,” tegasnya.
Haul ke-77 ini rencananya diisi dengan doa bersama, diskusi kebangsaan, serta pembacaan refleksi pemikiran Tan Malaka.
Sebagaimana diketahui, Tan Malaka wafat pada 21 Februari 1949 di wilayah Kediri dalam situasi revolusi yang penuh gejolak. Namanya kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1963.
“Bagi Tan Malaka Institute Jatim, haul ini bukan hanya mengenang sosok, tetapi juga meneguhkan kembali cita-cita republik yang berkeadilan, berdaulat, dan berpijak pada akal sehat – sebagaimana dicita-citakan Tan Malaka sejak awal abad ke-20,” pungkasnya.






