Jadi Wilayah Rawan Tsunami, TNI AL Gelar Latihan Penanggulangan Bencana di Pesisir Pantai Blitar

Blitar
Caption: Kepala Dinas Potensi Maritim TNI AL (Kadispotmaral), Laksma TNI Suradi Agung, saat meninjau alutsista penanggulangan bencana, Rabu (8/3/2023). Doc: Bahtiar/Metaranews.c

Metaranew.co , Kabupaten Blitar – TNI Angkatan Laut (AL) menggelar latihan penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami di Pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar, Rabu (8/3/2023).

Selain bertujuan meningkatkan kemampuan menghadapi bencana, pelatihan yang diikuti oleh ratusan personel dari berbagai instansi terkait itu juga dimaksudkan untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat pada potensi bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Potensi Maritim TNI AL (Kadispotmaral), Laksma TNI Suradi Agung mengatakan, pelatihan ini dilaksanakan di Pantai Tambakrejo yang merupakan salah satu titik rawan bencana tsunami.

“Di selatan Blitar, sesuai data BMKG, terdapat potensi gempa yang dapat memicu tsunami. Ini salah satu alasan memilih lokasi di sini,” ujar Suradi usai memimpin upacara pembukaan pelatihan di area pos TNI AL di Tambakrejo, Rabu (8/3/2023).

Acara pembukaan pelatihan juga dihadiri Kasubdis Bakti TNI AL Kolonel MAR Budi Santosa, Danlanal Malang Kolonel Laut Dewi Lestari, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar Ivong Bettryanto, dan lainnya.

Menurut Suradi, pelatihan penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami oleh TNI AL ini juga akan digelar di Bali dan Cilacap yang berada di wilayah kerja Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar dan Lanal Cilacap.

Sementara Pantai Tambakrejo di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, berada di bawah Lanal Malang.

“Program latihan digelar rutin karena memang tujuannya untuk meningkatkan kesiapan personel TNI AL, personel instansi terkait di daerah dalam menghadapi bencana,” ujar Suradi.

Tidak kalah penting, lanjut Suradi, adalah meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat pada potensi bencana tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa.

Selama program pelatihan, tambah Suradi, masyarakat yang tinggal di kawasan pantai selatan Blitar juga akan dilibatkan dalam simulasi menghadapi bencana tsunami.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPBD Kabupaten Blitar Ivong Bettryanto mengatakan, terdapat antara 700 hingga 1.000 keluarga di Kabupaten Blitar yang tinggal di zona rawan tsunami.

Mereka, kata Ivong, tinggal di wilayah dari empat kecamatan yang berbeda-beda, yakni Kecamatan Wonotirto, Panggungrejo, Bakung, dan Wates.

“Penting sekali bagi kita untuk terus melakukan pelatihan menghadapi bencana tsunami dan kampanye kesadaran masyarakat akan potensi bencana yang selalu mengintai,” ujar Ivong.

Karenanya, tambah Ivong, Pemerintah Kabupaten Blitar menyambut baik dan mendukung program pelatihan yang digelar TNI AL di Pantai Tambakrejo.

Terkait adanya potensi gempa megathrust yang diikuti oleh tsunami di pantai selatan Blitar, Ivong mengatakan pihaknya telah secara rutin menggelar simulasi evakuasi warga.

“Kita selalu siapkan dan jaga jalur-jalur evakuasi ke titik kumpul di bukit yang berjarak sekitar satu kilometer dari garis pantai,” ujarnya.

Ivong menyinggung skema 20-20-20 dalam menghadapi bencana tsunami, yaitu jika terjadi gempa selama minimal 20 detik, maka terdapat 20 menit untuk evaluasi dan penyelamatan di ketinggian 20 meter di atas permukaan laut.

Dalam kunjungannya ke Blitar tahun lalu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, jika terjadi gempa megathrust di selatan Blitar maka Pantai Tambakrejo dan sekitarnya akan menjadi wilayah yang paling awal diterjang ombak tsunami.

Menurut Dwikorita, setelah adanya peringatan dini tsunami tersisa waktu kurang dari 20 menit bagi warga di kawasan pantai untuk menyelamatkan diri ke dataran tinggi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *