Jembatan Lama Kota Kediri Perlu Segera Direstorasi

Kediri
Caption: Jembatan Lama Kota Kediri. Doc: Metaranews.co

Metaranews.co, Kota Kediri – Jembatan Lama Kota Kediri yang menjadi ikon sejarah sekaligus penghubung utama wilayah barat dan timur Kota Kediri dinilai sudah saatnya direstorasi menyeluruh.

Infrastruktur yang kini berstatus cagar budaya peringkat nasional tersebut tercatat belum mendapatkan revitalisasi besar selama sekitar 50 tahun terakhir.

Bacaan Lainnya

Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur sekaligus peneliti dan Ketua Juru Wotan Jembatan Lama Kota Kediri, Imam Mubarok, mengatakan pemeliharaan besar terakhir terhadap jembatan dilakukan pada 1976.

Dengan rentang waktu perawatan yang kini telah mencapai setengah abad, kondisi jembatan dinilai membutuhkan perhatian serius agar tetap terjaga keberlanjutannya.

“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata pria yang akrab disapa Gus Barok itu.

Ia menegaskan, proses restorasi tidak dapat dilakukan sembarangan.

Seluruh tahapan harus melalui koordinasi dengan Kementerian Kebudayaan serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat status Jembatan Lama sebagai cagar budaya peringkat nasional.

“Pemeliharaan tidak bisa dilakukan sembarangan. Semua tahapan harus melalui konsultasi agar nilai historis dan keaslian konstruksi tetap terjaga,” ujarnya.

Gus Barok menjelaskan, berbagai fakta sejarah terkait pembangunan Jembatan Lama Kota Kediri diperolehnya dari sejumlah sumber primer.

Salah satunya literatur Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Penelusuran arsip tersebut juga dibantu oleh Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda.

Menurut Gus Barok, sejak awal keberadaannya jembatan tersebut memiliki peran strategis sebagai penghubung utama transportasi darat.

“Pada masa lalu, jembatan ini bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya, sehingga memiliki nilai penting dalam sejarah konektivitas kawasan,” jelasnya.

Ia juga memaparkan dimensi fisik jembatan yang hingga kini masih bertahan.

“Jembatan Lama Kediri memiliki panjang sekitar 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi sekitar 7,50 meter dari permukaan Sungai Brantas,” bebernya.

Menurut Gus Barok, status Jembatan Lama Kota Kediri sebagai cagar budaya ditetapkan pada 2019 setelah melalui kajian Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Penetapan sebagai cagar budaya dilakukan pada 12 Maret 2019, dan diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya,” ungkapnya.

Dari sisi sejarah teknik, Gus Barok menyebut jembatan tersebut merupakan karya insinyur Belanda, Sytze Westerbaan Muurling.

“Jembatan ini dirancang oleh insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling yang menyelesaikan pendidikan teknik sipil di Royal Academy Delft sebelum bertugas di Hindia Belanda,” paparnya.

Ia juga mengungkap ketangguhan konstruksi jembatan yang telah melewati berbagai peristiwa besar.

“Jembatan ini beberapa kali diterjang banjir Sungai Brantas, termasuk banjir besar pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utamanya tetap kokoh dan tidak bergeser,” sebutnya.

Selain itu, jembatan tersebut pernah menjadi bagian dari perayaan Kerajaan Belanda saat pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Bernhard pada 1937.

“Pada masa itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung sebagai bagian dari perayaan,” ungkapnya.

Gus Barok juga menjelaskan peninggian konstruksi jembatan pernah dilakukan setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901.

“Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912 untuk menyesuaikan kondisi aliran Sungai Brantas,” jelasnya.

Bahkan pada masa perang kemerdekaan, lanjut dia, jembatan ini sempat direncanakan untuk diledakkan oleh tentara Jepang.

“Rencana tersebut berhasil digagalkan, sehingga jembatan tetap berdiri dan berfungsi hingga sekarang,” ucapnya.

Ia turut memaparkan kronologi pembangunan jembatan yang dimulai sejak pertengahan abad ke-19.

“Rencana pembangunan diputuskan pemerintah Hindia Belanda pada 16 Mei 1854. Setelah melalui berbagai kendala teknis dan kegagalan tender, pembangunan jembatan besi dimulai pada 18 September 1865 dan akhirnya selesai pada 11 Maret 1869 sebelum dibuka untuk umum pada 18 Maret 1869,” tandasnya.

Dengan usia lebih dari satu abad dan peran strategisnya dalam sejarah transportasi di Kota Kediri, Jembatan Lama dinilai bukan sekadar sarana penghubung.

Infrastruktur tersebut juga menjadi simbol perjalanan sejarah kota yang perlu dijaga keberlanjutannya melalui restorasi yang tepat.

Pos terkait