Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali terjadi.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar, meminta masyarakat tidak memperkeruh situasi, dan tetap menjunjung tinggi sikap saling menghargai.
Menurut Gus Kautsar, perbedaan waktu lebaran dipicu oleh penggunaan metode penentuan awal bulan yang tidak sama.
Sebagian pihak menggunakan rukyatul hilal (melihat hilal secara langsung), sementara lainnya memakai metode hisab (perhitungan astronomi).
Ia menegaskan, penggunaan metode hisab di Ponpes Al-Falah bukan hal baru, melainkan telah menjadi tradisi panjang yang diwariskan para ulama terdahulu.
“Memang dari dulu para masyayikh kita, guru-guru kita, mereka memang menggunakan, melakukan penanggalan dan lain sebagainya, itu menggunakan metodologi penghitungan hisab. Dan itulah kita alami sejak lama,” ungkap sosok ulama yang akrab disapa Gus Kautsar tersebut, Jumat (20/3/2026).
Sebelumnya, pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Menanggapi perbedaan tersebut, Gus Kautsar menilai kondisi ini sebagai hal yang lumrah dan tidak perlu diperdebatkan secara berlarut-larut.
“Perbedaan awal Ramadan kemudian lebaran itu adalah sesuatu yang sudah lumrah dan sering kita alami sebetulnya, dan memang para pendahulu kita, menganggap bahwa perbedaan-perbedaan yang ada menunjukkan keluwesan keilmuan kita,” tambahnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tetap menjaga keharmonisan di tengah perbedaan yang ada. Menurutnya, Idulfitri seharusnya menjadi momentum mempererat ukhuwah, bukan justru memicu perpecahan.






