Mengunjungi Masjid Lawang Songo di Ponpes Lirboyo Kediri

Masjid Lawang Songo
Caption: Suasana Masjid Lawang Songo di Ponpes Lirboyo Kediri, Jumat (22/3/2024). Doc: Anis/Metaranews.co

Metaranews.co, Kota Kediri – Meski sudah berusia tua, sebuah masjid di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kota Kediri, Jawa Timur, masih terjaga keasliannya.

Masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Lawang Songo itu bangunan aslinya masih tampak, meski sudah berusia 113 tahun.

Bacaan Lainnya

Masjid Lawang Songo ini terletak di tengah-tengah kawasan Ponpes Lirboyo, di antara rumah atau ndalem para pengasuhnya di Jalan KH Abdul Karim Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Bangunan ibadah itu dibangun pada tahun 1913 masehi, atau tiga tahun setelah Ponpes Lirboyo berdiri. Masjid Lawang Songo didirikan oleh KH Abdul Karim, atas inisiatif dari mertuanya KH Sholeh Banjarmelati.

Salah seorang Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Oing Abdul Muid Shohib mengatakan, Masjid Lawang Songo hingga kini masih dijaga keasliannya, untuk mengingat jejak peninggalan pendiri Ponpes Lirboyo yakni KH Abdul Karim.

“Masjid Lawang Songo itu didirikan tiga tahun setelah Pondok Pesantren Lirboyo, dan kemudian masjid itu berdiri sampai sekarang,” kata pria yang akrab disapa Gus Muid itu, Jumat (22/3/2024).

Gus Muid menyampaikan, tidak hanya sebagai tempat berjemaah, masjid tersebut dahulunya juga digunakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan awal para santri.

Masjid Lawang Songo itu lantas diperluas seiring bertambahnya jumlah para santri. Perluasan tersebut selesai pada tahun 1928.

“Pada tahun itulah kemudian diresmikan,” jelasnya.

Menurut Gus Muid, semula masjid ini sangat sederhana, dengan dinding dan atapnya terbuat dari kayu.

Sempat dimakan usia dan kerap tertiup angin kencang, Masjid Lawang Songo ini kemudian dibangunkan secara permanen.

Filosofi Masjid Lawang Songo

Masjid Lawang Songo ini sarat filosofi dari segi nama dan bangunannya. Gus Muid menyebut bangunan masjid konon meniru desain dari Timur Tengah.

Meski ada sentuhan Timur Tengah, bangunan masjid itu juga tampak bergaya klasik, dengan gabungan arsitektur Jawa kuno.

Adapun nama Masjid Lawang Songo itu juga berarti lawang dalam bahasa Jawa, atau pintu yang berjumlah sembilan.

Memang ada sembilan pintu yang ada di masjid ini, masing-masing tiga berada di samping kanan dan kiri, kemudian tiga pintu depan menghadap imam.

Gus Muid mengaku tidak mengetahui kenapa masjid ini didesain memiliki sembilan pintu.

Ia menduga sembilan pintu itu bermakna bisyaroh atau perlambangan janji Allah, dan menjadi penyemangat kaum muslimin selama berabad-abad lamanya.

“Tapi kalau diartikan sendiri, ya angka Sembilan ini kan angka yang unik bagi NU. Sembilan itu sebagai bisyarohm kurang lebih seperti itu,” tuturnya.

Diyakini Sebagai ‘Pintu Ilmu’

Masih di pelataran kawasan Masjid Lawang Songo, terdapat juga sebuah pintu kuno yang diyakini sebagian santri merupakan pintu ilmu.

Pintu kuno berukuran empat meter melintang ke utara dan selatan ini masih kokoh berdiri dengan penyangga bangunan batu bata, dengan sejumlah atap genteng di atasnya.

Pintu itu memiliki ketinggian tak sampai dari dua meter.

Gus Muid menyebut, kalau pintu kuno tersebut dahulunya merupakan pintu rumah dari kediaman KH Abdul Karim.

“Karena ada perluasan, yang kita sisakan ya pintunya itu sebagai kenang-kenangan dari Mbah KH Abdul Karim” katanya.

Tak pelak, dengan masih terawatnya pintu itu banyak keyakinan yang timbul dari para santri, kalau melewatinya akan mendapatkan ilmu dari KH Abdul Karim.

“Mungkin tafa’ul sebagian besar menganggap supaya tertular dari masuknya KH Abdul Karim melalui pintu itu, siapa tahu bisa masuk pula ilmunya KH Abdul Karim terdahulu,” pungkasnya.

Pos terkait