Nasib Tragis Situs Tunglur Kediri yang Tenggelam Tiap Musim Penghujan

Situs Tunglur
Caption: Kondisi Situs Tunglur yang tenggelam akibat luapan air dari mata air yang berada di bawah bangunan. Doc: Metaranews.co

Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Di Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, banyak ditemukan jejak peninggalan sejarah.

Salah satunya ialah Situs Tunglur, yang berupa bangunan kuno seperti altar pemujaan, yang diduga ada sejak era Hindu pada masa Kerajaan Kadiri pada abad ke XII.

Bacaan Lainnya

Situs Tunglur sendiri pertama kali ditemukan oleh warga yang hendak membangun kolam ikan di lahannya.

Penemuan itu kemudian dieksvakasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, saat ini bernama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, pada tahun 2014 silam.

Namun sayang, kondisi Situs Tunglur saat ini tak lagi sama, dan cukup memprihatinkan.

Berdasarkan pantauan Metaranews.co, Jumat (28/4/2023) lalu, tampak hampir seluruh bangunan di Situs Tunglur tenggelam di dalam air.

Romli (54), juru pemelihara sekaligus pemilik lahan menduga luapan air tersebut berasal dari mata air yang berada tepat di bawah bangunan.

“Dulu awal penemuan tidak ada (luapan) airnya. Terus sekarang kalau musim hujan air sering naik, kadang sampai benar-benar menenggelamkan kontruksi (bangunan) di situs ini,” ujar Romli kepada Metaranews.co, Jumat (28/04/2023).

Lebih lanjut, Romli menyebutkan bila mana musim kemarau tiba, air akan kembali surut dan pengunjung bisa mendekat pada bangunan bersejarah itu.

“Biasanya kalau musim kemarau, anak-anak sekolah bisa belajar di bawah sana, dekat dengan bangunannya,” sebut Romli.

Selama ini, lanjut Romli, beberapa orang mempercayai bahwa air dari Situs Tunglur bernilai suci, dan bisa menjadi media penyembuhan.

Hal itu terkadang membuat beberapa pengunjung ikut membilas tubuh di sana.

“Banyak orang datang kesini, termasuk orang Hindu atau dukun, itu banyak melakukan ritual di sini. Sampai saya siapkan kain sarung misal mereka mau mandi di bawah,” ungkapnya.

Respon Disbudpar

Terpisah, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Periwisata (Disbudpar) Kabupaten Kediri, Eko Priatno, angkat bicara mengenai kondisi Situs Tunglur saat ini.

Menurut Eko, tak hanya Situs Tunglur saja, namun bangunan situs peninggalan Kerajaan Kadiri banyak yang memiliki permasalahan yang sama, yakni meluapnya air dari dalam tanah.

Eko menjelaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri saat ini juga tengah mengupayakan konservasi lanjutan terhadap situs-situs yang ada di Kabupaten Kediri, tak terkecuali Situs Tunglur.

Untuk itu, kata Eko, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Borobudur dan BPK Wilayah XI Jawa Timur terkait pengadaaan alat dan bahan pelapis yang kedap air.

“Ini memang ada alat dan bahan khusus supaya tanah bisa menahan air. Tapi ada kendalanya juga,” tutur Eko.

Kendala yang dimaksud Eko ialah penggunaan bahan pelapis belum bisa secara efektif menahan tanah dalam jangka waktu yang lama.

Menurutnya, bahan pelapis khusus itu hanya bisa menahan air selama satu hingga dua tahun saja. Selebihnya tanah akan kembali jebol, sebab tekanan air di sekitarnya belum mampu untuk menahan.

Di samping itu, pengadaan alat dan bahan pelapis tersebut juga memakan biaya yang sangat besar.

“Nah ini memang, nyuwun sewu, masih jadi PR besar kita untuk menangani situs-situs sejarah di Kediri. tapi kami masih terus mengusahakan teknis yang tepat itu harus bagaimana,” ungkap Eko.

“Besok masih trial error ini. Setelah musim penghujan habis, nanti akhir tahun kita coba rabat tanah di sekitarnya. Kemudian kita coba lapisi itu dulu. Nanti kita juga lihat, itu akan jebol apa tidak. Ya, semoga tetap aman-aman saja,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *