Patung Macan Putih “Gemoy” Jadi Magnet Wisata Baru di Kabupaten Kediri

Kediri
Caption: Warga berswafoto di depan patung macan putih yang viral di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Selasa (6/1/2026). Doc: Metaranews.co/Darman

Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Patung macan putih yang berada di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mendadak viral di media sosial.

Patung yang memiliki bentuk unik dan dinilai “gemoy” atau kurang proporsional dari ekspektasi sebagian masyarakat itu menarik perhatian publik.

Bacaan Lainnya

Sejak viral, setiap hari warga dari berbagai daerah berdatangan untuk melihat langsung wujud patung tersebut.

Ramainya pengunjung membawa dampak positif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di desa setempat.

Sejumlah pedagang mengaku penjualan mereka meningkat drastis, terutama produk suvenir bertema macan putih “gemoy”, seperti kaus, gantungan kunci, dan stiker.

Salah satu pedagang suvenir menyebut lonjakan penjualan sudah dirasakan sejak tiga hari terakhir.

“Setiap hari kaus saya lalu antara 20 kaus, kalau akhir pekan bisa sampai 50 kaus lebih. Harga jual antara Rp50.000 sampai Rp75.000 tergantung ukuran,” ujar Sunar Widianingrum, salah satu pelaku UMKM saat ditemui di lokasi, Selasa (6/1/2026).

“Kehadiran patung macan putih gemoy ini sangat membantu UMKM desa,” lanjutnya.

Sementara itu, Eko Bagusrama, pengunjung asal Surabaya, menilai patung macan putih tersebut memiliki daya tarik tersendiri.

“Unik dan beda dari patung macan yang lain. Sayang kalau dibongkar. Dengan adanya patung ini, pedagang di sini jadi hidup dan bisa menarik pengunjung dari luar daerah,” katanya.

Patung macan putih tersebut awalnya dibangun sebagai upaya menghidupkan kembali legenda desa sekaligus menjadi ikon Desa Balongjeruk.

Namun, hasil akhirnya justru viral karena bentuknya yang dinilai berbeda dari patung macan pada umumnya.

Suwari, pembuat patung macan putih, menjelaskan bahwa konsep patung memang dibuat ramah dan menyenangkan, terutama bagi anak-anak.

Seluruh biaya pembuatan patung tersebut dibiayai secara pribadi oleh kepala desa setempat.

“Dari awal konsepnya seperti macan pada umumnya, namun hasilnya tidak terduga, terlihat lucu dan tidak menakutkan. Supaya anak-anak senang dan orang tertarik datang ke sini,” jelas Suwari.

Ia menambahkan bahwa proses pembuatan patung dilakukan dengan keterbatasan waktu dan biaya, namun tetap mengutamakan niat untuk memberikan ikon bagi desa.

Warga berharap patung tersebut tidak diganti, dan kawasan itu dapat terus berkembang sebagai wisata lokal Desa Balongjeruk.

Pos terkait