Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Warga Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dalam tiga bulan terakhir dilanda keresahan akibat dugaan pencemaran sumur oleh limbah dari proses pengolahan tebu milik sebuah pabrik gula.
Diduga kuat, pencemaran ini menyebabkan air sumur warga berubah warna menjadi kuning keruh, berminyak, dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Munaim, salah seorang warga Plosolor, mengungkapkan bahwa sejumlah sumur warga di sekitar area tersebut diduga telah terkontaminasi limbah.
“Dugaanya dari limbah pabrik gula, yang membuang limbah di HGU di sini,” jelasnya, Sabtu (5/4/2025).
Menurut Munaim, masalah pencemaran ini mulai dirasakan sejak awal tahun 2025, dan terus berlanjut hingga saat ini.
“Pertengahan tahun 2024 pabrik gula menaruh limbah di kawasan HGU di dekat sini, dulu belum hujan tidak ada efek, setelah hujan ini sumur-sumur mulai tercemar,” tuturnya.
Dampak dari pencemaran ini sangat dirasakan oleh keluarga Munaim. Mereka terpaksa membeli air galon untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
“Untuk memasak kita beli galon, kalau mandi kita ambil air dari sumur yang belum terkontaminasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Munaim mengatakan bahwa warga yang terdampak telah melaporkan kejadian ini kepada Pemerintah Desa Plosolor. Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai nasib warga yang sumurnya tercemar.
“Laporan sudah, ke desa hingga kecamatan, namun hingga hari ini belum menemukan titik terang,” keluhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Plosolor, Pujiyono, membenarkan adanya laporan dari warga terkait dugaan pencemaran sumur ini. Pihak desa, lanjutnya, telah berupaya menindaklanjuti laporan tersebut ke tingkat kecamatan.
Bahkan, kata Pujiyono, permasalahan ini beberapa kali sudah dicek oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri.
“Hasil lab-nya dari dinas kesehatan menyebut kalau air tidak layak konsumsi, dan untuk dinas lingkungan hidup belum jelas hasilnya,” ujar Pujiyono.
Menurut Pujiyono, saat ini pihaknya sedang berupaya untuk melakukan audiensi dengan pihak Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru guna membahas permasalahan ini.
“Masih mengajukan audiensi, namun belum direspon,” tutupnya.