Metaranews.co, Kabupaten Nganjuk – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur membekali lebih dari seribu santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Kamis (29/1/2026).
Ribuan santri tersebut diproyeksikan menjadi juru dakwah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Pembekalan tersebut digelar di lingkungan Ponpes Al Ubaidah, dengan materi utama penguatan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama.
Kegiatan ini difokuskan pada upaya menangkal berkembangnya paham radikalisme dan intoleransi beragama di tengah masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi II Bidang Intelijen Kejati Jatim, Dwi Setyadi, didampingi Analis Data dan Informasi Bidang Intelijen, Abdullah, beserta jajaran.
Dalam pemaparannya, Abdullah menegaskan bahwa santri memiliki posisi strategis sebagai agen toleransi dan perekat persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Ia mengingatkan agar para santri senantiasa berpegang pada prinsip khoirun nas anfauhum linnas dalam kehidupan bermasyarakat.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Nilai inilah yang harus dipegang santri ketika terjun dan mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Abdullah berharap para santri mampu menyampaikan syiar Islam secara bijak, menyejukkan, serta tetap menghargai kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan akidah dan norma yang berlaku.
Menurutnya, sikap saling menghormati menjadi kunci utama dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat majemuk.
Di hadapan 1.066 santri, Abdullah juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang dibangun oleh seluruh elemen bangsa, bukan milik satu golongan atau agama tertentu.
Pemahaman tersebut dinilai penting untuk mencegah tumbuhnya sikap eksklusif yang dapat bermuara pada radikalisme.
“Indonesia ini negara beragama, bukan hanya milik umat Islam, tetapi negara bersama yang diperjuangkan oleh semua elemen sejak sebelum kemerdekaan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, radikalisme berakar dari sikap eksklusif yang menganggap diri atau kelompoknya paling benar.
Oleh karena itu, santri diharapkan tampil sebagai garda terdepan dalam merawat kebhinekaan serta memperkuat persatuan bangsa.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi, menegaskan bahwa penguatan nilai kebangsaan menjadi prioritas utama dalam “8 bidang pengabdian LDII untuk bangsa”.
“Kebangsaan menjadi yang pertama dan utama. Kita hidup di negara yang sangat majemuk, sehingga nilai-nilai kebangsaan harus terus dijaga,” jelas Amrodji.
Amrodji menyampaikan, DPW LDII Jawa Timur secara aktif mendorong seluruh pondok pesantren di bawah naungan LDII serta DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk memberikan edukasi kebangsaan kepada santri dan warga LDII, termasuk melalui masjid dan musala.
Edukasi tersebut menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama.
Menurutnya, moderasi beragama harus ditanamkan sejak dini, terutama kepada generasi muda yang memiliki peran strategis sebagai agen perubahan.
“Pemuda adalah agent of change. Kita berharap mereka mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan, pembinaan dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak.
Selain Kejati Jawa Timur, LDII Jatim juga menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama, TNI, dan Polri untuk memperkuat wawasan kebangsaan para santri.
“Ini bagian dari ikhtiar kami agar para santri dan warga LDII memiliki pemahaman yang utuh tentang kebangsaan dan toleransi,” paparnya.
Di sisi lain, Pengasuh Ponpes Al Ubaidah Kertosono, Habib Ubaidillah Al Hasany, menyampaikan bahwa Ponpes Al Ubaidah merupakan pusat pelatihan dai dan daiyah sebelum diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Oleh karena itu, pihaknya membuka kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Para santri yang dididik di sini nantinya akan disebar ke berbagai wilayah, dan harus siap menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks,” ucapnya.
Menurutnya, tantangan tersebut antara lain munculnya pandangan yang ingin mengubah dasar dan tatanan kehidupan berbangsa yang telah disepakati para pendiri bangsa.
Ia menegaskan bahwa nilai kebersamaan, persatuan, dan kerja sama merupakan fondasi utama bangsa Indonesia.
“Nilai-nilai itulah yang harus diwariskan kepada generasi penerus, termasuk para santri sebagai bekal saat membina umat di tengah masyarakat,” pungkasnya.






