Imlek Identik dengan Hujan, Begini Penjelasan BMKG

Imlek
ilustrasi untuk hujan saat Imlek (Freepik)

Metaranews.co, News – Perayaan Imlek selalu diidentikan dengan hujan. Tak jarang hujan ketika imlek dinilai sebagai bentuk hoki atau keberuntungan.

Padahal, hujan yang terjadi saat Imlek bukan karena fkator Hoki. Hal ini tersebut lantaran ketika Tahun Baru Imlek bertepatan dengan jadwal musim hujan etrutama bagian barat Indonesia.

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui, kepercayaan masyarakat Tionghoa mengungkap hujan di hari raya Imlek menjadi penanda kemakmuran di sepanjang tahun.

“Setiap hujan di awal tahun (baru China) diartikan sebagai sinyal ekonomi bagus di tahun tersebut,” ujar pakar feng shui Yulius Fang.

Hal ini terkait dengan sejarah ribuan tahun masyarakat China yang mayoritasnya petani. Tahun Baru Imlek merupakan awal musim semi. Momen ini menjadi saat petani bersyukur karena mampu melalui musim dingin.

Kaum petani yakin, jika hujan turun, maka tandanya kemakmuran panen bisa didapat setahun ke depan.

Rizky Wardani, dosen Bahasa Mandarin di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menjelaskan hujan dalam bahasa Mandarin disebut ‘yu’. Pelafalannya mirip dengan ‘yu’ yang berarti surplus, kenaikan.

Namun, katanya, kepercayaan hujan membawa berkah atau tidak kembali pada keyakinan masing-masing orang.

“Banyak orang memang yang meyakini bahwa hujan sebagai pertanda keberuntungan pada tahun mendatang. Tapi kan kita tahu masyarakat Tionghoa itu cekatan dan kerja keras, sehingga jika mau berusaha ya pasti mendatangkan rezeki,” kata dia.

Terkait hal tersebut, BMKG memberikan penejelasan. Agie Wandala Putra, Ketua Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan Imlek yang jatuh pada Februari bertepatan dengan salah satu momen puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia.

“Kenapa pada saat Imlek terus hujan. Kapan, Pak? Februari. Kalau case di kita, [Februari] hujan, Pak,” ungkap dia, saat ditemui di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akhir Januari.

“Kalau bapak balik, misalnya, di Ambon, kebalikan, Pak, malah kering. Bukan berarti kurang rejeki dong ya,” selorohnya.

Agie menyebut memang ada kaitan momen Imlek dengan periode aktifnya sejumlah fenomena atmosfer yang mendukung turunnya hujan di Indonesia.

“Memang ada konektivitas, secara langsung, enggak langsung, tapi ketika periode saat ini memang kebetulan Monsun Asia aktif, gelombang tropisnya aktif, dan sebagainya. Ini memang periode hujan dengan massa air besar,” lanjutnya.

 

Pos terkait