Metaranews.co, Kabupaten Jombang – Kesenjangan kemampuan akademik masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan, ada siswa kelas X SMA di Sekolah Rakyat yang belum bisa membaca ketika pertama kali masuk sekolah.
Fakta tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Ipul itu saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang di Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026).
Gus Ipul menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian sudah mempunyai kemampuan akademik yang baik, tetapi sebagian lainnya membutuhkan pendampingan khusus untuk mengejar ketertinggalan belajar.
“Ada yang sudah bisa membaca dengan baik, tetapi ada juga yang kelas X SMA belum bisa membaca,” ungkap Gus Ipul.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi siswa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Sejumlah siswa diketahui pernah mengalami putus sekolah selama satu hingga dua tahun. Bahkan, ada yang menjadi korban kekerasan maupun terpaksa bekerja di tempat yang tidak semestinya.
Situasi tersebut membuat Sekolah Rakyat harus menjalankan fungsi lebih luas daripada sekadar memberikan pendidikan formal. Pendampingan sosial dan rehabilitasi menjadi bagian penting untuk membantu siswa memulihkan kondisi serta mengembangkan potensi mereka.
“Di Sekolah Rakyat ini, di samping edukasi, kita juga ada rehabilitasi sekaligus pemberdayaan sosial,” jelasnya.
Gus Ipul menyebut, siswa membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sistem pendidikan dan kehidupan di lingkungan asrama. Proses tersebut dilakukan melalui masa matrikulasi, yakni tahapan penyesuaian sebelum siswa mengikuti kegiatan sekolah secara optimal.
“Kita sebut masa-masa itu sebagai masa matrikulasi, masa saling menyesuaikan. Bahkan, sebagian siswa Sekolah Rakyat harus melalui proses rehabilitasi terlebih dahulu,” ujarnya.
Selain mengejar ketertinggalan akademik, pembentukan karakter juga menjadi perhatian pemerintah. Gus Ipul menilai kedisiplinan perlu dibangun melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, baik oleh siswa maupun seluruh tenaga pendidik dan pendamping.
Kementerian Sosial menggandeng TNI dan Polri dalam mendukung pembinaan tersebut. Kadet Universitas Pertahanan (Unhan) juga dilibatkan untuk membantu membentuk kedisiplinan siswa.
Pembiasaan itu mencakup bangun pagi, tidur tepat waktu, menata pakaian, merawat barang pribadi, menjaga kebersihan lingkungan, latihan baris-berbaris, hingga mengikuti kegiatan kepramukaan.
“Melalui pembiasaan tersebut, siswa diharapkan mampu menjalani rutinitas secara tertib sekaligus membangun karakter, tanggung jawab, dan kemandirian,” tuturnya.
Dalam kunjungan tersebut, Gus Ipul juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Jombang terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Jombang beserta jajaran, kepala sekolah, guru, wali asrama, dan wali asuh yang telah mendukung pelaksanaan program sejak awal.
“Saya berterima kasih kepada Bupati yang sejak awal, Bupati Jombang beserta jajaran, mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat ini,” kata Gus Ipul.
Ia berharap penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Jombang dapat berjalan secara penuh dengan kapasitas lebih dari 2.000 siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA.
Secara nasional, program Sekolah Rakyat disebut telah menampung sekitar 44.000 siswa selama dua tahun pelaksanaan. Pembangunan gedung permanen juga telah mencapai 100 titik, dengan 93 titik di antaranya sudah beroperasi.
Gus Ipul menegaskan, siswa Sekolah Rakyat tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Ijazah yang diperoleh setara dengan ijazah sekolah pada umumnya sesuai jenjang pendidikan.
Kesempatan tersebut akan disesuaikan dengan kemampuan dan potensi masing-masing siswa.
“Pada dasarnya, kita mendampingi sesuai dengan bakat dari siswa Sekolah Rakyat,” pungkasnya.
Melalui program ini, pemerintah berharap anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh akses pendidikan yang lebih baik. Pendampingan akademik, rehabilitasi sosial, dan pembentukan karakter diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk mengejar ketertinggalan sekaligus membangun masa depan yang lebih mandiri.






