Metaranews.co, Kediri – Suara rebana dan lantunan selawat mengiringi langkah Hamzah Rizki saat memasuki halaman SMK Kertanegara Wates, Kabupaten Kediri, Senin (3/8/2026).
Siswa kelas XII itu disambut bak pahlawan oleh guru, teman-teman, serta keluarga besar yayasan setelah sukses mengharumkan nama Jawa Timur dengan meraih medali emas pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional ke-34 Tahun 2026.
Keberhasilan Hamzah bukanlah prestasi yang diraih dalam semalam. Selama tiga bulan terakhir, ia menghabiskan waktunya dengan berlatih, memperbaiki setiap kesalahan, dan terus mengasah kemampuan di bidang welding atau pengelasan. Usaha tersebut membuahkan hasil manis.
Dalam kompetisi yang berlangsung di SMKN 4 Jakarta pada 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 itu, Hamzah berhasil menjadi yang terbaik di antara 33 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Menurutnya, kontingen Jawa Tengah menjadi salah satu lawan terberat selama perlombaan.
”Saya mempersiapkan diri sekitar tiga bulan. Setelah latihan saya selalu mengevaluasi hasil pekerjaan agar semakin baik. Saat diumumkan menjadi juara tentu sangat senang. Apalagi ketika pulang disambut teman-teman dan guru seperti ini, rasanya sangat membahagiakan,” ujar Hamzah.
Ia juga berpesan kepada teman-teman seusianya agar tidak takut bermimpi dan berprestasi.
”Jangan malu mengejar prestasi. Itu bisa menjadi kebanggaan bagi orang tua, sekolah, dan diri kita sendiri,” katanya.
Prestasi Hamzah sekaligus mengukuhkan SMK Kertanegara Wates sebagai sekolah yang konsisten mencetak juara nasional di bidang pengelasan. Tahun sebelumnya, medali emas LKS Nasional juga diraih oleh Muhammad Niko Sukron Abdilah dari sekolah yang sama.
Atas keberhasilannya, Hamzah menerima uang pembinaan sebesar Rp5 juta dari panitia LKS Nasional, penghargaan Rp10 juta dari Gubernur Jawa Timur, serta Rp3 juta dari Yayasan SMK Kertanegara. Tak hanya itu, ia juga memperoleh golden ticket untuk melanjutkan pendidikan di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).
Kepala SMK Kertanegara Wates, Pujiono, mengatakan prestasi tersebut merupakan buah dari proses panjang yang dibangun melalui disiplin dan latihan yang berkesinambungan.
”Menjadi juara tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua diawali dari kedisiplinan. Setelah itu terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Kebiasaan itulah yang akhirnya melahirkan prestasi,” ujarnya.
Pujiono menambahkan, sekolah selalu memberikan apresiasi kepada siswa berprestasi, mulai dari tingkat sekolah hingga nasional. Sebagai bentuk dukungan, sekolah juga terus meningkatkan sarana praktik, khususnya di jurusan Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam, agar mampu melahirkan lebih banyak talenta yang siap bersaing di tingkat nasional.
Keberhasilan Hamzah menjadi bukti bahwa ketekunan, disiplin, dan semangat belajar mampu membawa siswa dari ruang praktik sekolah menuju panggung kompetisi nasional. Prestasi itu tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan mengukir mimpi mereka.






