Penyedia PMT Stunting di Jombang Akui Ada Ulat dalam Sup, Sebut Faktor Human Error

Stunting Jombang
Caption: Sayur sup yang terdapat ulat. Doc: Istimewa

Metaranews.co, Kabupaten Jombang – Penyedia menu pemberian makanan tambahan (PMT) pada program pos pemulihan gizi (PPG) di Kabupaten Jombang mengakui jika sup yang diberikan untuk ibu hamil dan balita stunting terdapat ulat.

Manajer PT Karya Pariwisata Indonesia, Riyadi Saputra, mengakui bahwa ada keteledoran dari quality control, sehingga membuat ulat tersebut masuk dalam sup.

Bacaan Lainnya

Untuk diketahui, PT Karya Pariwisata Indonesia merupakan pihak yang dipilih Dinkes Kabupaten Jombang melalui e-katalog sebagai penyedia menu PMT dalam program PPG di Kota Santri.

Riyadi menjelaskan, temuan ulat hanya ada di sup untuk diberikan pada balita stunting, bukan pada susu. Sebab, pihaknya hanya menyediakan nasi, ayam goreng, sayuran, dan buah pisang, tidak termasuk susu.

“Saya memohon maaf. Karena memang lost control, dan kesalahan dari kita (pihak penyedia) atau human error,” jelas Riyadi, Kamis (16/11/2023).

Ia menuturkan, sebenarnya dalam prosedur operasi standar atau SOP pengolahan sayur sudah dilakukan dengan cara yang cukup ketat. Namun, lagi-lagi kesalahan manusia menjadi penyebab, sehingga ulat masuk ke dalam sup.

“Ulat itu dari sayur, sayur sup, dan karena jumlahnya banyak mungkin quality control dari temen-temen ini yang loss. Tapi sebenarnya sudah melalui tahap pencucian yang sesuai dengan standar yang kita lakukan,” klaim Riyadi.

“Memang begitu ada temuan itu, ada ulat sayur di supnya. Tapi kita kan udah melakukan penggantian, cuman karena berhubung sudah naik (ke Dinkes), saya sampaikan bahwa memang itu adalah human error dari pihak kita,” tandasnya.

Riyadi lantas menjabarkan menu PMT lokal untuk ibu hamil (Bumil) di hari pertama PPG itu terdiri dari nasi putih, ayam Klaten, tahu, wortel, buncis sama pisang.

“Buncis wortel ini dijadikan sayur sup. Sedangkan untuk balita stunting menunya hari pertama nasi putih, ayam crispy, sayur bening bayam, sama telur puyuh dan pisang. Cuman itu saja, sesuai dengan menu yang disetujui (Dinkes) ke kita,” ujarnya.

Seandainya program PPG ini berjalan, kata Riyadi, menu PMT lokal yang direkomendasikan Dinkes itu untuk dibagikan ke 4.075 ibu hamil, serta balita stunting dan wasting sebanyak 22.050 balita, menunya selalu berubah setiap harinya.

“Setiap hari berubah, namun karena adanya temuan itu dari pihak Dinkes memberikan warning yang keras ke kita. Karena kita juga mengakui kesalahan kita karena human error tadi, dari pihak Dinkes mewarning dan menyetop,” tutur Riyadi.

Riyadi lantas membeberkan harga satuan untuk satu menu PMT lokal. Besaran harganya berbeda-beda. Harga itu sudah dikenakan potongan pajak PPN dan PPh.

“Kalau yang bumil kalau harga sesuai dengan kesepakatan kemarin, setelah dipotong pajak, yang bumil Rp 18.920. Kalau yang balita itu Rp 14.530, itu setelah dipotong pajak 12 persen,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, anggaran insentif fiskal untuk penanganan stunting di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mencapai Rp 6,2 miliar.

Namun tidak semua anggaran tersebut dipergunakan untuk PMT lokal yang masuk dalam program PPG.

Kepala Dinkes Kabupaten Jombang, Budi Nugroho menjelaskan, dalam program PPG yang rencananya dilaksanakan selama satu bulan ke depan itu, pihaknya menyiapkan anggaran sebesar Rp 3.711.229.500 hanya untuk PMT lokal.

Namun setelah adanya komplain masyarakat terkait kualitas makanan yang tak layak konsumsi, karena ditemukan ulat didalamnya, pendistribusian PMT lokal itu lantas dihentikan untuk sementara waktu.

“Itu baru mulai kemarin, dan sekarang sudah dihentikan,” tutur Budi, Rabu (15/11/2023).

Pos terkait