Lima Football Disaster di Peru Seolah Terulang di Tragedi Kanjuruhan, Gas Air Mata Jadi Pemicunya

metaranews.co
Mobil polisi yang dibakar.

Metaranews.co, Bola – Tragedi Sepak Bola di Stadion Kanjuruhan, Malang saat Arema FC melawan Persebaya pada Sabtu (1/10/2022) yang menyebabkan hilangnya 172 nyawa mengingatkan publik akan insiden yang menewaskan 328 nyawa saat Peru melawan Argentina pada tahun 1964 di Estadio Nacional di Lima, Peru. Diketahui kejadian di Peru tersebut dipicu penembakan gas air mata.

Peristiwa kelam bersejarah yang terjadi pada pertandingan antara Peru dan Argentina itu dikenal sebagai Estadio Nacional Disaster atau Lima Football Disaster.

Bacaan Lainnya

Kejadian di Peru itu merupakan insiden terburuk sepanjang sejarah persepakbolaan dunia.

Diketahui, peristiwa tragedi di Peru dipicu keputusan Kontroversial wasit yang membuat suporter kesebelasan tim tuan rumah geram. Akhirnya para suporter Peru turun ke lapangan.

Karena kerusuhan semakin besar, dalam kejadian itu, Polisi lantas menembakkan gas air mata. Penembakan gas air mata inilah yang memicu jatuhnya korban jiwa.

Sebab, sebagian besar korban yang meregang nyawa diakibatkan oleh internal hemorrhaging (pendarahan internal) atau sesak nafas akibat terbentur daun jendela baja yang mengarah ke jalan.

Dari laporan resmi, korban meninggal dunia yang disebabkan insiden ini mencapai 328 jiwa. Namun, diperkirakan jumlahnya melebihi angka itu karena ada pula korban yang meninggal akibat tembakan polisi yang tidak dilaporkan dalam laporan resmi.

Tak jauh beda dengan kejadian di Stadion Kanjuruhan Malang. Masalah terjadi setelah pertandingan, ketika beberapa suporter Arema FC tidak bisa menerima kekalahan dari Persebaya.

Rasa kekecewaan itu yang menggerakkan para penonton untuk turun ke tengah lapangan untuk mencari para pemain dan official untuk menanyakan kenapa sampai kalah atau melampiaskan (rasa kecewa).

Untuk mencegah para supporter masuk lapangan dan mengejar para pemain, petugas keamanan melakukan upaya-upaya pengalihan. Namun, karena dirasa para supporter sudah anarkis, petugas menembakkan gas air mata.

Untuk menghindari gas air mata, para suporter kemudian berusaha keluar stadion melalui satu titik sehingga terjadi penumpukan. Sehingga terjadi tragedi Kanjuruhan.

Karena gas air mata, para supporter keluar ke satu titik yaitu pintu 10 atau pintu 12. Kemudian terjadi penumpukan. Di dalam proses penumpukan itulah, terjadi sesak napas, kekurangan oksigen hingga ada yang meninggal dunia.

Namun tidak semua korban meninggal di lokasi kejadian, banyak yang pada akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *