Metaranews.co, Jombang – Agenda krusial dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bergulir lancar. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi diterima oleh para peserta dalam Sidang Pleno 2 yang digelar di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Pimpinan Sidang Pleno, Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, menyampaikan apresiasi atas kelancaran proses persidangan yang dinilai berjalan sangat kondusif dan tepat waktu.
”Alhamdulillah, dua agenda utama, dua pleno sudah bisa kita lalui dengan sangat baik. Tadi sebelumnya pleno pertama menyiapkan agenda acara plus tata tertib. Pleno kedua ini tadi yang baru selesai, laporan pertanggungjawaban PBNU,” ujar Prof. M. Nuh usai memimpin sidang, Jumat (28/8/2026).
Dalam penyampaian pandangan umum terhadap LPJ yang didahului oleh pengantar Rais Aam dan pemaparan Ketua Umum PBNU tersebut, panitia menerapkan sistem perwakilan wilayah (PWNU) berbasis pulau besar guna efisiensi waktu. Hal ini dilakukan untuk menyiasati durasi jika ratusan Pengurus Cabang (PCNU) harus berbicara satu per satu.
”Oleh karena itu kita ambil perwakilan melalui PW-PW, dan PW-nya pun juga kita bagi per pulau-pulau besar. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, terus Papua, Jawa termasuk Madura, Bali, NTB, NTT. Dari sampling yang menyampaikan itu, 11 (perwakilan) termasuk PCI Jepang, semua menerima dengan baik,” jelas mantan Mendikbud tersebut.
Meski terdapat beberapa saran membangun dari muktamirin, secara prinsip LPJ PBNU—yang mencakup kepengurusan Syuriyah dan Tanfidziyah secara keseluruhan—dinyatakan sah dan diterima.
M Nuh juga mengatakan setelah Pleno 2 rampung, agenda Muktamar langsung dikebut dengan pelaksanaan sidang komisi pada malam harinya.
Seluruh komisi, mulai dari Bahtsul Masail (Maudhu’iyah, Qanuniyah, dll), Komisi Organisasi, Program, hingga Komisi Rekomendasi berjalan secara paralel. Prof. Nuh menjelaskan bahwa sebagian besar materi komisi terutama isu keorganisasian yang berpotensi memantik perbedaan pendapat telah dimatangkan melalui agenda Pra-Muktamar.
”Pra-Muktamar itu untuk memperkecil perbedaan, memperdalam, dan memperkaya sekaligus. Karena Muktamar itu sekali lagi, tempatnya perbedaan. Kalau tempatnya persamaan selesai sudah. Nah, supaya beda itu tidak jadi beda, maka kita siapkan ruang persamaannya harus lebih besar daripada ruang perbedaannya,” tegasnya.
Sidang komisi kata dia akan dilanjutkan hingga esok hari, dan hasilnya akan disahkan pada Sidang Pleno lanjutan di hari Sabtu siang. Pleno tersebut juga akan membahas hal yang paling dinantikan, yakni pengesahan Tata Tertib (Tatib) Pemilihan Ketua Umum.
Menutup keterangannya, Prof. Nuh mengungkapkan rasa syukurnya karena seluruh rangkaian acara Muktamar ke-35 ini berjalan sesuai jadwal (on track).
Ia membandingkan kelancaran ini dengan muktamar-muktamar sebelumnya yang kerap mengalami kemunduran jadwal.
Ia pun menitipkan pesan mendalam kepada para muktamirin untuk terus menjaga ketertiban, mengingat Jombang adalah tanah kelahiran para pendiri (Muassis) NU.
”Alhamdulillah, on track. Yang biasanya condong itu mundur-mundur. Saya kan ikut mimpin di Lampung, itu mundur-mundur. Apalagi yang di Jombang tahun 2015, mundur lagi itu. Kita ingin berprestasi lagi di agenda berikutnya. Kita semua ingat ini bukan tempat biasa. Ini tempatnya Muassis. Panjenengan arep tukaran (kalian mau bertengkar) di rumahnya orang tua itu gimana,” pungkas Prof. M Nuh. (***)
Penulis : Ubadhilah
Editor : Imam Mubarok






