‎Pleno 1 Muktamar ke-35, Ada Usulan Sistem Baru Pemilihan Ketum dan Aturan Rangkap Jabatan ‎

Gus Ipul saat diwawancarai awak media (Ubaidhillah)

‎Metaranews.co, Jombang — Dinamika perumusan tata tertib dan aturan organisasi jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menghangat. ‎Dua isu strategis yang dipastikan akan menjadi fokus perdebatan adalah perubahan sistem pemilihan Ketua Umum (Ketum) PBNU dan pengetatan aturan rangkap jabatan.

‎Hal tersebut diungkapkan oleh Gus Ipul saat memberikan keterangan di sela-sela Pleno 1 di Gedung Serbaguna Ponpes Tambak Beras Jombang.

‎Menurutnya, perdebatan keras dalam merumuskan draf materi Muktamar adalah hal yang wajar dan sedang berproses dari tingkat PBNU, Munas-Konbes, hingga dibawa ke muktamirin.

‎”Ada bahasan yang mungkin memerlukan waktu karena pasti akan terjadi perdebatan-perdebatan. Yang pertama soal sistem pemilihan Ketua Umum,” ujar Gus Ipul.

‎Ia menjelaskan, saat ini muncul usulan tata cara baru yang berbeda dari sistem one man one vote bersyarat pada periode sebelumnya.

‎Dalam sistem baru yang diusulkan, setiap wilayah dan cabang (PWNU/PCNU) pemilik suara berhak mengusulkan lima nama kandidat. Nama-nama dengan perolehan suara terbanyak kemudian diserahkan kepada Rais Aam untuk mendapatkan persetujuan akhir.

‎Selain sistem pemilihan, komisi organisasi juga menggodok aturan rangkap jabatan bagi jajaran pengurus. Aturan lama secara tegas melarang Ketua Umum, Rais Aam, beserta wakil-wakilnya untuk merangkap jabatan.

‎Namun, regulasi ini tengah dievaluasi untuk menentukan apakah larangan serupa juga akan diberlakukan secara kaku pada posisi kepengurusan lainnya atau tidak.

‎Meski pembahasan diwarnai adu gagasan yang tajam, Gus Ipul menegaskan agar suasana persidangan tetap berjalan sejuk dan gembira.

‎Ia mengingatkan para peserta bahwa lokasi pembahasan di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum sangat dekat dengan pusara para pendiri (muassis) NU, seperti KH Wahab Hasbullah, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Bisri Syansuri.

“Apapun yang terjadi, perbedaan sekeras apapun kita harus tetap gembira. Ini berada di pangkuan muassis, mudah-mudahan ini menjadi penyemangat dan motivasi bagi peserta agar setelah kita debat dengan suasana gembira, yang datang kemudian adalah keberkahan,” pungkasnya. (***)

 

Penulis : Ubadhilah
Editor : Imam Mubarok

Pos terkait