Anggota DPRD Jatim Guntur Wahono Klaim Reses di Blitar Ricuh Bukan Gegara Warga Tak Dapat Uang Transport

Guntur Wahono
Caption: Anggota DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, saat mengklarifikasi kepada awak media, Kamis (1/2/2024). Doc: Istimewa

Metaranews.co, Kabupaten Blitar – Guntur Wahono, anggota DPRD Jawa Timur (Jatim), mengklarifikasi soal kericuhan usai dirinya menggelar reses di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.

Anggota DPRD Jatim dari PDIP itu menegaskan bahwa kerusuhan yang terjadi bukan soal uang transport.

Bacaan Lainnya

Menurut Guntur Wahono, kerusuhan itu terjadi akibat ulah segerombolan orang yang sengaja membuat kacau kegiatan. Segerombolan orang ini bukanlah peserta reses, namun mereka datang secara pribadi dan tidak diundang.

Saat datang, segerombolan orang ini juga tercium bau alkohol, dan benar saja, usai kegiatan yang digelar Guntur, segerombolan orang ini langsung membuat onar.

“Bukan soal uang transport. Karena memang sejak awal panitia lokal sana dengan tim saya sudah sepakat tidak ada uang transport. Sebagai ganti warga di sana minta untuk dibuatkan pagar musala, kami telah sepakat,” kata Guntur, Kamis (1/2/2024).

Guntur menegaskan, sejak awal ia datang hingga dirinya meninggalkan lokasi kegiatan berjalan kondusif. Semua warga juga menyapa hangat anggota DPRD Jatim dari PDIP itu.

Namun memang di bagian belakang kegiatan, ada sekelompok orang yang bukan peserta ikut hadir. Kuat dugaan orang-orang tersebut memang sengaja membuat onar, agar reses Guntur terkesan jelek.

“Ada segerombolan orang di luar undangan, yang datang sudah dalam kondisi berbau alkohol. Mereka datang berkumpul di bagian belakang. Dugaan saya, memang tidak berniat mengikuti reses,” imbuhnya.

Anggota DPRD Jatim tersebut menegaskan bahwa kericuhan terjadi usai kegiatan selesai. Selama kegiatan, penyerapan aspirasi masyarakat berjalan lancar, semua kondusif.

Meski ada kericuhan yang terjadi usai dirinya pergi, Guntur enggan berspekulatif lebih jauh. Bagi Guntur yang terpenting dirinya bisa menyerap aspirasi warga, serta bisa menyalurkan keinginan warga Blitar ke Provinsi Jatim.

“Saya tidak mau menuduh siapa-siapa. Tapi yang jelas, saya tahu masyarakat di situ adalah basis PDI Perjuangan. Jadi kalau yang namanya sudah banteng, tidak akan bisa dipecah belah,” tutupnya.

Pos terkait