Bursa Ketum PBNU Mulai Memanas, Hery Haryanto Azumi Nyatakan Siap Maju di Muktamar ke-35 NU

Bursa Ketum PBNU
Caption: Hery Haryanto Azumi (baju hijau) saat acara bedah buku di salah satu rumah makan di wilayah Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6/2026). Doc: Darman/Metaranews/co

Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Di tengah pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Ponpes Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, nama Hery Haryanto Azumi mulai mengemuka dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Mantan Ketua Umum PB PMII periode 2005–2007 itu secara terbuka menyatakan kesiapannya apabila mendapat amanah dari para kiai dan warga Nahdliyin, untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU mendatang.

Bacaan Lainnya

Pernyataan tersebut disampaikan Hery saat menghadiri bedah buku bertajuk “Urgensi Regenerasi Kepemimpinan Baru Abad Kedua NU” karya Samsul Muarif, yang digelar di salah satu rumah makan di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6/2026).

Menurut Hery, kehadirannya bersama sejumlah tokoh NU dan alumni PMII dalam forum tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 yang sedang berlangsung di Kediri.

“Kedatangan kami di sini sebenarnya untuk memberikan hormat atas terlaksananya Munas Alim Ulama, dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang sedang berlangsung di Kediri,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Hery menilai momentum Munas-Konbes dan menjelang Muktamar NU menjadi waktu yang tepat untuk membicarakan regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi.

Menurutnya, NU membutuhkan ruang yang lebih luas bagi generasi muda yang memiliki pengalaman organisasi, pemahaman keagamaan, serta kemampuan menjawab tantangan zaman.

“Kita ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak muda NU yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk menjadi bagian dari upaya memperbaiki dan memperkuat organisasi,” katanya.

Pria kelahiran Trenggalek, 29 April 1977 itu menegaskan bahwa regenerasi, reformasi, dan perubahan kepemimpinan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya membangun NU pada abad keduanya.

Ia menilai pembaruan kepemimpinan menjadi kebutuhan mendesak, agar organisasi mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada warga Nahdliyin yang jumlahnya mencapai ratusan juta orang.

“Bagaimana kita bisa bertanggung jawab kepada 140 juta lebih jamaah NU jika kita tidak merombak diri kita sendiri, memperbaharui diri kita untuk melayani mereka dengan lebih baik,” ungkapnya.

Menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung sekitar satu bulan lagi, Hery menyatakan siap apabila didorong oleh para kiai, sahabat, maupun elemen warga Nahdliyin untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

“Saya sebagai bagian dari anak muda NU yang diminta para senior dan para kiai untuk berani berikhtiar. Insya Allah saya siap jika dicalonkan menjadi Ketua Umum PBNU,” tegasnya.

Apabila mendapat amanah memimpin PBNU, Hery berjanji akan memperkuat respons organisasi terhadap perkembangan teknologi, pendidikan, kesehatan, serta berbagai program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Selain itu, ia menilai seluruh badan otonom dan organisasi kader NU, seperti PMII, GP Ansor, Fatayat NU, dan elemen lainnya, harus terus memperkuat kolaborasi untuk membangun masa depan organisasi.

“Kita tidak sedang berkompetisi, tetapi sedang berkolaborasi untuk memperbaiki NU dan menjawab berbagai tantangan yang ada,” ucapnya.

Forum bedah buku tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh dan warga Nahdliyin dari kalangan alumni PMII, yang memberikan pandangan mengenai pentingnya regenerasi kepemimpinan di tubuh NU.

Salah satu cendekiawan NU sekaligus penulis buku, Samsul Muarif, menilai Hery Haryanto Azumi merupakan representasi intelektual muda NU yang mampu menjembatani tradisi pesantren dengan tantangan global yang semakin kompleks.

Menurutnya, NU pada abad kedua membutuhkan figur yang tidak hanya berakar kuat pada tradisi pesantren dan keislaman, tetapi juga memahami perkembangan sosial, ekonomi, politik, geopolitik, hingga dinamika dunia internasional.

“NU membutuhkan kader yang mampu menjadi arsitek peradaban masa depan. Sosok seperti Gus Hery menjadi salah satu contoh generasi yang lahir dari tradisi pesantren namun mampu berkiprah di tingkat yang lebih luas,” tuturnya.

Bedah buku tersebut sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai arah perjalanan NU dalam satu abad ke depan, serta pentingnya regenerasi kepemimpinan untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Pos terkait