Kasus Stroke Terus Naik, Nakes Puskesmas Kota Kediri Digembleng Penanganan Darurat

Kasus Stroke Kediri
Caption: Training Stroke untuk Pegawai Puskesmas di Kota Kediri, Rabu (24/6/2026). Doc: Ubai/Metaranews.co

‎Metaranews.co, Kota Kediri – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri menyelenggarakan kegiatan On The Job Training (OJT) Penanganan Stroke di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada 22–24 Juni 2026.

‎‎Kegiatan ini diikuti oleh tenaga kesehatan dari seluruh Puskesmas di Kota Kediri, yang terdiri dari dokter, pengelola program stroke, dan perawat Puskesmas di salah satu hotel di Kota Kediri.

‎‎Plt Kepala Dinkes Kota Kediri, Hamidah, menjelaskan pelaksanaan OJT ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, dalam menangani kasus stroke di tingkat pelayanan primer.

‎”Saat ini Puskesmas menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan, yang memiliki peran sangat vital dalam memberikan penanganan awal kepada masyarakat,” jelas Hamidah, Rabu (24/6/2026).

“Oleh karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi kebutuhan penting agar pelayanan yang diberikan dapat berjalan optimal,” lanjutnya.

‎Selain itu, angka kasus hipertensi dan stroke terus menunjukkan tren peningkatan. Stroke menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan angka kematian yang tinggi, dan masih menduduki peringkat atas sebagai penyebab kematian.

‎‎”Kondisi tersebut menuntut adanya penanganan yang cepat dan tepat, mulai dari deteksi dini gejala, pertolongan pertama, sistem rujukan, hingga pendampingan pasca perawatan melalui rehabilitasi dan pemulihan,” katanya.

‎‎Kegiatan OJT menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni dr Alfian Sp N, dokter spesialis saraf RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri.

Kemudian ada dr Rr Hessi Harisawati M Kes Sp GK, dokter spesialis gizi klinik RSUD Gambiran Kota Kediri. Lalu dr Indrawan Tri Purnomo Sp N, dokter spesialis saraf RS Bhayangkara Kediri, serta Dinkes Provinsi Jawa Timur.

‎‎Berbagai materi disampaikan selama kegiatan, mulai dari pengenalan gejala awal stroke, penanganan awal kasus stroke, sistem rujukan pasien, hingga tata laksana pemulihan pascastroke.

Peserta juga mendapatkan materi terkait peran gizi dalam penanganan stroke, termasuk asupan makanan yang dianjurkan maupun yang perlu dihindari oleh penderita stroke.

‎‎Dalam materi yang disampaikan, dijelaskan bahwa alur penanganan stroke disesuaikan dengan kondisi pasien.

Jika pasien mengalami jatuh mendadak hingga tidak sadarkan diri, maka dapat langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tanpa memerlukan rujukan.

‎‎”Namun apabila pasien mengalami gejala seperti lemas pada salah satu sisi tubuh, mulut tampak asimetris, tekanan darah tidak stabil, dan masih dalam kondisi sadar, maka dapat terlebih dahulu datang ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan awal,” tutur Hamida.

‎Selain memahami tata laksana penanganan kasus, tenaga kesehatan juga didorong untuk memperkuat upaya promotif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat.

‎‎”Pasalnya, stroke umumnya berawal dari faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes melitus. Oleh karena itu, prinsip utama dalam pengendalian stroke adalah pencegahan sejak dini” pungkasnya.

Pos terkait