Metaranews.co, Jombang -Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa mengerahkan sedikitnya 1.800 personel pendekar untuk mengawal keamanan dan kelancaran perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur.
Ribuan personel ini disiagakan untuk memastikan seluruh rangkaian acara tertinggi jam’iyyah NU tersebut berjalan aman, tertib, dan lancar.
Ketua Umum PP Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen, menjelaskan bahwa ribuan personel tersebut ditempatkan di berbagai titik strategis yang telah dikoordinasikan dengan panitia dan unsur pengamanan lainnya.
Mereka bertugas sejak menjelang rangkaian Muktamar dimulai pada 24 Agustus, dan akan terus bersiaga hingga seluruh agenda benar-benar selesai pada 2 September 2026.
“Tugas utama kami adalah membantu menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran seluruh rangkaian Muktamar. Mulai dari pengaturan akses dan pergerakan peserta, pengamanan titik kegiatan, membantu mengurai kepadatan, hingga memastikan para kiai, peserta, dan seluruh tamu dapat mengikuti agenda dengan aman dan nyaman,” jelas pria yang akrab disapa Gus Nabil tersebut, Jumat (28/8/2026).
Ia menegaskan, tugas ini bukan sekadar pengamanan fisik semata. Prinsip utamanya, Pagar Nusa hadir untuk berkhidmah kepada para kiai dan menjaga marwah Muktamar.
Mengingat lokasi Muktamar berada di Jawa Timur, mayoritas personel memang berasal dari wilayah tersebut.
Namun, Gus Nabil menyebut banyak juga pendekar Pagar Nusa yang datang dari luar daerah sebagai bentuk khidmah bersama kader, di antaranya dari Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan, Jambi, hingga Riau.
Lebih lanjut, Gus Nabil mengingatkan bahwa Muktamar NU bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, melainkan musyawarah tertinggi para ulama untuk menentukan arah gerak jam’iyyah ke depan. Oleh karena itu, ia berpesan agar semua pihak senantiasa menjaga marwah, adab, persaudaraan, dan kehormatan para kiai.
“Boleh berbeda pilihan dan pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu merusak ukhuwah dan kebesaran Nahdlatul Ulama. Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah harus dihormati dan didukung bersama. Setelah Muktamar tidak boleh ada lagi kubu-kubuan, semua kembali menjadi satu keluarga besar NU,” tegasnya.
Di tengah kesibukan mengawal jalannya Muktamar tersebut, terekam sebuah momen hangat dan keakraban ketika Presiden RI Prabowo Subianto tampak menepuk pundak Gus Nabil di sela-sela rangkaian pembukaan.
Kedekatan keduanya memang sudah terjalin cukup lama, mengingat Gus Nabil juga menjabat selama lima tahun sebagai Wakil Ketua Umum PB Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) mendampingi Prabowo yang menjabat sebagai Ketua Umum.
Terkait momen pertemuan singkat itu, Gus Nabil mengaku tidak ada pembicaraan khusus yang panjang. Ia justru sangat mengapresiasi pesan penting yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam pidato pembukaan Muktamar.
“Yang menurut saya justru sangat menarik adalah pesan beliau dalam pidato pembukaan. Pak Prabowo memberikan penghormatan kepada para ulama dan kiai, termasuk kiai-kiai di kampung yang mungkin namanya tidak pernah muncul di media, tetapi mempunyai peran sangat besar dalam menjaga akhlak dan mendidik generasi muda kita,” ungkapnya.
Gus Nabil menilai pesan tersebut sangat relevan dan penting untuk direnungkan.
“Kekuatan NU memang bukan hanya pada struktur organisasinya, tetapi pada jaringan para kiai, pesantren, dan masyarakat sampai ke desa-desa. Mereka bekerja dalam senyap, tetapi kontribusinya sangat besar bagi bangsa dan negara,” pungkas Gus Nabil. (***)
Penulis : Ubadhilah
Editor : Imam Mubarok






