Musala Gantung Berusia Hampir 2 Abad Saksi Bisu Penyebaran Islam di Kota Blitar

Musala Gantung Blitar
Caption: Suasana Musala atau Langgar Gantung Annur di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Sabtu (16/3/2024). Doc: Bahtiar/Metaranews.co

Metaranews.co, Kota Blitar – Musala Annur atau dikenal dengan sebutan Langgar Gantung yang berada di Jl Kemuning No 16, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, bisa dibilang menjadi salah satu saksi penyebaran Islam di Kota Blitar.

Langgar Gantung ini diperkirakan berdiri sejak 1825 atau sudah berusia hampir dua abad, dan sampai sekarang masih difungsikan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat.

Bacaan Lainnya

Disebut Langgar Gantung karena model bangunannya seperti rumah panggung, ada jarak antara lantai dan tanah.

Langgar tersebut didirikan oleh Irodikoro, seorang prajurit atau laskar Pangeran Diponegoro yang sedang menjadi pelarian dari Jawa Tengah ke Blitar, di masa perang melawan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang disokong Belanda.

“Sejarah singkat Musala Annur atau dikenal Langgar Gantung ini didirikan oleh Mbah Irodikoro. Irodikoro ini pelarian dari Jawa Tengah, kerajaan Mataram, pada waktu ada perlawanan terhadap penjajah Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro,” ujar Ketua Takmir Langgar Gantung, Isman Hadi, Sabtu (16/3/2024).

Isman Hadi merupakan cucu mantu dari generasi kelima keturunan Irodikoro, yang sekarang meneruskan pengelolaan Langgar Gantung.

“Mbah Irodikoro adalah salah satu tentara atau laskarnya Pangeran Diponegoro. Mbah Irodikoro itu sebenarnya menjabat sebagai bupati di wilayah Jawa Tengah, lalu bergabung dengan Pangeran Diponegoro untuk melawan penjajah Belanda,” jelasnya.

Isman mendapatkan sejarah singkat soal Langgar Gantung dan Mbah Irodikoro dari cerita tutur mertuanya, yang merupakan keturunan langsung Irodikoro.

Menurutnya, Mbah Irodikoro bisa sampai di Blitar karena beliau bersama kawan-kawannya sedang melarikan diri, bersembunyi dan berjuang dengan cara bergerilya melawan penjajah Belanda.

Ketika itu, Pangeran Diponegoro yang merupakan pemimpinnya tertangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Makassar.

Para laskar Pangeran Diponegoro akhirnya berjuang sendiri secara berkelompok dengan cara bergerilya.

“Dan salah satu tentaranya Diponegoro, yaitu Mbah Irodikoro yang tinggal di Plosokerep, Kota Blitar,” tuturnya.

Singkat cerita, Mbah Irodikoro kemudian menikah dengan perempuan penduduk Plosokerep, Kota Blitar. Setelah menikah, Mbah Irodikoro merintis pendidikan agama Islam di Plosokerep, Kota Blitar.

“Pada waktu itu masyarakat di sini (Plosokerep) masih awam dengan Islam. Mbah Irodikiro yang seorang muslim taat berpikir bagaimana cara mengenalkan Islam ke masyarakat. Akhirnya, beliau mendirikan satu tempat ibadah yang bisa multifungsi, artinya tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, tapi juga sebagai tempat pendidikan agama Islam,” lanjutnya.

Mbah Irodikoro kemudian mengumpulkan masyarakaya dan anak-anak di sekitar Langgar untuk diberi pendidikan Islam. Hal itu terus dilakukan Mbah Irodikoro sampai Islam juga berkembang di wilayah Kota Blitar.

“Sampai sekarang Langgar masih berfungsi sebagai tempat ibadah. Masih aktif untuk salat jemaah dan majelis dzikir masyarakat Plosokerep. Tapi untuk madrasah sudah tidak ada,” tutupnya.

Pos terkait