Peringatan Hardiknas di Kediri, Ndalem Pojok Serukan Perdamaian Dunia di Tengah Ancaman Global

Kediri
Caption: Peringatan Hardiknas di Situs Persada Soekarno (Ndalem Pojok), Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat (1/5/2026) malam. Doc: Ndalem Pojok

Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tahun ini tak hanya sekadar menjadi ajang seremoni.

Momentum tersebut juga dimanfaatkan sebagai panggung doa lintas komunitas yang menyerukan perdamaian dunia.

Bacaan Lainnya

Kegiatan doa lintas komunitas ini digelar di Situs Persada Soekarno (Ndalem Pojok), Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat (1/5/2026) malam.

Mengusung tema “Pendidikan Jati Diri Bangsa Merajut Perdamaian Dunia”, acara ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, tokoh lintas komunitas, serta pegiat pendidikan dan kebudayaan.

Suasana khidmat langsung terasa sejak awal kegiatan, yang diawali dengan lagu Indonesia Raya dan pembacaan Sumpah Jati Diri Bangsa.

Pemilihan Situs Ndalem Pojok sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan.

Lokasi tersebut dikenal sebagai salah satu jejak masa kecil Soekarno – tempat yang diyakini menjadi tempat tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan kemanusiaan sang Proklamator.

Ketua panitia, Suhardono, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi sekaligus respons atas situasi global yang kian memanas.

“Spirit dari Ndalem Pojok inilah yang melahirkan gagasan besar Bung Karno tentang perdamaian dunia. Dari tempat sederhana ini, lahir pemikiran yang mampu menyatukan bangsa-bangsa,” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki rekam jejak kuat dalam diplomasi perdamaian, salah satunya melalui Konferensi Asia Afrika 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara berkembang.

“Hari ini, di tengah ancaman konflik global, Indonesia harus kembali mengambil peran strategis sebagai penengah yang berwibawa,” tegasnya.

Selain refleksi sejarah, kegiatan ini juga mengangkat pendekatan spiritual dan ilmiah dalam memaknai kekuatan doa.

Dalam sesi pemaparan, disampaikan bahwa doa kolektif diyakini memiliki dampak signifikan, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga dalam perspektif sains modern.

Ketua Bidang Pendidikan Pesantren Jati Diri Bangsa, Kushartono, menyebut doa sebagai bentuk diplomasi spiritual yang relevan di tengah situasi dunia saat ini.

“Melalui doa bersama, kita memohon agar hati para pemimpin dunia dilunakkan. Dari ambisi konflik menjadi kesadaran untuk menciptakan perdamaian. Ini adalah bentuk ikhtiar batin dari Kediri untuk dunia,” ungkapnya.

Kushartono juga menekankan pentingnya nilai “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai fondasi jati diri bangsa Indonesia.

“Kekuatan Indonesia bukan semata pada kekuatan fisik atau militer, tetapi pada kedekatan spiritual kepada Tuhan. Inilah yang harus terus ditanamkan dalam pendidikan kita,” tambahnya.

Sinergi Lintas Komunitas

Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi dan komunitas, antara lain Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, Pesantren Jati Diri Bangsa, Jam’iyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah, serta sejumlah komunitas lintas budaya dan spiritual lainnya.

Tak hanya doa bersama, acara juga diisi dengan santunan bagi anak yatim dan kaum dhuafa serta selamatan sebagai simbol kepedulian sosial.

Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan karakter dan perdamaian dunia.

“Kami ingin dari Kediri lahir gelombang kesadaran baru, bahwa pendidikan bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan jiwa yang mencintai perdamaian,” tutup Suhardono.

Pos terkait