Dampak El Nino, Sejumlah Daerah di Jember Alami Krisi Air

Foto: TRC BPBD Jember salurkan air bersih di Kecamatan Silo 4/8/2026 (S.A Ramadhan)

Metaranews.co, Jember – Dampak fenomena El Nino semakin dirasakan masyarakat Kabupaten Jember.

Setelah sebelumnya memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kecamatan Kalisat, kini kekeringan meluas hingga Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo.

Bacaan Lainnya

Puluhan keluarga kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan memasak, minum, mandi, hingga sanitasi karena sumur-sumur warga mengering.

Pemerintah Kabupaten Jember melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih sebagai respons atas kondisi darurat yang dialami masyarakat. Distribusi perdana dilakukan pada Senin (3/8/2026) setelah hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) memastikan kawasan tersebut mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan wilayah terdampak berada di RT 01 dan RT 02 RW 07 Dusun Baban Timur. Menurutnya, masyarakat mulai mengalami kesulitan air bersih sejak Juli lalu karena sumber-sumber air yang selama ini menjadi andalan telah mengering.

“Iya benar, wilayah Silo mulai terdampak. Warga di RT 01 dan RT 02 RW 07 Dusun Baban Timur sudah kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari sejak Juli lalu. Karena itu kami langsung menyalurkan bantuan air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Edy.

Ia menjelaskan, hasil asesmen menunjukkan sumur warga dengan kedalaman sekitar 15 meter telah kering total.

“Kondisi tersebut diperparah dengan belum tersedianya jaringan pipanisasi sehingga warga tidak memiliki sumber air alternatif. Akibatnya, sebagian masyarakat terpaksa berjalan hingga sekitar tiga kilometer menuju sungai untuk mendapatkan air bersih,” katanya.

BPBD mencatat sedikitnya 85 kepala keluarga terdampak, terdiri atas 45 kepala keluarga di RT 01 dan 40 kepala keluarga di RT 02 RW 07.

“Untuk memenuhi kebutuhan mendesak, BPBD mendistribusikan sekitar 5.000 liter air bersih yang ditempatkan di empat tandon pada sejumlah titik strategis, di antaranya Mushola Pak Sholihin, rumah warga, dan Masjid Al-Baiturrahman,” jelasnya.

Menurut Edy, distribusi air bersih tidak hanya menjadi penanganan darurat, tetapi juga upaya mencegah dampak lanjutan akibat kekurangan air, terutama terhadap kesehatan masyarakat.

“Air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar. Selama kemarau masih berlangsung, kami akan terus melakukan pemantauan dan siap menyalurkan bantuan secara berkala apabila kebutuhan masyarakat masih tinggi atau ada wilayah lain yang mulai terdampak,” tegasnya.

BPBD merekomendasikan distribusi air bersih dilakukan setiap dua hari sekali hingga kondisi sumber air kembali normal. Pemerintah daerah juga mengimbau pemerintah desa segera melaporkan apabila terdapat wilayah lain yang mulai mengalami kekeringan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Meluasnya dampak El Nino ini menjadi peringatan bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya memengaruhi sektor pertanian, tetapi juga mengancam akses masyarakat terhadap air bersih. Dengan penanganan yang cepat, BPBD berharap kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan risiko munculnya masalah kesehatan akibat krisis air bersih.

Pos terkait