Metaranews.co, Kota Kediri – Di tengah hamparan sawah yang hijau dan udara yang segar, berdiri sebuah kafe sederhana bernuansa rumah joglo bernama Warung Omah Guru (Guyup Rukun).
Bangunan kafe yang didominasi ornamen budaya Jawa itu terasa hangat dan menenangkan.
Dikelilingi tanaman hijau serta pemandangan persawahan, suasananya menghadirkan kesan seperti pulang ke rumah sendiri. Pengunjung bisa duduk santai sambil menikmati angin semilir, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Cafe ini berada di sisi barat Sungai Brantas, tepatnya di Jalan Tambora Belakang, Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Pemilik Omah Guru, Rosa, mengatakan bahwa konsep warung yang diusung bukan tanpa alasan. Nama dan gagasan tempat ini lahir dari kisah perjuangan orang tuanya.
“Kami memilih konsep warung karena ingin mengingat perjuangan orang tua kami yang membesarkan delapan anak. Saat itu gaji guru sangat kecil, sehingga mereka harus berjualan makanan untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Rosa, Sabtu (7/3/2026).
Nama Guyup Rukun yang melekat pada tempat ini juga menyimpan makna emosional bagi keluarganya. Istilah tersebut diambil dari nama koperasi yang akrab di telinga mereka sejak kecil.
“Guyup Rukun adalah nama koperasi yang sering sekali disebut dalam perbincangan orang tua kami ketika menghadapi masa sulit. Sepertinya mereka sangat terbantu dengan adanya koperasi itu. Selain itu juga ada Koperasi Bahagia yang juga tidak asing bagi kami,” jelasnya.
Lebih dari sekadar tempat makan, Omah Guru juga menyimpan pesan tentang semangat perjuangan. Hal itu terlihat dari penamaan ruang-ruang di dalam kafe yang menggunakan nama para tokoh atau pahlawan.
Kami ingin semangat juang kepahlawanan, baik pejuang kemerdekaan maupun pejuang kemanusiaan, bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang yang datang ke tempat ini,” kata Rosa.
Ia berharap tempat tersebut dapat menumbuhkan nilai-nilai positif seperti toleransi, keberagaman, serta kesadaran akan pentingnya kemanusiaan.
“Kami ingin berkontribusi bagi anak-anak muda maupun orang tua di Kediri untuk menumbuhkan nilai perjuangan, keberagaman, toleransi, dan nilai kemanusiaan yang positif,” ungkapnya.
Kesederhanaan juga menjadi ruh dari Omah Guru. Hal itu tercermin dari menu yang disajikan.
Rosa menyebut, makanan yang tersedia tidak dibuat mewah, melainkan seperti hidangan rumahan yang akrab dengan keseharian masyarakat.
“Menu yang kami sediakan seperti layaknya warung biasa saja, makanannya khas ada Sayur Lodeh, Mie Ayam Bangka, dan beberapa makanan lain. Ini tidak mewah tetapi kami berusaha menghadirkannya seperti masakan rumah agar terasa homie bagi pengunjung,” katanya.
Untuk minuman, Rosa menyebut ada kopi-kopi kampung, Americano, hingga espresso. Tak lupa minuman khas kampung seperti Wedang Uwuh, dan beberapa wedangan lain juga ada.
Menurut Rosa, yang paling diutamakan bukanlah soal makanan, melainkan ruang perjumpaan.
Ia melanjutkan, Omah Guru juga menyediakan area co-working space yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, berdiskusi, atau melakukan kegiatan positif.
“Walaupun hanya memesan minuman saja, selama anak-anak muda itu melakukan kegiatan positif seperti belajar atau diskusi, kami tetap berkomitmen memberikan ruang dan waktu untuk mereka,” tutur Rosa.
Ke depan, ia juga berencana menambah koleksi literasi serta membuka kesempatan bagi kegiatan kebudayaan maupun diskusi akademik.
“Menurut hemat kami, hal yang paling murah dan terjangkau untuk keluar dari kemiskinan adalah pendidikan, baik formal maupun informal. Karena itu kami ingin tempat ini juga mendukung kegiatan literasi dan kebudayaan,” jelasnya.
Rosa berharap Omah Guru bisa menjadi ruang pertemuan lintas generasi—tempat orang muda, orang tua, maupun keluarga berkumpul dengan niat baik.
“Harapan kami, warung ini bisa menjadi tempat untuk guyub dan memupuk kerukunan. Semoga Omah Guru dapat menginspirasi setiap orang yang datang tentang perjuangan, kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, serta cinta kepada sesama manusia,” pungkasnya.






