Metaranews.co, Kediri – Ancaman penyakit jantung koroner kian mengkhawatirkan karena mulai menyerang kalangan usia produktif.
Untuk mendorong deteksi dini, National Hospital menggelar edukasi kesehatan bertajuk Ngobrol Santai: Jalan Baru untuk Jantung yang Lebih Sehat di Kediri, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Dokter Spesialis Bedah Kardiotoraks dan Pembedahan Vaskular, dr Edwin Yosef Widjaja, yang memaparkan perkembangan operasi bypass koroner sebagai solusi penanganan penyakit jantung.
Data menunjukkan, pasien jantung koroner di Indonesia cenderung lebih muda, yakni usia 40–60 tahun, dibandingkan Singapura yang berkisar 70–90 tahun, serta Amerika Serikat pada rentang 50–70 tahun.
Dalam pemaparannya, dr Edwin menjelaskan operasi bypass koroner merupakan prosedur penyambungan pembuluh darah jantung yang tersumbat dengan pembuluh darah baru.
Tindakan ini umumnya dilakukan pada pasien dengan banyak sumbatan atau kondisi yang tidak memungkinkan ditangani dengan pemasangan ring (stent).
Prosedur tersebut memberikan peluang pasien untuk kembali beraktivitas secara normal, sekaligus memperpanjang harapan hidup dan menekan risiko serangan jantung berulang.
“Bypass ini termasuk gold standard untuk kasus tertentu. Efektivitasnya dilihat dari ketahanan pembuluh darah baru, yang bisa bertahan 10 hingga 15 tahun, bahkan sampai 20 tahun pada kondisi tertentu,” jelasnya, abu (6/5/2026).
Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan jangka panjang sangat ditentukan oleh pola hidup pasien.
Pola makan rendah lemak, pengendalian gula darah bagi penderita diabetes, serta aktivitas fisik teratur menjadi kunci utama menjaga fungsi pembuluh darah baru.
Untuk aktivitas fisik, dr Edwin merekomendasikan olahraga ringan seperti jalan cepat (brisk walking) selama 30 menit per hari, minimal lima kali dalam sepekan.
Aktivitas ini dinilai lebih aman dan efektif dibandingkan olahraga berat yang tidak selalu sesuai bagi semua usia.
Ia juga mengingatkan bahwa penyakit jantung koroner sebenarnya mulai berkembang sejak usia muda, bahkan pada rentang 20–30 tahun, akibat penumpukan plak di pembuluh darah. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.
“Yang penting dijaga adalah pola makan dan faktor risiko seperti diabetes serta hipertensi. Kalau sudah terdiagnosis, harus rutin kontrol dan minum obat,” tuturnya.
Selain itu, dr Edwin meluruskan persepsi keliru terkait istilah “angin duduk” yang kerap disamakan dengan masuk angin.
Menurutnya, gejala nyeri atau ketidaknyamanan di dada sering kali berkaitan dengan gangguan jantung dan tidak boleh diabaikan.
“Kalau ada rasa tidak nyaman di dada, sebaiknya segera periksa ke dokter. Lebih baik kita memastikan lebih awal apakah itu penyakit jantung atau bukan,” tegasnya.






