Metaranewa.co, Kabupaten Kediri – Menyiasati tingginya biaya oprasional Rumah Lansia Gusdurian Mojokutho, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, para relawan meluncurkan sejumlah program swasembada pangan.
Swasembada tersebut dimulai dari kebun sayur hingga budidaya ikan lele, sebagai upaya memangkas ketergantungan panti pada pasokan bahan makanan dari luar.
Koordinator Rumah Lansia Gusdurian Mojokutho Pare, Anugrah Yunianto mengatakan, salah satu yang diutamakan dalam program swasembada yakni budidaya lele.
“Awalnya hanya satu kolam. Setelah berjalan beberapa bulan, kami tambah sedikit demi sedikit sampai sekarang menjadi empat kolam. Semua dilakukan secara swadaya,” kata Antok, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, konsep utama pengembangan kolam lele bukan semata mencari keuntungan, melainkan memastikan kebutuhan gizi para lansia tetap terpenuhi.
Ia menyebut ikan lele dipilih karena mudah dibudidayakan, bernilai gizi tinggi, dan lebih terjangkau dibanding sumber protein lainnya.
“Lele ini sangat membantu. Proteinnya tinggi, dan bisa menjadi alternatif lauk sehat untuk para simbah di sini,” ujarnya.
Rumah lansia yang dikelola komunitas Gusdurian itu membutuhkan biaya operasional sekitar Rp 25 juta setiap bulan. Anggaran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, kebersihan, hingga perawatan fasilitas.
Dengan kebutuhan konsumsi harian yang cukup besar, budidaya lele dinilai mampu mengurangi beban pengeluaran dapur.
Selain kolam lele, pengelola juga mengembangkan tanaman produktif seperti kelor, nangka muda, jahe, kencur, hingga tanaman herbal lain yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun kebutuhan kesehatan.
Antok menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian jangka panjang.
“Kami ingin rumah lansia ini tidak sepenuhnya bergantung pada donasi. Kalau ada bantuan, harapannya bukan hanya memberi ikan, tetapi memberi kail agar kami terus bisa bertahan,” katanya.
Saat ini, empat kolam yang tersedia dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penghuni. Pengelola menargetkan penambahan enam kolam lagi agar panen dapat dilakukan bergilir.
Untuk merealisasikan target itu, dibutuhkan dana sekitar Rp10 juta untuk bibit, dan pengembangan fasilitas pendukung.
Relawan Rumah Lansia, Sugeng Santoso, mengatakan budidaya lele sejauh ini menunjukkan hasil positif meski keuntungan finansial masih terbatas.
“Kalau dibilang berhasil, iya berhasil. Tapi margin keuntungannya kecil. Hasil panen biasanya langsung dipakai untuk kebutuhan operasional, jadi belum cukup untuk ekspansi,” terang Sugeng.
Sugeng menuturkan, lokasi rumah lansia dulunya hanyalah kebun sederhana yang dimanfaatkan untuk menanam sayuran kebutuhan dapur.
Seiring perkembangan rumah lansia, area tersebut kini disulap menjadi ruang produktif yang mendukung kebutuhan pangan sekaligus menghadirkan suasana asri bagi para penghuni.
Bagi para relawan, kolam lele bukan sekadar sarana budidaya, melainkan simbol ikhtiar menjaga keberlangsungan pelayanan kemanusiaan di tengah keterbatasan.






