Gus Hans: AHWA Harus Independen Tentukan Pimpinan NU

‎metaranews.co, Jombang – Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang H.M. Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans berharap para kiai yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dapat menentukan pilihan secara independen tanpa intervensi, berdasarkan nurani, selayaknya kiai yang menjadi panutan dalam proses pemilihan pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

‎Harapan tersebut disampaikan setelah Muktamar ke-35 NU menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui voting.

‎Dalam hasil pemungutan suara, 401 dari total 552 muktamirin memilih opsi perubahan mekanisme pemilihan, sedangkan 150 suara menghendaki mekanisme tetap dipertahankan dan satu suara abstain/tidak sah.

‎Dengan demikian, opsi perubahan memperoleh sekitar 73 persen suara, sementara opsi mempertahankan mekanisme mendapat sekitar 27 persen.

‎Gus Hans mengatakan perubahan mekanisme tersebut perlu diikuti dengan proses yang tetap mengedepankan independensi para kiai yang tergabung dalam AHWA. Mereka, kata dia, harus menggunakan pertimbangan yang jernih dengan melihat rekam jejak serta berbagai persoalan yang selama ini muncul di tubuh organisasi.

‎”Saya berharap AHWA benar-benar bisa memilih tanpa ada intervensi dan menggunakan batin nurani yang dimiliki,” ujar Gus Hans di Jombang, Minggu (30/8/2026).

‎Menurut Gus Hans, para kiai dalam AHWA diharapkan mampu melihat secara objektif sosok yang selama ini menjadi sumber masalah, pihak yang mampu mengakhiri persoalan, maupun mereka yang justru menjadi bagian dari masalah tersebut.

‎Dia berharap keputusan AHWA nantinya tidak lagi dibayangi konflik yang terjadi sebelumnya. Para kiai yang memiliki kewenangan menentukan pilihan harus dapat mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan organisasi.

‎”Sehingga para kiai bisa menentukan pilihan tanpa ada lagi sisa residu dari konflik yang kemarin,” katanya.

‎Di sisi lain, Gus Hans menilai seluruh kandidat masih memiliki peluang. Belum ada sosok yang dapat mengeklaim dirinya sebagai kandidat calon ketua umum terkuat karena komunikasi dengan para kiai yang tergabung dalam AHWA masih berlangsung.

‎”Semua masih terbuka. Belum bisa mengklaim siapa yang paling kuat. Semuanya tergantung komunikasi last minute kepada para kiai yang ada di AHWA,” ujarnya.

‎Gus Hans juga menilai perubahan mekanisme pemilihan tidak serta-merta menghilangkan dugaan politik uang maupun intimidasi. Dia mengingatkan bahwa persoalan tersebut masih berada dalam ranah dugaan.

‎”Proses ini kan kita bicara dugaan. Dugaan itu bisa saja akan terjadi atau sudah terjadi,” katanya.

‎Menurut dia, perubahan sistem juga bisa saja merupakan hasil pengondisian dari pihak yang merasa memiliki potensi untuk menang melalui mekanisme tersebut.

‎”Dengan perubahan sistem ini bisa saja bahwa ini juga hasil dari pengondisian yang tidak gratis dari pihak yang menganggap dirinya akan memiliki potensi menang untuk menggunakan sistem yang ini,” ujarnya.

‎Meski demikian, Gus Hans tidak ingin menyebut perubahan mekanisme tersebut sebagai bentuk manipulasi. Dia memilih menggunakan istilah pengondisian.

‎”Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah bagian dari manipulasi, tidak, tapi lebih tepatnya adalah hasil dari sebuah pengondisian,” kata Gus Hans. (***)

Penulis : Ubaidhilah
Editor : Imam Mubarok

Pos terkait