‎Tuding Ada Praktik Suap, KH Asep Syaifudin Chalim Desak Suara AHWA di Muktamar NU Jombang Dimusnahkan

KH Asep Syaifudin Chalim dalam pernyataan video yang dibuat (Istimewa)

‎metaranews.co, Mojokerto – Gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang diwarnai oleh kritik tajam. Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu), Prof. Dr. KH Asep Syaifudin Chalim, M.A., secara tegas mendesak agar seluruh suara Ahlul Halli wal Aqd (AHWA) yang telah masuk ke dalam kotak suara segera dimusnahkan.

‎Desakan ini dilontarkan menyusul dugaan kuat adanya praktik risywah (suap) dan penyekapan terhadap para peserta muktamar yang memiliki hak suara.

‎Dalam pernyataan resminya, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah tersebut mengungkapkan indikasi kecurangan yang sistematis.

‎Kiai Asep merujuk pada sebuah pengakuan dari Rais Syuriah asal Palembang, Sumatera Selatan, di mana para pengurus tingkat wilayah dan cabang diduga dikondisikan untuk menulis nama-nama anggota AHWA tertentu. Bahkan, panitia disebut membuatkan stempel dadakan bagi peserta yang tidak membawanya.

‎”Mereka disuruh masuk ke kamar-kamar dan diberitahukan bahwa di kamar mereka mendapatkan uang. Rais Syuriahnya Rp50 juta, Katibnya Rp25 juta,” ungkap Kiai Asep dalam pernyataannya.

‎Ia juga secara terang-terangan menyebutkan bahwa praktik tersebut ditengarai dijaga dan dikoordinasikan oleh pihak-pihak tertentu, di antaranya menyebut nama Sulaiman Tanjung dari pihak Gus Ipul, serta orang dari pihak Kiai Miftah.

‎Lebih lanjut, Kiai Asep mengecam keras pihak-pihak yang mencoba membenarkan pemberian uang tersebut dengan dalih “uang transport”.

‎Secara tegas Ia mengingatkan hukum fiqih bahwa risywah adalah haram, dan membenarkan hal yang haram bisa berakibat fatal secara akidah.

‎”Mereka dalam video itu mengatakan bahwa ini bukan risywah, ini adalah transport. Yang menghalalkan risywah itu murtad (man hallala muharroman fahuwa murtaddun). Maka pelakunya adalah orang yang fasik dan sekaligus murtad,” tegasnya.

‎Sebagai solusi, Kiai Asep menuntut agar mekanisme pemilihan AHWA diulang secara transparan. Ia meminta agar penulisan nama AHWA dilakukan secara langsung di tempat, bebas dari intervensi, lalu dimasukkan ke dalam kotak dan dibacakan bersama-sama di lokasi yang sama.

‎Soroti Penyingkiran Ulama Besar

‎Selain dugaan suap, poin krusial lain yang disoroti oleh Kiai Asep adalah tersingkirnya nama-nama ulama besar yang selama ini menjadi pilar utama penyangga Nahdlatul Ulama Menurutnya, hasil kotak suara yang ada saat ini tidak mencerminkan hati nurani karena menyingkirkan tokoh-tokoh sepuh seperti KH Ma’ruf Amin dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

‎Di akhir pernyataannya, Kiai Asep melontarkan kritik keras kepada panitia penyelenggara yang dipimpin oleh Gus Ipul. Ia menilai, jika suara hasil kecurangan tersebut tidak dimusnahkan, maka tindakan panitia yang menyingkirkan para kiai sepuh tidak ubahnya seperti cara-cara kelompok komunis.

‎”Jika tidak dimusnahkan AHWA yang ada di dalam kotak, maka panitia itu adalah sekelompok orang-orang komunis. Karena orang yang berusaha menyingkirkan ulama dari Nahdlatul Ulama itu adalah orang-orang komunis. Inilah, mohon didengar oleh para peserta muktamirin, khususnya oleh mereka yang memiliki hak suara,” pungkasnya. (***)

Penulis : Ubaidhilah
Editor : Imam Mubarok

Pos terkait