Metaranews.co, Kabupaten Kediri – Darah seni pedalangan mengalir deras dalam nadi Khoirudin. Pria dengan nama panggung Ki Kondo Brodianto ini merupakan generasi kelima dari sebuah garis keturunan dalang yang masyhur di Kabupaten Kediri.
Ia tidak hanya mewarisi kepiawaian memainkan lakon di balik kelir, tetapi juga memikul tanggung jawab kultural yang besar untuk merawat napas kehidupan wayang krucil agar tak lekang dimakan zaman.
Lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara pada 14 Oktober 1981, benih kecintaan Khoirudin pada dunia pewayangan telah bersemai sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Ingatannya masih segar tentang bagaimana ia kerap terkesima menatap sang ayah, Supiyanto, saat mementaskan bayang-bayang kehidupan di layar.
Kekaguman itu perlahan menjelma menjadi tekad. Menariknya, Brodianto muda tidak pernah menganyam pendidikan khusus atau berlatih secara formal sebelum debutnya.
“Dari SMP, sering menonton jadi ingin, punya keinginan sendiri,” kenangnya.
Kesempatan mendalang itu datang tanpa terduga pada momentum bulan Sura, tatkala ia masih duduk di kelas II SMP.
Di atas panggung perdananya, ia mengaku sempat dilanda kebingungan karena belum terbiasa memegang cempurit wayang. Namun, keberanian berbekal arahan singkat dari sang ayah pada malam itu menjadi tonggak awal perjalanannya yang membentang hingga kini.
Brodianto adalah pemegang tongkat estafet dari sebuah tradisi panjang yang bermula dari Mbah Kartosuryo, diwariskan ke Mbah Sireng, Mbah Podo, Supiyanto, dan akhirnya berlabuh di tangannya.
Dari para pendahulunya, ia tidak hanya mewarisi keahlian bertutur, tetapi juga pusaka berupa wayang yang usianya ditaksir menyentuh tiga abad.
Sebagian wayang peninggalan tersebut dikeramatkan dan mendapat perlakuan istimewa, seperti ritual jamasan yang khusyuk digelar setiap bulan Sura.
Sementara itu, wayang yang tidak disakralkan tetap difungsikan untuk kebutuhan pementasan.
Bagi Brodianto, wayang bukan sekadar tontonan visual, melainkan panggung semesta yang sarat makna. “Wayang itu komplet sekali. Ada sastranya, ada seninya, terus ada unsur politiknya. Itu yang menarik dan menjadi tantangan,” ungkapnya.
Di Kediri, ia secara khusus mendedikasikan diri pada wayang krucil atau wayang klitik. Berbeda dengan wayang kulit, wayang jenis ini dipahat menggunakan kayu mentaos. Tokoh-tokoh yang dimainkan pun sangat lekat dengan epos dan kearifan lokal Kediri, seperti Sri Aji Joyoboyo, Panji Asmara Bangun, Dewi Sekartaji, Dewi Kili Suci, hingga Kameswara.
Melalui lakon-lakon sarat filosofi seperti Tumbal Tanah Jawa, yang mengisahkan jejak peradaban Islam di Jawa pasca-Majapahit, ia menyuguhkan gambaran utuh tentang kesedihan, kebahagiaan, dan percintaan umat manusia.
Kepiawaiannya tidak berhenti di ranah panggung. Di kediamannya yang asri di Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Brodianto bertransformasi menjadi seorang perajin wayang yang mumpuni.
Selain menjadi dalang, bersama timnya ia memproduksi sekitar 800 buah suvenir wayang saban tahun guna memenuhi kebutuhan Pemerintah Kabupaten Kediri. Mahakarya ukirannya bahkan telah melanglang buana hingga ke Jepang dan Tiongkok.
Wayang untuk pasar mancanegara ini sengaja dibiarkan natural tanpa pulasan warna demi menonjolkan detail dan kualitas ukiran kayu yang eksotis.
Kendati kiprahnya gemilang, langkah Brodianto acap kali diadang oleh batu karang regenerasi. Ia mengakui, mencari pelanjut estafet dalang wayang krucil dan gedog jauh lebih terjal dibandingkan wayang kulit. Pergeseran orientasi masyarakat dalam menikmati hiburan menjadi salah satu muaranya.
Saat ini, tidak sedikit penonton yang murni mencari hiburan semata, menantikan atraksi musik atau sinden, lalu beranjak pergi sebelum lakon pewayangan tuntas diceritakan.
Menghadapi dinamika tersebut, Brodianto terus beradaptasi. Ia memadukan strategi pendekatan audiens dengan membawakan lagu-lagu populer pada awal pementasan untuk menggaet atensi anak muda, sebelum perlahan mengembalikan ritme klasik nan magis saat malam semakin larut.
Lebih dari itu, ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar setiap Selasa malam Rabu untuk menggelar pelatihan gratis. Di sana, ia menularkan ilmu mendalang sekaligus merajang wayang secara langsung, dengan harapan akan lahir tunas-tunas baru yang mencintai kesenian ini.
Di mata Ki Kondo Brodianto, merawat kebudayaan adalah bentuk takzim tertinggi kepada warisan leluhur.
“Kita berusaha cinta pada leluhur, tanpa ada leluhur itu kita juga tidak jadi apa-apa. Dengan kekuatan itu, kita berpegang teguh pada leluhur dan kebudayaan menjadi suatu kekuatan kita,” pesannya penuh penekanan.
Menyongsong momentum Hari Wayang Nasional, ia menaruh asa yang besar agar kesenian luhur ini kian membumi.
“Saya berharap pemerintah turut andil merangkul generasi muda dan mensosialisasikan keberagaman wayang secara masif—mulai dari wayang kulit, krucil, gedog, suluh, hingga golek—agar ruang pelestarian dan regenerasi dalang selalu terbuka lebar,” pungkasnya.






