Oleh: Imam Mubarok
Pimpinan Redaksi Metaranews.co
Ada masa ketika seekor kucing yang berbicara seperti manusia, seorang nenek mengendarai sepeda motor terbang, atau tokoh sejarah yang mendadak hidup kembali mampu membuat jutaan orang terpukau. Orang berdecak kagum, membagikan videonya, lalu bertanya bagaimana semua keajaiban itu dibuat.
Jawabannya hampir selalu sama: kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Tetapi kekaguman memiliki umur. Sesuatu yang semula dianggap ajaib, ketika diproduksi terus-menerus, perlahan kehilangan daya pikatnya.
Hari ini, kita mulai memasuki babak yang menarik sekaligus menggelisahkan. Teknologi pembuat video semakin canggih, tetapi belum tentu membuat manusia semakin terkesan. Gambar semakin sempurna, tetapi perasaan yang ditinggalkan justru bisa semakin hampa.
Barangkali persoalannya bukan lagi apakah AI mampu membuat gambar yang menyerupai kenyataan, melainkan apakah manusia masih bersedia mempercayai apa yang dilihatnya.
Dahulu, membuat sebuah film membutuhkan kamera, pencahayaan, pemain, lokasi, penyunting, dan keterampilan yang dipelajari bertahun-tahun. Kini, seseorang dapat menuliskan beberapa kalimat perintah, menekan tombol, lalu memperoleh rangkaian gambar bergerak yang tampak sinematik.
Demokratisasi teknologi ini tentu membawa kemajuan. Orang yang tidak memiliki kamera mahal atau kemampuan animasi profesional memperoleh kesempatan mengekspresikan gagasannya. Namun, ketika semua orang dapat memproduksi keajaiban visual, keajaiban itu sendiri kehilangan kelangkaannya.
Media sosial mulai dibanjiri video dengan pola yang hampir seragam. Wajah terlalu mulus, cahaya terlalu dramatis, gerakan kamera terlalu sempurna, dan cerita yang sering kali tidak memiliki kedalaman. Fenomena tersebut dikenal sebagai AI slop, istilah untuk menyebut banjir konten buatan AI yang diproduksi secara massal, miskin nilai, dan sering lebih mengutamakan perhatian daripada kualitas.
Kita seperti sedang berada di sebuah pasar malam digital. Semua pedagang menyalakan lampu paling terang, memutar musik paling keras, dan berteriak menawarkan sesuatu yang luar biasa. Pada akhirnya, pengunjung bukan semakin tertarik. Mereka justru kelelahan. Di sinilah muncul fenomena AI fatigue, kejenuhan atau kelelahan akibat paparan teknologi dan konten AI yang berlebihan.
Namun, kita perlu berhati-hati menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat telah bosan terhadap AI. Belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan kejenuhan itu terjadi secara merata, yang mulai terlihat adalah persoalan kejenuhan terhadap bentuk-bentuk konten AI tertentu, terutama yang repetitif, manipulatif, dan tidak memberikan pengalaman baru.
Kita Sedang Kehilangan Kemampuan untuk Kagum
Ada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar kualitas gambar. Manusia memiliki kemampuan mengagumi sesuatu karena mengetahui bahwa di baliknya terdapat pengalaman, perjuangan, keterampilan, atau peristiwa yang benar-benar terjadi.
Ketika melihat seorang petani tua berjalan menembus lumpur untuk menyelamatkan hasil panennya, kita mungkin tersentuh bukan karena gambarnya indah, tetapi karena memahami kenyataan hidup yang dihadapinya.
Ketika melihat seorang ibu menangis menyambut anaknya yang pulang setelah bertahun-tahun merantau, kita merasakan hubungan emosional yang tidak membutuhkan efek visual.
Bandingkan dengan video AI yang memperlihatkan adegan serupa, tetapi seluruhnya merupakan rekayasa. Secara visual, keduanya mungkin sama-sama mengharukan. Namun, ketika penonton mengetahui bahwa peristiwa kedua tidak pernah terjadi, maknanya berubah.
Bukan berarti karya fiksi tidak dapat menyentuh perasaan. Film, teater, dan sastra telah membuktikan selama berabad-abad bahwa cerita rekaan mampu menyampaikan kebenaran tentang kehidupan. Persoalannya muncul ketika rekayasa disajikan seolah-olah merupakan kenyataan. Di situlah batas antara kreativitas dan manipulasi mulai dipertaruhkan.
Kita memasuki keadaan yang dapat disebut sebagai krisis autentisitas, ketika manusia semakin sulit membedakan pengalaman nyata dengan pengalaman yang sengaja dirancang untuk terlihat nyata. Ironisnya, semakin hebat teknologi meniru kenyataan, semakin mahal nilai sebuah keaslian.
Dalam kajian psikologi dan robotika terdapat istilah uncanny valley, atau lembah keanehan, yang diperkenalkan oleh Masahiro Mori pada 1970. Gagasan ini menjelaskan bahwa sesuatu yang semakin menyerupai manusia tidak selalu semakin menyenangkan untuk dilihat. Pada titik tertentu, kemiripan yang hampir sempurna, tetapi masih menyisakan kejanggalan, justru dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
Dalam video AI, kita kadang menemukan senyum yang terasa ganjil, gerakan tangan yang tidak wajar, atau ekspresi wajah yang tampak hidup tetapi kehilangan spontanitas. Teknologi terus memperbaiki kekurangan tersebut. Akan tetapi, persoalan psikologisnya tidak berhenti pada kesalahan anatomi atau gerakan.
Ada pertanyaan yang semakin sering muncul di benak penonton: apakah ini benar-benar terjadi?
Pertanyaan sederhana itu memiliki konsekuensi besar bagi kehidupan sosial. Sebab, ketika setiap gambar harus dicurigai, kegiatan menonton bukan lagi semata-mata menikmati, melainkan juga memeriksa kemungkinan adanya manipulasi.
Di tengah banjir informasi, manusia akhirnya bukan hanya mengalami kelelahan visual, tetapi juga kelelahan dalam menentukan apa yang layak dipercaya.
Masalah lain yang tidak kalah serius adalah perubahan orientasi dalam memproduksi konten. Banyak kreator mulai terjebak pada pertanyaan tentang bagaimana membuat orang berhenti menggulir layar, bukan bagaimana menyampaikan sesuatu yang benar-benar bernilai.
Muncullah budaya attention economy, ekonomi perhatian, ketika waktu dan perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan.
Dalam sistem ini, keberhasilan sering diukur melalui jumlah tayangan, komentar, pembagian ulang, dan lamanya orang bertahan menonton.
Akibatnya, sebuah video yang sensasional bisa memperoleh perhatian lebih besar daripada karya yang dibuat melalui riset panjang.
Video AI yang menampilkan kejadian mustahil, tokoh terkenal dalam situasi palsu, atau bencana yang tidak pernah terjadi dapat memperoleh jutaan penonton apabila dikemas dengan tepat. Padahal, viralitas bukanlah ukuran kebenaran. Popularitas juga bukan jaminan kualitas.
Kita sedang menghadapi paradoks kebudayaan digital: semakin banyak konten diproduksi, semakin sulit menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh berharga. Fenomena ini mengingatkan saya pada gagasan filsuf Prancis Jean Baudrillard tentang simulacra dan simulation.
Dalam pemikirannya, tanda dan representasi dapat berkembang sedemikian jauh sehingga hubungan dengan kenyataan menjadi kabur. Bahkan, representasi dapat terasa lebih dominan daripada realitas yang semula diwakilinya. Dalam kehidupan digital hari ini, gagasan itu menemukan relevansinya.
Kita dapat melihat kota yang tidak pernah dibangun, mendengar pidato yang tidak pernah diucapkan, dan menyaksikan peristiwa yang tidak pernah berlangsung. Semua terlihat meyakinkan.
Pertanyaannya, apakah manusia sedang memperluas kemampuan berimajinasi, atau justru sedang membangun dunia yang semakin jauh dari kenyataan? Jawabannya bergantung pada bagaimana teknologi digunakan dan seberapa jujur kita menjelaskan hasilnya.
Pers dan Ancaman Hilangnya Kepercayaan Publik
Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik, saya melihat perkembangan ini bukan sekadar persoalan teknologi kreatif. Ini menyangkut masa depan kepercayaan publik terhadap informasi.
Jurnalisme sejak awal dibangun di atas disiplin verifikasi. Wartawan datang ke lokasi, menemui narasumber, memeriksa dokumen, membandingkan keterangan, dan mempertanggungjawabkan informasi yang diterbitkan.
Proses itu tidak selalu cepat. Bahkan sering melelahkan. Tetapi justru di situlah nilai pekerjaan jurnalistik.
AI dapat membantu menyusun transkrip, mengolah data, menerjemahkan dokumen, atau membuat ilustrasi untuk menjelaskan persoalan yang rumit. Namun, AI tidak dapat dijadikan pengganti pertanggungjawaban jurnalistik.
Video yang dibuat menggunakan AI tidak boleh diperlakukan sebagai dokumentasi peristiwa nyata. Rekonstruksi harus diberi keterangan yang jelas. Gambar sintetis tidak boleh dibiarkan menyesatkan pembaca tentang sesuatu yang sesungguhnya terjadi.
Dalam konteks Indonesia, prinsip ini sejalan dengan semangat Kode Etik Jurnalistik, terutama kewajiban menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk, serta melakukan pengujian informasi.
Bagi media seperti Metaranews.co, perkembangan AI seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat identitas jurnalistik, bukan sekadar mengikuti perlombaan teknologi visual.
Kita tidak perlu bersaing dengan mesin dalam menciptakan gambar paling fantastis. Yang harus dipertahankan adalah kemampuan menghadirkan kenyataan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebuah foto sederhana dari peristiwa nyata di Kediri, dengan keterangan yang akurat dan konteks yang jelas, bisa memiliki nilai jurnalistik jauh lebih tinggi daripada video AI yang megah tetapi tidak menjelaskan apa pun.
Kebudayaan Tidak Boleh Berhenti pada Estetika Buatan
Ada satu persoalan yang menurut saya belum cukup banyak dibicarakan, yakni hubungan antara AI dan masa depan kebudayaan.
Kebudayaan bukan sekadar bentuk visual. Ia lahir dari pengalaman kolektif, ingatan masyarakat, bahasa, tradisi, nilai, dan perjalanan sejarah.
Ketika sebuah candi, arca, naskah kuno, atau tokoh sejarah dihidupkan kembali menggunakan AI, hasilnya memang dapat menarik perhatian generasi muda.
Saya melihat teknologi ini memiliki peluang besar dalam pendidikan sejarah dan pelestarian kebudayaan. Namun, kreativitas tidak boleh mengorbankan ketepatan sejarah.
Bayangkan sebuah arca peninggalan masa Kediri dianimasikan hingga dapat bergerak dan berbicara. Secara artistik, karya itu mungkin sangat memukau.
Tetapi apabila bentuk mahkota, atribut, busana, atau identitas tokohnya dibuat tanpa penelitian, publik justru berpotensi menerima gambaran sejarah yang keliru. Kesalahan yang berulang kemudian dapat dianggap sebagai kebenaran. Di sinilah diperlukan sesuatu yang lebih penting daripada kecanggihan perangkat lunak, yaitu tanggung jawab pengetahuan.
AI semestinya membantu manusia memahami warisan kebudayaan, bukan menggantinya dengan fantasi yang kehilangan dasar historis. Teknologi boleh menghidupkan imajinasi. Tetapi sejarah harus tetap berpijak pada bukti.
Saya justru menduga, di tengah perkembangan teknologi yang semakin mampu menciptakan kesempurnaan visual, manusia akan kembali menghargai ketidaksempurnaan yang jujur.
Wajah yang memiliki kerutan, suara yang sesekali bergetar, rekaman sederhana dari telepon genggam, percakapan yang tidak sepenuhnya tersusun rapi, atau sebuah dokumentasi kehidupan sehari-hari yang tidak membutuhkan pencahayaan sinematik. Hal-hal semacam itu mungkin akan semakin memiliki daya tarik karena memperlihatkan sesuatu yang tidak mudah digantikan oleh mesin: pengalaman hidup yang benar-benar dialami manusia.
Kecenderungan terhadap konten yang lebih autentik juga menjadi perhatian industri kreator. Digiday, misalnya, membahas meningkatnya permintaan terhadap karya kreator yang terasa lebih manusiawi dan tidak selalu dipoles hingga sempurna di tengah melimpahnya konten generatif.
Namun, autentisitas bukan berarti semua karya harus kasar atau dibuat seadanya. Keaslian bukan persoalan kualitas kamera, melainkan kejujuran hubungan antara pembuat karya, pesan, dan kenyataan yang disampaikan.
Video yang dibuat dengan peralatan mahal tetap bisa autentik. Sebaliknya, rekaman yang tampak amatir juga bisa direkayasa. Maka, yang perlu kita cari bukan semata-mata estetika baru, melainkan etika baru dalam memproduksi dan menikmati informasi.
AI Bukan Musuh, Tetapi Tidak Layak Menjadi Tuhan Baru
Saya tidak melihat kejenuhan terhadap video AI sebagai tanda bahwa teknologi ini akan berakhir, justru sebaliknya, kita mungkin sedang memasuki tahap pendewasaan.
Pada tahap awal, manusia terpukau oleh kemampuan teknologi. Pada tahap berikutnya, manusia mulai mempertanyakan manfaatnya, dan pada tahap yang lebih matang, teknologi dinilai bukan berdasarkan seberapa hebat ia terlihat, melainkan seberapa besar nilai yang dihasilkannya.
Dalam dunia produksi kreatif, ini berarti kemampuan membuat video AI tidak lagi cukup menjadi keunggulan.
Kreator tetap membutuhkan gagasan, riset, kepekaan estetika, kemampuan bercerita, dan pemahaman terhadap manusia yang menjadi penontonnya.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis. Tetapi efisiensi juga tidak selalu datang secara otomatis. Untuk menghasilkan video yang konsisten dan layak tayang, pembuatnya kadang harus mengulang proses berkali-kali, memperbaiki adegan, menyelaraskan gambar, dan mengeluarkan biaya tambahan.
Teknologi yang menjanjikan kemudahan ternyata tetap menuntut keterampilan.
Ini pelajaran penting: alat yang semakin pintar tidak otomatis menghasilkan karya yang semakin bermakna.
Manusia tetap harus berpikir, manusia tetap harus memiliki rasa, dan manusia tetap harus bertanggung jawab. Pada Akhirnya, Kita Akan Kembali Mencari Manusia
Saya membayangkan suatu hari nanti video AI akan menjadi sesuatu yang sangat biasa. Seperti filter kamera, efek suara, atau perangkat penyunting gambar yang dahulu pernah dianggap luar biasa.
Orang tidak lagi bertanya, “Bagaimana video ini dibuat?” Mereka akan bertanya, “Untuk apa video ini dibuat?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting. Sebab, masa depan kreativitas bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat menghasilkan gambar, tetapi siapa yang mampu memberikan makna kepada gambar tersebut.
Masa depan jurnalistik juga bukan ditentukan oleh siapa yang paling banyak memproduksi konten, melainkan siapa yang masih dipercaya ketika masyarakat kesulitan membedakan fakta dan rekayasa.
Dan masa depan kebudayaan bukan terletak pada kemampuan menghidupkan kembali masa lalu secara digital, melainkan pada kesanggupan memahami serta mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan eling lan waspada, ingat dan tetap waspada.
Ungkapan sederhana ini terasa semakin relevan di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan.
Eling, bahwa teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan kehidupan.
Waspada, bahwa tidak semua yang terlihat indah adalah benar, dan tidak semua yang viral layak dipercaya.
Kita tidak perlu menolak kemajuan. Tetapi kita juga tidak harus menyerahkan seluruh penilaian kepada algoritma.
Barangkali kejenuhan terhadap video AI justru membawa kabar baik bagi peradaban digital.
Setelah terlalu lama terpukau pada sesuatu yang tampak sempurna, manusia memperoleh kesempatan untuk kembali menghargai yang nyata.
Setelah terlalu banyak mengonsumsi tontonan, manusia mungkin mulai mencari pemahaman.
Setelah terlalu sering disuguhi keajaiban buatan, manusia mungkin kembali menemukan keajaiban dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, mesin mungkin mampu membuat wajah yang tersenyum, mata yang menangis, bahkan manusia yang seolah-olah berbicara dari masa lalu.
Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh kita serahkan begitu saja kepada mesin, yaitu kejujuran dalam memaknai pengalaman manusia.
Sebab, ketika segala sesuatu bisa dibuat tampak nyata, kejujuranlah yang akan menjadi kemewahan paling berharga.
Catatan: Istilah AI fatigue, AI slop, dan AI plateau menggambarkan fenomena yang berkaitan tetapi tidak identik. Artikel ini merupakan opini dan interpretasi atas kecenderungan industri digital, bukan klaim bahwa seluruh pengguna telah mengalami kejenuhan terhadap AI.




