Seni Menikmati Berita

Pimpinan Redaksi Metaranews, Imam Munarok (Istimewa)

 

 

Tetap Waras Ketika Dunia Berebut Perhatian Kita

 

Oleh: Imam Mubarok, Pimpinan Redaksi Metaranews.co

Saya hidup dari berita. Setiap hari membaca berita, mendiskusikan berita, mengedit berita, menentukan berita mana yang layak ditampilkan, lalu melihat bagaimana publik menanggapinya.

Justru karena itu, belakangan saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri: masih sehatkah cara kita menikmati berita?

Pagi belum benar-benar dimulai, tetapi tangan sudah mencari telepon genggam.

Belum sempat melihat langit, kita sudah melihat perang.

Belum sempat bertanya kabar keluarga, kita sudah membaca pertengkaran elite politik.

Belum selesai secangkir kopi, kita telah disuguhi korupsi, kecelakaan, PHK, harga kebutuhan, perebutan kekuasaan, kasus hukum, pernyataan pejabat, video kemarahan, potongan ceramah, gosip selebritas, hingga pertengkaran orang yang bahkan tidak kita kenal.

Anehnya, semakin banyak yang kita baca, belum tentu semakin banyak yang kita pahami.

Kadang yang tersisa justru rasa lelah. Itulah ironi manusia modern. Kita tidak sedang kekurangan informasi kita sedang kebanjiran informasi.

Dahulu manusia mencari berita sekarang berita mencari manusia.

Bahkan lebih jauh lagi, berita mengejar kita melalui notifikasi, rekomendasi video, linimasa media sosial, grup WhatsApp, YouTube, TikTok, Instagram dan berbagai platform lain.

Lalu kita mulai kehilangan satu kemampuan yang sebenarnya sangat penting: berhenti sejenak.

Di situlah saya mulai memikirkan sesuatu yang saya sebut “seni menikmati berita”.

Menikmati berita bukan berarti menikmati bencana, perang, korupsi atau penderitaan manusia. Bukan itu seni menikmati berita adalah kemampuan untuk mengetahui keadaan dunia tanpa membiarkan seluruh kegaduhan dunia masuk dan menetap di kepala kita.

Ada istilah yang mungkin sudah sering kita dengar: doomscrolling.

Cambridge Dictionary menjelaskan doomscrolling sebagai kebiasaan menghabiskan banyak waktu melihat telepon atau komputer untuk terus membaca berita buruk atau negatif.

Kita sebenarnya sudah capek, tetapi jempol terus bergerak satu video dibuka lalu video berikutnya, kemudian komentar, kemudian balasan komentar, tiba-tiba 30 menit hilang.

Tidak ada pengetahuan berarti yang kita peroleh. Yang bertambah justru rasa kesal, takut, marah atau putus asa.

Itulah doomscrolling. Kita tidak lagi membaca berita untuk mengetahui sesuatu. Kita seperti terseret oleh berita.

Fenomena itu bukan persoalan kecil digital News Report 2026 yang diterbitkan Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, menunjukkan perubahan besar cara masyarakat Indonesia berhubungan dengan berita.

Sebanyak 64 persen responden Indonesia dalam laporan itu mengatakan mendapatkan berita melalui platform media sosial. Sebanyak 37 persen mengatakan mereka kadang-kadang atau sering menghindari berita. Tingkat kepercayaan terhadap berita secara umum berada pada 32 persen. Angka itu menarik untuk direnungkan.

Orang membutuhkan berita, tetapi pada saat yang sama sebagian orang mulai menjauhinya, mengapa?

Boleh jadi persoalannya bukan karena masyarakat tidak ingin mengetahui keadaan, mereka lelah. Lelah dengan konflik yang tidak selesai.

Lelah dengan politik yang setiap hari gaduh. Lelah melihat hukum yang dalam pandangan sebagian masyarakat terasa tajam kepada satu pihak tetapi tumpul kepada pihak lain.

Lelah melihat tokoh yang semestinya memberikan teladan justru menjadi sumber kegaduhan. Lelah pula karena berita buruk datang tanpa jeda.

Reuters Institute sendiri dalam laporan tahunannya melihat kecenderungan menghindari berita sebagai persoalan yang semakin besar dalam lingkungan informasi yang berlimpah. Secara global, empat dari sepuluh responden pada laporan 2025 mengatakan kadang-kadang atau sering menghindari berita.

Inilah yang sering disebut news fatigue, atau kelelahan terhadap berita.

Dari Ruang Redaksi ke Ruang Algoritma

Ada perubahan lain yang menurut saya jauh lebih besar. Kita sedang bergerak dari newsroom menuju newsfeed.

Newsroom adalah ruang redaksi sedangkan Newsfeed adalah halaman yang terus menyodorkan konten berdasarkan perhitungan sistem komputer atau algoritma. Keduanya mempunyai logika yang berbeda. Seorang editor seharusnya bertanya: “Apakah masyarakat perlu mengetahui ini?”

Algoritma bekerja dengan pertanyaan lain:

“Apakah orang akan berhenti menggulir layar ketika melihat ini?”

Perbedaannya kelihatan sederhana. Dampaknya luar biasa. Kita kemudian mengenal apa yang disebut attention economy atau ekonomi perhatian.

Dalam ekonomi perhatian, waktu dan perhatian manusia mempunyai nilai ekonomi. Semakin lama kita berada di sebuah platform, semakin besar kemungkinan kita melihat iklan, bereaksi, berkomentar, membagikan konten atau membeli sesuatu. Maka perhatian kita diperebutkan.

Masalahnya, salah satu cara tercepat mendapatkan perhatian manusia adalah membangkitkan emosi. Terutama kemarahan.

Karena itu muncul istilah rage bait. Secara sederhana, rage bait adalah konten yang sengaja dibuat provokatif untuk memancing kemarahan agar orang berkomentar, berdebat dan membagikannya.

Istilah ini bahkan dipilih Oxford University Press sebagai Oxford Word of the Year 2025. Oxford mendefinisikannya sebagai konten daring yang dengan sengaja dirancang untuk memunculkan kemarahan atau kejengkelan demi meningkatkan lalu lintas maupun interaksi.

Ini menarik, dulu internet berusaha membuat kita penasaran.

Sekarang internet juga belajar membuat kita marah dan kemarahan ternyata laku.

Fenomena Viral Dianggap Penting

Di sinilah persoalan media menjadi semakin rumit. Kita, orang media, juga hidup dalam ekosistem yang sama media membutuhkan pembaca, media membutuhkan iklan.

Perusahaan media harus membayar wartawan, editor, fotografer, teknologi, server dan biaya operasional.

Maka godaannya besar sekali. Berita penting belum tentu ramai. Berita ramai belum tentu penting.

Sebuah kebijakan publik yang menentukan kehidupan ribuan orang mungkin hanya dibaca beberapa ribu kali.

Sementara pertengkaran dua tokoh bisa menghasilkan ratusan ribu klik dalam hitungan jam. Lalu apa yang harus dipilih media?

Di sinilah sebenarnya martabat sebuah ruang redaksi diuji.

Kalau seluruh keputusan redaksi diserahkan kepada angka pembaca, perlahan-lahan media bisa kehilangan alasan keberadaannya.

Kita berubah dari perusahaan pers menjadi pabrik konten. Wartawan akhirnya bertanya, “Apa yang viral hari ini?”

Padahal pertanyaan pertama seorang wartawan semestinya tetap: “Apa yang perlu diketahui masyarakat hari ini?”

Viralitas memang tidak haram. Tetapi viralitas tidak boleh menjadi kompas tunggal jurnalisme.

Pers Bukan Sekadar Konten

Kita sering menyebut pers sebagai pilar keempat demokrasi. Ungkapan itu terdengar gagah.

Tetapi saya kira sudah waktunya kita bertanya kembali: masihkah pers menjalankan fungsi itu dengan sungguh-sungguh?

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sebenarnya memberikan amanat yang jelas.

Pers mempunyai fungsi informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Undang-undang yang sama memberi peran kepada pers untuk memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, mendorong supremasi hukum, mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar, melakukan pengawasan serta kritik terhadap kepentingan umum, dan memperjuangkan keadilan serta kebenaran. Kalimat terakhir itu berat: memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Artinya pekerjaan pers tidak berhenti ketika berita sudah tayang.

Jurnalisme bukan sekadar memindahkan ucapan pejabat ke layar pembaca.

Bukan pula hanya mengejar siapa paling cepat. Kalau sekadar cepat, media sosial hampir selalu menang.

Bagi saya, tugas jurnalisme justru semakin penting ketika informasi semakin banyak.

Jurnalisme harus memberikan konteks. Menghubungkan satu fakta dengan fakta lain.

Memisahkan fakta dari propaganda, memeriksa klaim, mendatangi sumber, mendengar pihak yang jarang mempunyai mikrofon dan kalau kekuasaan mengatakan sesuatu, wartawan tidak cukup hanya mencatatnya. Wartawan harus bertanya: benarkah?

Kita Hidup di Zaman Pasca Kebenaran

Istilah lain yang penting dipahami adalah post-truth, atau pascakebenaran.

Oxford pernah memilih post-truth sebagai Word of the Year pada 2016. Istilah itu menggambarkan keadaan ketika fakta objektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi. Saya kira kita sering melihatnya sekarang.

Orang menerima berita bukan pertama-tama dengan pertanyaan: “Apakah ini benar?” Tetapi: “Apakah ini menguntungkan orang yang saya dukung?” Kalau cocok dengan keyakinannya, berita langsung dibagikan. Kalau tidak cocok, sumbernya yang diserang.

Media sosial kemudian memperparah keadaan melalui apa yang disebut echo chamber atau ruang gema.

Kita mengikuti orang yang sepemikiran, berteman dengan orang yang sependapat, menonton video yang sesuai dengan selera kita.

Algoritma membaca kebiasaan itu, kemudian memberikan lebih banyak hal serupa.

Akhirnya kita hidup dalam ruangan digital yang terus mengulang keyakinan kita sendiri.

Kita merasa seluruh dunia berpikir seperti kita, padahal tidak.

Demokrasi justru membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: kemampuan mendengar pandangan yang berbeda tanpa kehilangan akal sehat.

EKONOMI, POLITIK DAN RASA TIDAK PASTI

Saya memahami mengapa masyarakat hari ini mudah lelah. Ada ketidakpastian global. Perang belum sepenuhnya berhenti di berbagai belahan dunia, persaingan antarnegara semakin keras.

Teknologi dan kecerdasan buatan mengubah pekerjaan. Politik nasional maupun lokal terus bergerak.

Di rumah, masyarakat tetap harus memikirkan sekolah anak, kesehatan, cicilan, pekerjaan, harga beras, bahan bakar dan kebutuhan sehari-hari.

Tetapi sebagai orang media, kita juga harus hati-hati menggunakan kalimat “ekonomi sedang merosot”.

Keadaan ekonomi tidak pernah sesederhana satu kalimat.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Sementara Survei Konsumen Bank Indonesia pada bulan yang sama menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen masih berada pada zona optimistis, 118,1. Namun indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi saat ini turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September. Angka diperlukan.

Tetapi kehidupan tidak dijalani di dalam tabel Excel.

Seorang kepala keluarga tidak pergi ke pasar membawa grafik pertumbuhan ekonomi. Ia membawa uang.

Seorang ibu tidak menghitung inflasi nasional ketika membeli kebutuhan dapur.

Ia melihat apakah uang di dompetnya masih cukup sampai akhir bulan.

Itulah sebabnya jurnalisme harus mampu melihat dua dunia sekaligus: dunia statistik dan dunia manusia.

Data tanpa pengalaman manusia terasa dingin. Pengalaman tanpa data mudah berubah menjadi prasangka.

Jurnalisme yang baik mempertemukan keduanya.

BELAJAR “TABAYYUN” DI ZAMAN DIGITAL

Sebenarnya peradaban kita mempunyai pegangan yang sangat kuat untuk menghadapi banjir informasi. Dalam tradisi Islam ada konsep tabayyun.

Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6, mengajarkan agar sebuah berita diperiksa kebenarannya supaya manusia tidak bertindak berdasarkan ketidaktahuan kemudian menyesal. Terjemahan resmi Kementerian Agama menggunakan kalimat “telitilah kebenarannya”.

Bayangkan. Prinsip itu hadir berabad-abad sebelum Facebook, TikTok, WhatsApp atau mesin pencari.

Hari ini tabayyun justru semakin relevan. Jangan langsung percaya karena sebuah video sudah ditonton sejuta orang.

Jangan langsung membagikan kabar hanya karena dikirim orang yang kita kenal.

Jangan menganggap sebuah tangkapan layar sebagai kebenaran. Cari sumber pertamanya.

Periksa tanggal, lihat konteks, baca sampai selesai, dan yang tidak kalah penting: berani berkata, “Saya belum tahu.”

Di zaman semua orang ingin mempunyai pendapat tentang segala hal, kemampuan mengatakan “saya belum tahu” justru merupakan kemewahan intelektual.

ELING LAN WASPADA

Kebudayaan Jawa pun mempunyai pegangan yang sederhana tetapi dalam: eling lan waspada.

Ingat dan waspada.

Ungkapan itu kuat berkaitan dengan Serat Kalatidha karya Ranggawarsita. Kajian mengenai teks tersebut menjelaskan “eling” sebagai ingat dan menempatkan sikap ingat serta waspada sebagai pegangan menghadapi keadaan zaman yang tidak menentu. Saya menyukai falsafah itu.

Eling bukan berarti takut kepada zaman. Waspada bukan berarti mencurigai semuanya.

Eling adalah tidak kehilangan pegangan.

Waspada adalah tidak menyerahkan pikiran begitu saja kepada apa yang lewat di depan mata.

Kalau diterjemahkan dalam kehidupan digital hari ini mungkin bunyinya sederhana: jangan biarkan algoritma mengenal diri kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri.

SETELAH MEMBACA BERITA, BACALAH SESUATU YANG LEBIH TUA DARI BERITA

Saya mempunyai satu usulan sederhana. Setelah membaca berita, sesekali bacalah sesuatu yang lebih tua daripada berita. Baca sejarah.

Sejarah memberi jarak. Ia mengingatkan bahwa manusia pernah menghadapi perang, krisis, pergantian kekuasaan, penyakit, konflik dan ketidakpastian sebelumnya.

Baca sastra. Sebab berita menjelaskan apa yang terjadi, tetapi sastra sering membantu kita memahami apa yang dirasakan manusia ketika sesuatu terjadi.

Baca filsafat. Ia melatih kita untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan.

Baca kitab suci dan karya-karya kebijaksanaan.

Tidak semua yang kita perlukan dalam hidup adalah informasi baru. Ada saatnya kita justru membutuhkan kebijaksanaan lama.

Baca pula karya mengenai kampung sendiri, sejarah desa, cerita rakyat, naskah lama, biografi orang-orang terdahulu.

Datangi museum, datangi situs sejarah, dengarkan cerita orang tua.

Sebab manusia yang kehilangan ingatan kebudayaannya akan sangat mudah diarahkan oleh apa pun yang sedang viral hari ini.

KEBUDAYAAN BUKAN ACARA SEREMONIAL

Kita sebenarnya mempunyai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menariknya, undang-undang itu meletakkan kebudayaan sebagai investasi untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa. Pemajuan kebudayaan dilakukan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.

Saya kira kata “peradaban” perlu digarisbawahi. Kebudayaan bukan hanya pertunjukan tari, bukan sekadar festival, bukan hanya pakaian adat.

Bukan sekadar agenda seremonial menjelang hari jadi daerah.

Kebudayaan adalah cara kita memandang hidup, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita menghormati perbedaan, cara kita berbicara, cara kita menggunakan kekuasaan, cara kita memperlakukan alam.

Bahkan cara kita memilih berita untuk dibaca dan dibagikan adalah persoalan kebudayaan.

Karena itu saya percaya persoalan literasi bukan hanya soal bisa membaca huruf. Literasi adalah kemampuan membaca dunia.

MUNGKIN KITA MEMBUTUHKAN “DIET BERITA”

Tubuh tidak menjadi sehat karena makan sebanyak-banyaknya, begitu pula pikiran. Mungkin kita membutuhkan diet berita, bukan berhenti membaca berita, justru memilih berita dengan lebih sadar.

Tidak perlu membuka semua notifikasi, tidak perlu mengikuti semua pertengkaran.

Tidak perlu merasa bersalah karena terlambat mengetahui sebuah isu selama dua jam.

Pilih beberapa media yang bisa dipercaya.

Baca berita sampai selesai, bukan hanya judul.

Sesekali baca laporan panjang.

Bandingkan sumber.

Jangan menjadikan kolom komentar sebagai sumber kebenaran.

Dan sesekali, matikan layar.

Kemerdekaan Terakhir Ada di Kepala Kita 

Pada akhirnya, seni menikmati berita adalah seni menjaga kemerdekaan yang paling pribadi: kemerdekaan berpikir.

Kita mungkin tidak mampu menghentikan perang.

Tidak mampu mengatur perilaku elite politik.

Tidak bisa menentukan keputusan hakim.

Tidak mampu menghentikan algoritma.

Tidak mungkin membaca seluruh informasi yang diproduksi dunia setiap hari.

Tetapi ada beberapa hal yang masih dapat kita kuasai.

Apa yang kita baca.

Siapa yang kita percaya.

Apa yang kita bagikan.

Berapa lama kita berada di depan layar.

Dan bagaimana kita bereaksi.

Itulah wilayah kemerdekaan kita.

Sesekali setelah membaca berita buruk, letakkan telepon genggam.

Minum kopi.

Bicara dengan pasangan.

Bermain dengan anak.

Membaca buku.

Mendengarkan musik.

Menonton pertunjukan.

Mengunjungi situs sejarah.

Menanam pohon atau diam saja beberapa menit, itu bukan sikap apatis, mungkin justru itu cara kita menyelamatkan diri agar besok masih mempunyai tenaga untuk peduli.

Karena dunia tidak kekurangan orang yang tahu apa yang sedang viral.

Dunia kekurangan orang yang memahami apa yang sedang terjadi dan jurnalisme, kalau masih ingin disebut penting bagi demokrasi, tidak cukup membuat masyarakat mengetahui lebih banyak.

Jurnalisme harus membantu masyarakat memahami lebih baik.

Saya kira di situlah seni menikmati berita akhirnya menemukan maknanya.

Tetap membaca, tetapi jangan mabuk informasi.

Tetap kritis, tetapi jangan memelihara kebencian.

Tetap mengikuti zaman, tetapi jangan kehilangan pegangan.

Tetap mempertanyakan kekuasaan, tetapi jangan kehilangan kemampuan melihat kebaikan.

Dan ketika dunia terasa terlalu bising, ingatlah bahwa tidak semua suara harus kita masukkan ke kepala.

Eling lan waspada. Sebab berita memang penting. Tetapi hidup jauh lebih luas daripada berita.

Catatan Sumber untuk Redaksi

1. Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, Digital News Report 2026, bagian Indonesia. Data yang digunakan: 64 persen responden Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial, 37 persen kadang atau sering menghindari berita, dan tingkat kepercayaan umum terhadap berita 32 persen.

2. Reuters Institute for the Study of Journalism, Digital News Report 2025, bagian Executive Summary, mengenai fenomena news avoidance atau penghindaran berita.

3. Oxford University Press, Oxford Word of the Year 2025. Rage bait ditetapkan sebagai Word of the Year 2025.

4. Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, entri “doomscrolling”.

5. Oxford University Press, catatan Oxford Word of the Year 2016 mengenai istilah post-truth.

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Rujukan regulasi: JDIH BPK. Fungsi pers terutama merujuk Pasal 3 dan peran pers Pasal 6.

7. Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik 1 Oktober 2026. Inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan.

8. Bank Indonesia, Survei Konsumen September 2026, diterbitkan 8 Oktober 2026. Indeks Keyakinan Konsumen 118,1 dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini 107,5.

9. Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6, terjemahan resmi Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia.

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Rujukan regulasi: JDIH BPK.

11. Chinda Pandu Permana dan Endang Nurhayati, kajian “Ragam Bahasa Serat Kalatidha serta Relevansinya dalam Pembelajaran Bahasa Jawa”, tersedia melalui Garuda Kemdikbud, digunakan sebagai salah satu rujukan mengenai konsep eling dan waspada dalam Serat Kalatidha.

Pos terkait