Opini: Jaman Edan, Jangan Ikut Ngedan Eling lan Waspada buat Generasi yang Capek Domscrolling

Oleh Imam Mubarok — Pemimpin Redaksi Metaranews.co

Jujur aja deh. Belakangan buka HP rasanya kayak buka kotak pandora. Scroll dikit, berita politik bikin dada sesak. Scroll lagi, debat di kolom komentar makin panas. Scroll terus, eh, sudah jam dua pagi dan kita cuma dapat satu hal: overthinking.

Perasaan itu bukan cuma milik kamu. Survei SMRC Oktober 2026 mencatat sekitar 44,1 persen warga menilai kondisi politik kita buruk atau sangat buruk. Beberapa bulan sebelumnya, Juli 2026, yang menilai kondisi politik “baik” cuma sekitar 13,5 persen. Artinya, mayoritas dari kita sedang merasakan hal yang sama: negeri ini lagi nggak baik-baik saja.

Pertanyaannya: terus kita harus ngapain? Ikut ngamuk? Pura-pura nggak peduli? Atau kabur ke mode healing sampai lupa pulang?

Ternyata, leluhur kita sudah bikin “thread” soal ini lebih dari 160 tahun lalu.

Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga besar Keraton Surakarta, menulis Serat Kalatidha di tengah zaman yang ia sebut sendiri sebagai jaman edan. Bait paling terkenalnya berbunyi:

Amenangi jaman édan, ewuh aya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya kéduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling lawan waspada.

Bahasa gampangnya: hidup di zaman edan itu serba salah. Ikut gila, batin nggak kuat. Nggak ikut gila, nggak kebagian apa-apa, ujung-ujungnya kelaparan. Tapi atas kehendak Tuhan, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa diri, jauh lebih beruntung orang yang eling dan waspada.

Relate banget, kan? Ranggawarsita nggak kenal TikTok, tapi dia paham betul rasanya hidup di tengah sistem yang bikin orang jujur kelihatan bodoh. Dan jawabannya bukan ikut arus, bukan juga menyerah. Jawabannya: tetap waras.

Dari situ, filosofi Jawa punya lima pegangan yang menurut saya relevan banget buat generasi sekarang.

1.Eling lan Waspada: Waras Dulu, Share Belakangan

Eling artinya ingat. Ingat Gusti, ingat jati diri, ingat dari mana kita berasal dan mau ke mana (sangkan paraning dumadi). Orang yang eling punya jangkar. Badai sebesar apa pun, dia nggak gampang hanyut.

Waspada artinya peka dan tajam membaca situasi. Di era sekarang, waspada itu wujudnya sederhana tapi berat: cek dulu sebelum share. Jangan gampang kepancing judul provokatif. Jangan mau jadi pion di perang buzzer siapa pun. Kalau ada konten yang bikin kamu marah dalam lima detik, justru itu alarm untuk berhenti dan bertanya: siapa yang untung kalau aku marah?

Di zaman edan, kemarahan itu komoditas. Orang yang eling lan waspada nggak gampang dijual.

2.Narimo ing Pandum: Terima Kenyataan, Bukan Menyerah

Ini sering disalahpahami. Narimo ing pandum bukan berarti pasrah bongkokan, diam saja, “ya sudahlah”. Bukan.

Narimo itu menerima kenyataan hari ini dengan dada lapang, supaya kepala kita dingin. Ada hal-hal yang memang di luar kendali kita: keputusan elite, drama di gedung parlemen, kebijakan yang bikin geleng-geleng. Kalau semua itu kita telan mentah-mentah jadi beban pribadi, kita cuma dapat cemas dan burnout.

Anak sekarang menyebutnya: bedakan circle of control dan circle of concern. Orang Jawa sudah lama menyebutnya narimo. Hati tenang dulu, baru bisa mikir jernih, baru bisa melangkah.

3.Sumeleh: Sudah Usaha Maksimal? Taruh Egonya

Sumeleh artinya meletakkan. Meletakkan ego, meletakkan rasa “semua harus sesuai mauku”, lalu berserah kepada Yang Maha Kuasa setelah kita berusaha sebaik-baiknya.

Urutannya penting: usaha dulu, baru sumeleh. Kamu sudah bersuara, sudah memilih dengan sadar, sudah mengawal isu dengan cara yang benar? Bagus. Setelah itu, lepaskan sisanya. Sumeleh bikin kita tetap berjuang tanpa kehilangan kewarasan. Ini bukan giving up, ini letting go yang dewasa.

4.Mulat Sarira Hangrasa Wani: Berani Ngaca

Ini yang paling nampar. Mulat sarira hangrasa wani artinya berani mawas diri, berani mengoreksi diri sendiri.

Gampang banget menyalahkan pemerintah, oposisi, influencer, atau “sistem”. Dan kritik itu perlu, sangat perlu. Tapi coba sesekali tanya: aku sendiri sudah jujur belum? Masih suka nyontek, nitip absen, atau “ya udah lah, semua orang juga gitu”?

Negara yang bobrok itu jarang lahir dari satu orang jahat. Biasanya dari jutaan orang yang permisif terhadap hal kecil. Kalau mau negeri ini berubah, perubahan paling cepat yang bisa kita kontrol adalah diri sendiri.

5.Memayu Hayuning Bawana: Kebaikan Kecil Itu Nggak Receh

Memayu hayuning bawana artinya ikut memperindah dan menjaga keselarasan dunia. Di tengah situasi sesulit apa pun, orang Jawa tetap memilih berbuat baik dan merawat harmoni dengan sesama dan alam.

Wujudnya bisa sesederhana: bantu tetangga yang lagi susah, ikut gerakan sosial di kampungmu, jaga ucapan di media sosial, bikin konten yang mencerahkan alih-alih memecah. Kebaikan kecil yang konsisten itu menular. Dan ketika cukup banyak orang melakukannya, suasana bangsa ikut berubah.

Tenang, Tapi Tetap Menyala

Jadi, buat kamu yang lagi capek sama keadaan: wajar. Kamu nggak lebay. Kondisinya memang berat.

Tapi ingat pesan Ranggawarsita. Di zaman edan, kemenangan sejati bukan milik yang paling keras teriak atau yang paling licin ikut arus. Kemenangan milik mereka yang eling lan waspada: hatinya tenang, pikirannya jernih, nuraninya tetap hidup.

Kita nggak perlu memilih antara jadi apatis atau jadi beringas. Ada jalan ketiga: tenang tapi menyala. Kritis tapi nggak kehilangan akal sehat. Peduli tapi nggak terbakar habis.

Negeri ini nggak butuh lebih banyak orang yang marah. Negeri ini butuh lebih banyak orang yang waras dan berani.

Dan siapa tahu, perubahan itu dimulai dari kamu. Hari ini. Saat kamu memilih menutup aplikasi, menarik napas, dan bertanya pada diri sendiri: aku masih eling, kan?

Pos terkait