Suara yang Menemani Kala Itu Kini Pamitan, Radio Wijangsongko Resmi Tutup Siar Mulai 1 April 2026

Radio Wijangsongko
Caption: Siaran terakhir Lek Doel dan Anggi siang ini di Radio RWS FM, Selasa (31/3/2026). Doc: Ubai/Metaranews.co

Metaranews.co, Kota Kediri – Selasa (31/3/2026) menjadi hari terakhir Radio Wijangsongko (RWS) mengudara. Setelah puluhan tahun menemani pendengar, stasiun radio legendaris ini resmi pamitan.

Di berbagai program, para penyiar senior berpamitan satu per satu. Suasana haru tak terbendung. Sejumlah penyiar bahkan tak kuasa menahan emosi, dengan suara parau yang menandai perpisahan panjang.

“‎Mohon maaf ya kawan-kawan, mulai besok kalian tidak bisa lagi mendengarkan program di Radio Wijangsongko,” kata penyiar Lek Doel, Selasa (31/3/2026).

“‎Ini bukan April Mop ya, ini bukan prank, mau tidak mau suka atau tidak suka ini kenyataannya,” saut Anggi dalam siaran siang itu.

Mulai 1 April 2026, RWS resmi menghentikan siarannya setelah 58 tahun mengudara.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar berhentinya sebuah stasiun radio. Namun bagi warga Kediri dan sekitarnya, ini adalah kehilangan seorang “teman lama” yang setia hadir tanpa pernah terlihat.

Didirikan pada 1968 dengan nama Radio Patimura, RWS tumbuh mengikuti perkembangan zaman.

Dari frekuensi AM hingga beralih ke FM pada era 1990-an, radio ini tak hanya beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga menjadi saksi perubahan cara masyarakat mengakses informasi.

Manajer RWS, Lindawati, mengakui keputusan menghentikan siaran bukanlah hal mendadak. Wacana tersebut telah lama muncul, terutama sejak pandemi COVID-19 mempercepat perubahan besar dalam industri media.

“Per 1 April ini kami tidak mengudara. Keputusan ini diambil karena faktor kepemilikan tunggal, dan pimpinan Bapak Pintero Utomo yang kini berusia 83 tahun memutuskan untuk pensiun,” ujarnya saat ditemui, Selasa (31/3/2026).

Di balik keputusan itu, tersimpan realitas yang lebih luas, media arus utama, termasuk radio, tengah memasuki fase senja. Digitalisasi, platform streaming, dan media sosial perlahan menggeser peran media konvensional.

Pendengar kini tidak lagi bergantung pada jadwal siaran. Akses informasi menjadi serba instan, personal, dan berada dalam genggaman.

“‎Radio yang dahulu hidup dari kedekatan emosional kini berhadapan dengan algoritma,” katanya.

Koordinator siaran, Asti Wibowo, mengenang program “Pak Piket” yang setia menemani para pekerja malam, mulai dari penjaga warung hingga buruh yang bekerja dalam sunyi dini hari.

Di pagi hari, suara penyiar RWS menjadi semacam alarm, membangunkan, menyapa, sekaligus mengawali aktivitas pendengar.

“Radio ini hidup dari interaksi. Dari tawa pendengar, dari telepon masuk, dari sapaan yang terasa dekat,” tuturnya.

Di ruang siar sederhana itu, lahir banyak suara khas, penyiar yang tak sekadar membaca naskah, tetapi membangun karakter.

Nama “Wijangsongko”, menurut Asti, berarti “putih bersih”, sebuah filosofi yang dijaga sepanjang perjalanan, menghadirkan siaran yang jernih, ringan, dan menghibur.

Tak hanya di udara, RWS juga hadir di tengah masyarakat. Kegiatan off air seperti jalan sehat pernah menutup ruas jalan dan menyatukan ribuan orang.

Program kuis interaktifnya menjangkau pendengar dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung hingga Trenggalek, membuktikan bahwa gelombang radio mampu melampaui batas geografis.

Sementara itu, Tata Tomato, salah satu pendengar setia, mengaku kehilangan.

“Sedih, karena biasanya selalu menemani dari pagi sampai sore,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu cukup menggambarkan peran radio dalam kehidupan sehari-hari, hadir tanpa diminta, menemani tanpa syarat.

Pos terkait