Metatanews.co, Kediri — Ratusan pedagang Pasar Bandar, Kota Kediri, melakukan aksi mogok berjualan, Selasa (1/9/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap sejumlah regulasi dan pungutan dalam pengelolaan pasar.
Yunus, pedagang gerabah sekaligus perwakilan pedagang, mengatakan aksi mogok hanya berlangsung satu hari. Sebelumnya, sejumlah pedagang sempat mengusulkan aksi selama tiga hari.
Menurut Yunus, pedagang ingin Pemkot Kediri, Perumda Pasar Joyoboyo sebagai pengelola, DPRD Kota Kediri, dan perwakilan pedagang duduk bersama untuk mencari solusi.
“Kami ingin duduk bersama dan membuat kesepakatan. Tujuannya supaya Pasar Bandar bisa kembali ramai, perekonomian pedagang berjalan, dan kewajiban retribusi juga bisa dipenuhi,” ujar Yunus, Selasa (1/8/2026).
Pedagang menilai sejumlah kebijakan pengelola tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Salah satunya penutupan akses di pintu utara dan selatan pasar yang menurut mereka berdampak pada penurunan jumlah pengunjung. Yunus memperkirakan jumlah pengunjung kini hanya sekitar 30 hingga 35 persen dibanding sebelumnya.
“Dulu jalan tengah ini jalan umum. Orang yang lewat bisa melihat barang dagangan dan ada peluang untuk membeli. Setelah pintu utara dan selatan ditutup, pengunjung menurun drastis,” ungkapnya.
Pedagang juga mempersoalkan kewajiban sewa kios sebesar Rp200.000 per tahun. Selain itu, mereka mengaku menerima tagihan tambahan dengan nominal bervariasi, mulai Rp80.000 hingga Rp1,2 juta. Menurut Yunus, tagihan tersebut dipersoalkan karena pedagang tidak mendapatkan rincian mengenai dasar penghitungannya.
“Tidak ada rincian yang jelas. Kami mempertanyakan dasar penghitungan dan transparansinya,” katanya.
Pedagang juga menyoroti informasi mengenai rencana penarikan biaya masuk bagi pedagang. Sementara untuk pengunjung, saat ini disebut dikenai tarif Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Yunus menegaskan pedagang tidak menolak adanya aturan. Namun, mereka meminta setiap kebijakan mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan pedagang.
“Kami tidak muluk-muluk. Kami ingin pasar ini ramai dan ekonomi masyarakat kecil berjalan. Kalau pasar ramai, kewajiban retribusi juga bisa kami penuhi,” ujarnya.
Melalui aksi tersebut, pedagang berharap pemerintah daerah dan pengelola segera membuka ruang dialog untuk mencari kesepakatan, sehingga aktivitas perdagangan di Pasar Bandar kembali bergairah.






