Metaranews.co, Kediri – Ratusan pedagang dan warga di kawasan Kampung Inggris, Pare berbondong-bondong mengikuti kelas Bahasa Inggris yang digagas oleh Forum Kampung Bahasa lewat program Kampung Inggris Mengajar (KIM) V.
Ketua Forum Kampung Bahasa (FKB) Ahmad Farih, S.Pd., S.M., mengatakan kegiatan tersebut digelar mulai tanggal 5 hingga 16 Oktober 2026 dan diikuti sebanyak 350 orang.
”Ini adalah program tahun kelima diadakan untuk membekali peserta agar mampu melayani pelanggan dan pendatang dengan percakapan bahasa Inggris sehari-hari,” jelas Farih, Rabu (7/10/2026).
Farih mengatakan KIM merupakan program rutin Divisi Pendidikan FKB. Program ini berawal dari upaya membantu masyarakat sekitar setelah aktivitas Kampung Inggris sempat terdampak pandemi Covid-19. Sasarannya terutama warga Desa Tulungrejo dan Pelem agar mampu berkomunikasi dengan pendatang dan peserta kursus.
Melalui program ini kata Farih warga diharapkan tidak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik serta menambah nilai ekonomi dan membantu usaha warga berkembang, sehingga pelayanan kepada tamu pun semakin baik.
“Harapannya memang ke depan Kampung Inggris semakin maju, semakin berkembang,” kata Farih.
Dia juga menjelaskan, pelatihan berlangsung di kawasan Pusat Kuliner Kampung Inggris, Jalan Pancawarna, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare.
”Pembelajaran dibagi ke dalam 23 pos sinau, masing-masing Pos didampingi satu tutor dari lembaga kursus yang tergabung dalam FKB. Selain pedagang dan warga, sekitar 11–12 anggota kepolisian turut mengikuti kelas melalui program Brigadir Kampung Inggris,” ungkapnya.
Untuk saat ini, KIM masih berfokus pada bahasa Inggris. Namun, FKB berharap program tersebut bisa dikembangkan ke bahasa lain.
“Harapan kami dari Forum Kampung Bahasa ke depan bisa juga nanti kita membuka kelas selain bahasa Inggris, kelas Mandarin atau kelas bahasa Arab,” ujar Farih.
Ditempat yang sama, Supervisor KIM V, Naima Fuza, menjelaskan bahwa mayoritas peserta masih berada pada tingkat pemula. Karena itu, pembelajaran diarahkan pada kemampuan berbicara yang bisa langsung dipakai dalam keseharian.
“Key focus kita adalah speaking skill,” jelas Naima.
Fuza menjelaskan, materi yang diajarkan mencakup sapaan, aktivitas berjualan, percakapan ringan dengan pelanggan, hingga cara menjelaskan tentang Kampung Inggris.
”Peserta juga dilatih berkomunikasi saat bertransaksi, menerima pesanan, menanggapi permintaan, dan menghadapi keluhan pelanggan,” ucapnya.
Sementara itu, Heni salah satu peserta kelas UMKM mengaku senang atas adanya kelas bahasa untuk pedagang.
Dalam aktivitas berjualan, ia terkadang berhadapan dengan pelanggan maupun anak-anak yang berbicara dalam bahasa Inggris.
“Kadang-kadang kalau mereka berbicara, kita tidak mengerti, kalau tidak mengerti kita tidak enak dengan pembeli,” ujar Heni.
Dalam proses belajar, Heni memilih kelas pagi karena malam hari harus berjualan.
”Program ini bagus, kelasnya menyenangkan dan tidak membosankan. Saya juga bisa bertemu dan berkenalan dengan peserta lain,” pungkasnya.






