Seni Mencintai ala Fahruddin Faiz, Jangan Jatuh Cinta Karena itu Kebetulan

Dr Fahruddin Faiz
Dua pasangan yang saling mencintai. (Pexels)

Metaranews.co, Hiburan – Mencintai seseorang jangan asal, Dr Fahruddin Faiz menjabarkan, jangan jatuh cinta, karena itu semua kebetulan.

Mencintai bukanlah sebuah hal kebetulan. Karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini, meskipun ada, namun hanya beberapa persen saja.

Bacaan Lainnya

Mencintai identik dengan rasa suka, diawali dengan pertemuan, berlanjut ke perkenalan, semakin dekat, jatuh cinta hingga pada akhir putus ditengah jalan.

Dr. Fahruddin Faiz, seorang dosen yang  lahir di Mojokerto pada 16 Agustus 1975, kerap kali membagikan ilmu yang  membahas tema-tema filsafat.

Kali ini, dirinya menjabarkan, bagaimana makna mencintai dan dicintai yang sering dilalui setiap orang. Baginya, jatuh cinta merupakan sebuah kebetulan dan belum tentu itu cinta.

Melansir YouTube Bassamtebe, Sabtu (8/4/2023). Dalam satu kajiannya, Fahruddin Faiz menjelaskan jika itu merupakan seni.

Ia mengutip apa yang pernah ditulis oleh, Erich Fromm, katanya, kebanyakan orang mendefinisikan cinta itu sebagai rasa suka terhadap sesuatu dan sifatnya seperti kebetulan atau anugerah. Makanya, ada istilahnya jatuh cinta atau falling in love.

Kata Faiz, bagi Fromm cinta tidak seperti itu. Malah jika diperhatikan, cinta itu seperti sebuah seni. Karena seni, maka harus paham dan dipraktekkan.

“Dan ukurannya bukan apa yang kamu cintai, melainkan bagaimana kamu mencintai,” ucapnya.

Lebih lanjut, terkadang cinta hanya diartikan perasaan dua orang yang menjadi satu. Sejatinya hal itu mudah untuk dibantah. Dua orang tidak akan pernah menjadi satu, hanya status yang bisa, namun karakter tidak.

Dalam kasusnya, banyak orang lebih fokus mencari apa yang kamu cinta. Sehingga tujuannya adalah memuaskan kepuasan diri. Padahal, cinta tidak begitu.

Jangan terlalu fokus perihal apa yang kamu cintai, karena untuk menjadi pribadi yang mencintai, fokuslah untuk mencoba bagaimana cara mencintai yang baik, bukan soal apa yang kita cintai.

“Jadi, cinta itu bukan kamu mencintai pada siapa, melainkan bagaimana caramu mencintai. Jadi kamu tidak perlu capek-capek untuk mencari yang cocok untuk dirimu. Namun, ubahlah perilaku menjadi seorang pecinta,” ungkapnya.

Cintailah dengan benar, ketika itu sudah terjadi, segala sesuatu pasti akan lebih layak untuk dicintai. Jika kamu fokus pada apa yang layak kamu cintai, jadinya kamu lebih pemilih. Hal ini egois, dan pemilih ini akan sangat fokus pada diri sendiri.

“Ubah, dan fokuslah pada cara mencintai yang benar,” katanya.

Baginya, untuk mencintai tidak melulu harus ada dulu seseorang yang dicintai. Hal yang harus ditanamkan pertama kali ialah tahu dulu bagaimana mencintai yang baik dan benar.

“Seperti contoh, jika membuat tulisan, harus mengerti dulu Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) nya dahulu. Lain lagi seperti menulis skripsi, fokuslah pada caramu menulis, bukan fokus untuk mencari objek terlebih dahulu,” ujarnya.

“Jika kamu menemukan objek namun belum mengerti bagaimana cara menulis skripsi itu, maka hasilnya akan berantakan,” katanya melanjutkan.

Cinta itu bukan sekedar perasaan suka. Cinta itu seperti seni, harus dipelajari. Seperti ketika kecil, kamu sangat suka bernyanyi dan memang bisa. Namun, jika ingin lebih bagus, maka harus belajar.

Dalam banyak kasus, terkadang orang yang mencintai tidak sadar malah merusak yang dicintai, atau sebaliknya merusak dia sendiri yang mencintai.

Karena relasi paling agung antar manusia itu cinta, dan itu diidentifikasi jauh sebelum lahirnya filsafat. Dunia ini berputar karena adanya cinta kalau tidak berhenti.

“Cinta itu aktif, tidak pasif, jangan diam saja. Jika kamu diam saja, maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Jika sudah dapat, harus tahu apa yang harus dilakukan. Ketika keliru, bisa blunder,” imbuhnya.

Cinta itu bukan Falling in, melainkan Standing. Jika diartikan, bukan Jatuh Cinta, namun mendirikan, menegakkan cinta.

Jangan jatuh cinta, karena itu kebetulan. Sehingga, jika ada yang menyatakan cinta ke kamu, jangan diterima dulu, tapi pikirkan dulu, karena jatuh cinta itu kebetulan.

Rumus pertama dari Erich fromm, cinta itu aktif bukan pasif. Harus dipelajari dan dipraktekkan. Banyak orang karena tidak belajar cinta, dia salah dalam mempraktekkan cinta, pada akhirnya putus ditengah jalan.

Dari pandangan yang dilakukan Fromm, manusia modern cenderung tidak bagus dalam implementasi cintanya. Manusia modern itu terbagi menjadi beberapa tipe yakni Reseptif, Eksploitatif, Penimbun dan Pasar.

Gaya Reseptif ini hanya berfokus pada dirinya sendiri, dan mementingkan apa yang dia cintai bukan bagaimana caranya dia mencintai. Inginnya dicintai, maka dari itu dia lebih pemilih.

Jika kamu sibuk apa yang layak dicintai, berarti kamu termasuk didalamnya. Sehingga yang dipentingkan hanya objeknya.

Gaya Eksploitatif, ini selangkah lebih ekstrem, yakni memanfaatkan, mengeksploitasi yang dicintai untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Tipe ini tidak mementingkan perasaan yang dicintai yang penting kebutuhanmu terpenuhi.

Mencari yang bis dimanfaatkan, logikanya untung rugi. Yang dicintai tidak dapat untuk apa-apa, dan yang mencintai mencari sebanyak mungkin.

Tipe penimbun, ini dia jatuh cinta, hanya cinta bagi dia modelnya kepemilikan. Tipe ini penakut dan cenderung takut kehilangan apa yang dimiliki. Baginya, cinta tidak boleh berkembang, dan kejadian besok harus selalu sama dengan hari ini.

Jika kehilangan, maka yang dirasakan akan mengeluh, susah move on, karena masa lalu yang tertimbun lama. Karena tipe ini menginginkan cinta tidak ada perubahan dan harus selalu sama.

Tipe pasar, cinta diperlukan seperti dagang. Mencari sesuai keinginan dengan cara menjual dirinya. Bagaimana caranya ia laku di pasar. Mengorbankan identitas pribadinya demi mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dengan cara mengorbankan identitasnya itu, orientasinya adalah mendapatkan apa yang sesuai dengan keinginan. Tipe ini cenderung akan melakukan apapun untuk menggadaikan identitasnya, bahkan ketika ia tak mampu melakukannya, namun tetap dipaksakan.

Jadilah orang yang benar dalam mencintai . Cinta memang mudah disalahgunakan, karena terkadang kemauan dan kepuasan diri sendiri bisa lebih besar daripada niat hati dan tujuan.

Belajarlah untuk mencintai, bukan hanya fokus pada apa yang kamu cintai tanpa mengetahui caranya. Kata orang, kebahagiaan pasangan itu nomor satu, tapi jika kamu sendiri tidak tahu bagaimana caranya bahagia, buat apa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *