Empat Pahlawan Nasional yang Pernah Singgah di Kediri

Metaranews.co
Presiden Sukarno berbincang dengan Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa, 31 Januari 1955. (ANRI).

Metaranews.co– Kediri merupakan kota yang menjadi kota persinggahan beberapa pahlawan nasional. Tak hanya Soekarno yang pernah menetap ketika kecil di Kediri. Tapi, ada tiga pahlawan nasional lain juga pernah singgah di Kediri. Seperti KH Hasyim Asy’ari, Jenderal Soedirman, dan Tan Malaka. Yuk, simak empat pahlawan nasional yang pernah singgah di Kediri.

Jenderal Soedirman

Bacaan Lainnya

Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Dan meninggal dunia pada 29 Januari 1950. Ketika meletus Agresi Belanda II, Jenderal Soedirman memutuskan untuk melakukan perang gerilya mulai 19 Desember 1948 dari Yogyakarta.

metaranews.co
Jenderal Sudirman.

Ia Bersama pasukan menyisir pegunungan wilis dan masuklah di Kediri pada Jendral Sudirman berada di Kediri datang pada malam hari tanggal 23 Desember 1948. Ia juga sempat tinggal di Jalan MH.Thamrin No.45, Kelurahan Kemasan, Kota Kediri. Rumah yang berada di sudut perempatan tempat mangkal penjual ikan ini pernah menjadi rumah singgah Jenderal Soedirman saat memimpin perang gerilya.

Salah satunya kisah Jenderal Sudirman yang bisa lolos dari kepungan tentara Belanda yang hendak menangkapnya saat singgah di salah satu rumah rakyat di Kediri, Jawa Timur. Rupanya ada anak buah sang jenderal yang berkhianat kepada Belanda. Namun, sang jenderal mengajak para pasukannya untuk berdoa kepada sang pencipta hingga si pengkhianat itu ditembak sendiri oleh pasukan Belanda yang tengah mengepung rumah Jenderal Sudirman.
Sebelum tiba di Kediri, tepatnya di Tulungagung, sang jendral hendak ditangkap oleh pasukan dari Batalyon 102 sebab sang panglima besar berpenampilan ala kadarnya. Selama diketahui keberadaannya di kediri, sang jendral mengelabuhi pasukan belanda dengan membagi pasukannya (dengan sama sama menggunakan tandu) untuk kabur dari kediri menuju lereng gunung wilis

Dalam gerilya, Jenderal Soedirman pernah mempunyai dua panggilan samaran. Yakni, mantri guru atau kepala sekolah dan Pak Dhe. Ia tak mau dipanggil jenderal ataupun Pak Dirman. Hal itu untuk mengaburkan informasi di lapangan tentang keberadaannya ketika gerilya.

Jenderal Soedirman melakukan gerilya dalam kondisi sakit sehingga beliau harus ditandu oleh pasukan gerilya. Meskipun demikian, ia menyampaikan kepada para pasukannya tak perlu risau dengan kondisinya.

“Yang sakit Soedirman, bukanlah jenderal,” ungkapnya kepada pasukan gerilya.

 

KH Hasyim Asy’ari

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat (ormas) terbesar di nusantara memang selalu berkaitan dengan nama pendirinya KH Hasyim Asy’ari. Kisah perjalanan hidup ulama ini pun juga tak lepas dari sejarah pergerakan Islam di awal abad 20. Mungkin hingga saat ini belum banyak masyarakat yang tahu ternyata KH Hasyim Asy’ari pernah menikah dan tinggal di Kabupaten Kediri. Bagaimana kisah beliau?

Metaranews.co
KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh. (istimewa)

Selama di Kabupaten Kediri, KH Hasyim Asy’ari bermukim di Dusun Kapurejo, Desa Pagu, Kecamatan Pagu. Beliau menikah dengan salah satu puteri KH Hasan Muchyi yang merupakan pendiri pondok Pesantren Kapurejo yang sekaligus menjadi veteran perang Diponegoro di Kediri.

Pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo Muhammad Hamdani B Bik membenarkan cerita tersebut, menurutnya, KH Hasyim Asyari di Kapurejo menikah dengan Nyai Masruroh puteri KH Hasan Muchyi.

pernikahan keduanya terjadi lantaran saat itu, KH Hasyim Asyari berhasil menyembuhkan sakit yang diderita oleh Nyai Masruroh. Karena keberhasilan itu, akhirnya oleh KH Hasan Muchyi menikahkan keduanya.

KH Hasan Muchyi memberikan sayembara yang isinya siapa saja yang bisa menyembuhkan puterinya, maka jika dia laki-laki akan dinikahkan dengan putrinya. Apabila perempuan, maka akan dijadikan keluarga.

KH Hasyim Asy’ari memberikan sebotol air putih sebagai obat dari sakit yang diderita Nyai Masruroh. Hal itu diawali dari KH Khusairi yang memberanikan diri meminta tolong kepada KH Hasyim Asy’ari lantaran prihatin dengan kondisi saudaranya. Dari keluhan itu, KH Khusairi diberikan satu botol penuh air putih untuk Nyai Masruroh, dan diantarkanlah botol tersebut untuk diminumkan.

Setelah menikah, KH Hasyim Asyari bermukim di Kapurejo, adapun rumah yang ditempati berada di sebelah utara Masjid An-Nur atau masjid pondok pesantren. Di sana KH Hasyim menetap selama kurang lebih dua tahun. Namun meskipun demikian salah satu penggagas NU tersebut sering kali pulang pergi ke Tebu Ireng. Bahkan, menurut pengasuh Ponpes Kapurejo Pagu beberapa tokoh bangsa seperti Soekarno dan Tan Malaka sempat bertemu dengan KH Hasyim Asy’ari di pondok pesantren ini.

Sebelum menikah dengan KH Hasyim Asyari, Nyai Masruroh sempat dinikahi oleh KH Ikhsan dari Pondok Pesantren Jampes, karena tak kunjung punya momongan, akhirnya keduanya berpisah. Selang beberapa tahun, Nyai Masruroh menikah dengan Sayyid Shodaqoh dari kerajaan Arab Saudi dan memiliki satu anak. Dan terakhir beliau menikah dengan KH Hasyim Asyari.

Untuk diketahui, Nyai Masruroh merupakan istri keempat dari hasil perkawinan keempatnya ini, Kiai Hasyim memiliki empat orang anak, Abdul Qadir, Fatimah, Khadijah dan Muhammad Ya’qub. Perkawinan dengan Nyai Masruroh ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hasyim Asyari hingga akhir hayatnya.

 

Soekarno

Siapa sangka Presiden pertama Republik Indonesia pernah tinggal di Kediri. Disinilah, Sukarno kecil pernah menetap di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

metaranews.co
Soekarno.

Rumah tersebut adalah rumah kedua Sukarno. Di tempat inilah, Sukarno diasuh oleh ayah angkatnya yang bernama Soemosewoyo. Di tempat ini juga ada kisah asmara Sukarno dengan istri keduanya, Inggit Garnasih.

Rumah kecil Bung Karno itu dikenal dengan sebutan Ndalem Pojok. Salah satu keturunan RM Soemosewoyo, RM Soeharyono menceritakan bahwa Bung Karno diasuh ayah angkatnya saat berusia dua tahun. Dalam masa pengasuhan tersebut, RM Soemosewoyo juga mengganti nama Koesno menjadi Soekarno

Karena alasan sakit-sakitan, akhirnya menurut Soemosewoyo, Kusno berganti nama menjadi Soekarno. Bahkan, Luka pada jidat Soekarno dikarenakan ia pernah terjatuh saat memanjat pohon beringin di halaman rumah membuat Soekarno terbiasa menggunakan peci miring untuk menutup lukanya. Saat beranjak remaja, kawasan berudara sejuk di bawah pohon beringin itu menjadi salah satu tempat favoritnya melakukan orasi. Selain itu, semasa kecil Bung Karno diceritakan sering ikut menggembala kerbau ke sawah bersama kawan-kawan sebayanya.

Selain masa kecil, rumah Ndalem Pojok juga menjadi saksi atas kisah cinta Soekarno dan Inggit Ganarsih. Ketika Soekarno ingin menikahi Inggit, awalnya sempat mendapat pertentangan dari Sukeni, ayah kandung Sukarno. Sebab, saat itu Sukarno masih beristrikan Utari yang tidak lain ialah anak H.O.S Cokroaminoto, gurunya di Peneleh, Surabaya. Namun, akhirnya ia mendapatkan restu untuk menikahi Inggit setelah bercerai dengan Utari.

Hal tersebut tidak lain ada peran Soemosewoyo. Tidak hanya memberikan pertimbangan, Sumosewojo dan rombongan keluarga Kediri yang tinggal di Ndalem Pojok, juga mengantar Bung Karno untuk menikahi Inggit di Bandung. Sebab, orang tua kandung Sukarno, yakni Sukeni dan Nyoman Ida, merasa tidak enak hati dengan Cokroaminoto.

Hal ini diperkuat juga buku karya Ramadan K.H berjudul ‘Ku Antar Ke Gerbang Kemerdekaan’ yang menceritakan bagaimana pernikahan dan kehidupan Inggit selama mendampingi Sukarno muda kala itu. Dalam buku tersebut, Inggit menyatakan jika pernikahannya dengan Sukarno sangat sederhana. Sebab, Inggit berasal dari keluarga biasa.

Ada pun kondisi Ndalem Pojok sangat berbeda dengan deretan rumah di kawasan rumah sekitar. Di sana mempunyai halaman luas. Ada sebuah pohon kantil yang usianya ratusan tahun. Udara yang sejuk dan keheningan kampung membuat orang yang singgah di sana merasa nyaman.

Mungkin, hal ini yang dirasakan Sukarno kecil alias Kusno. Sehingga, semasa mendapatkan perawatan dari Soemosewoyo, ayah angkat Koesno pada umur 2-5 tahun, yakni sekitar tahun 1903 – 1906.

Ndalem Pojok memiliki nuansa tempo dulu yang kental. Terdapat lampu gantung yang sudah dimodifikasi dengan dop listrik, juga banyak foto-foto BK terpajang di dinding. Di ruang tamu itu pula terdapat sebuah etalase yang memajang koleksi Bung Karno.

Beberapa koleksi itu di antaranya tongkat, tasbih, wayang, dan buku-buku yang pernah dibaca serta buku-buku tentang diri Bung Karno. Lalu rumah bagian belakang berdinding kayu, dengan atapnya yang tinggi dan jendela besar yang menjadi ciri khas rumah era abad-18. Di tempat ini juga ada sebuah kamar yang diyakini pernah ditiduri oleh Bung Karno.

 

Tan Malaka

Dari penjara ke penjara. Begitulah pahlawan nasional asal Suliki, Sumatera Barat ini memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Pria yang memiliki nama asli Sutan Ibrahim ini bergelar Datuk Tan Malaka meninggal di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

metaranews.co
Tan Malaka.

Kabar kematiannya pada 21 Februari 1949 ini karena eksukusi dari Brigade Sikatan atas perintah petinggi militer Jawa Timur. Kematian ini membuat perjanjian antara Soekotjo dan Brigade Surachmad untuk merahasiakan kematian Tan Malaka karena takut pengikut Partai Murba yang merupakan besutannya menyimpan dendam.

Tan Malaka ke Kediri dalam rangka melakukan perang gerilya seperti halnya Jenderal Sudirman yang merupakan sahabatnya ketika membangun Persatuan Perjuangan 1946. Sayangnya, ia meninggal dunia karena dieksekusi oleh pimpinan militer di Jawa Timur. Karena dianggap akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno.

Tan Malaka dibunuh karena perlawanannya yang konsisten terhadap pemerintah yang bersikap moderat dan penuh kompromi terhadap Belanda. Belakangan, Presiden Sukarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No.53 yang ditandatangani pada 28 Maret 1963. Pengikutnya yang paling terkenal adalah Adam Malik dan Muhamad Yamin.

Selama 63 tahun pencarian makam Tan Malak ini  akhirnya ditemukan Harry Poeze setelah melakukan dan berhasil ditemukan oleh peneliti sejarah asal Belanda ini menyusuri dari berbagai sumber.

Pada tahun 2017, keluarga Tan Malaka sempat melakukan upacara untuk membawa tanah kuburan untuk dibawa ke kampung halamannya Suliki. Keluarga yang mengambil adalah Datuk Tan Malaka VII, Hengky Novaron Arsil, pewaris ketua adat di Limapuluh Kota dan penerus Tan Malaka sebagai pemegang gelar Datuk Tan Malaka IV.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *