Menunggu Ikan, Menjaga Kewarasan, Sepenggal Kisah dari Tepi Sungai Brantas

Sungai Brantas
Ilustrasi memancing di Sungai Brantas. Doc: Ubaidhillah/Metaranews.co

‎Metaranews.co, Kota Kediri – Di tepi Sungai Brantas dengan arus tenang, beberapa orang pria duduk mematung di atas jembatan bambu bekas penyebrangan sungai.

Tatapan mereka terkunci pada ujung sebuah joran yang melengkung.

Bacaan Lainnya

‎Sesekali, salah satu dari mereka mengangkat joran keatas dengan keras, dan menggulung rel pada batang joran.

‎Tarikan demi tarikan tak berujung selalu untung, tak selalu ikan yang ikut naik, kadang sampah plastik, rumput sungai, dan yang sering berujung umpan yang kosong.

‎Bagi mata yang terbiasa bergerak cepat dan tak menyiakan waktu, pemandangan ini sering kali memicu “sinisme”.

‎Memancing, di mata para penganut produktivitas radikal adalah representasi dari kemalasan yang paripurna.

‎”Memancing itu kegiatan orang malas, orang yang tidak bisa diajak maju,” kata Bagus Munarman, dalam sebuah pembicaraan di warung kopi kepada METARA, Sabtu (2/5/2026).

‎Bagi Bagus, memamncing adalah sebuah kegiatan membuang waktu, di mana seseorang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu sesuatu yang belum tentu datang.

‎”Ada anggapan bahwa mereka yang memancing adalah orang-orang yang melarikan diri dari tanggung jawab, memilih diam dalam lamunan ketimbang melakukan kerja nyata yang menghasilkan angka, dan saya setuju itu,” katanya gigih.

‎‎Baginya, memancing adalah puncak dari sebuah kesia-siaan yang dibungkus dengan alasan hobi.

‎Tidak ada yang heroik dari seorang pria dewasa yang mengabaikan tumpukan pekerjaan rumah atau tangis anaknya, demi menunggu seekor ikan seukuran telapak tangan yang bahkan tidak cukup untuk mengenyangkan perut satu keluarga.

‎‎”Ini bukanlah ketenangan, melainkan kemalasan yang dipelihara dengan tekun – sebuah upaya keras untuk tidak melakukan apa-apa di tengah dunia yang terus berlari mencari kemajuan,” katanya.

‎Berbanding terbalik dengan pendapat negatif tersebut, menurut salah satu penghobi memancing, Kholisul Fatikhin, memancing adalah kegiatan rekreatif.

Menurut Fatikhin, memancing bisa memicu ketenangan dan kesenangan bagi orang yang menyenangi kegiatan tersebut.

‎”Memancing sebenarnya sama saja dengan hobi positif lainnya seperti olahraga, orang yang suka touring keliling daerah atau bahkan luar negeri, dan hobi-hobi lain, kegiatan ini bersifat rekreatif,” tuturnya.

“Dengan begitu nilai tambahnya bukan cuma ikan di dalam ember, tapi pikiran yang lebih segar,” jelas Fatikhin.

‎Ia juga berpendapat bahwa memancing yang dikira “diam saja” ini sebenarnya adalah obat bagi pikiran yang lelah.

‎Di dunia yang serba cepat dan bikin stres, memancing berfungsi seperti tombol pause. Saat mata fokus pada gerakan pelampung dan telinga mendengar suara air, otak kita sebenarnya sedang beristirahat dari riuhnya dunia.

‎‎”Barangkali efek dari fokus ini bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya kita jadi lebih fokus menerima mana informasi yang salah mana yang benar,” paparnya.

“Karena kita terbiasa latihan teliti dan hati-hati, karena memancing ini butuh tiliti dan telaten misal memasang umpan, kail dan lainnya,” imbuhnya.

‎Fatikhin juga menyebut ‎memancing sekaligus adalah kegiatan meditatif, baginya fokus yang tenang membantu menurunkan hormon stres sekaligus melatih untuk lebih sabar menghadapi masalah sehari-hari.

“Hal positif lain bisa juga mengurangi kecanduan gadget seperti yang hari ini banyak terjadi di masyarakat, yang katanya menyebabkan banyak gangguan di otak masyarakat hari ini,” ungkapnya.

“Yang lebih penting kita bisa belajar mindfulness atau menyayangi diri sendiri, menjaga kewarasan dari kerasnya dunia hari ini,” lanjutnya.

Lebih lanjut, sama seperti hobi lain, memancing memberikan dampak positif asalkan tidak dilakukan setiap hari.

“Bagaimanapun apapun yang berlebihan selalu tidak baik, sama seperti hobi lain memancing tetap harus tau waktu, dan tidak dilakukan terus menerus setiap saat setiap waktu, agar tidak berdampak negatif,” tutupnya.

Pos terkait