Bukan Surabaya? Pemerhati Sejarah Klaim Bung Karno Lahir di Ploso Jombang Berdasarkan Arsip Kolonial

Bung Karno
Caption: Pemerhati sejarah, Arif Yulianto, saat menunjukkan dokumen yang menguatkan fakta sejarah kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang, Kamis (11/6/2026). Doc: Karimatul Maslahah/Metaranews.co

Metaranews.co, Kabupaten Jombang – Perdebatan mengenai lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, kembali mencuat.

Pemerhati sejarah asal Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, menegaskan bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Kabupaten Jombang, pada 6 Juni 1902.

Bacaan Lainnya

Menurut Cak Arif, penyebutan “Surabaya” dalam sejumlah dokumen autentik terkait kelahiran Bung Karno tidak serta-merta merujuk pada Kota Surabaya, seperti yang dikenal saat ini.

Ia menjelaskan, pada masa itu wilayah Ploso masih berada dalam administrasi Karesidenan Surabaya, karena Kabupaten Jombang belum terbentuk.

“Kabupaten Jombang sendiri baru resmi berdiri pada tahun 1910. Jadi pada tahun 1902, wilayah Ploso secara administratif memang masuk dalam Karesidenan Surabaya,” ujar Cak Arif saat memaparkan hasil penelitiannya di Jombang, Kamis (11/6/2026).

Sebagai dasar temuannya, Cak Arif menunjukkan sebuah besluit atau Surat Keputusan (SK) penugasan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo.

Dalam dokumen tertanggal 28 Desember 1901 tersebut, Raden Soekeni tercatat diangkat sebagai Mantri Guru di Sekolah Ongko Loro, Ploso, Surabaya.

Menurutnya, dokumen itu menjadi petunjuk penting untuk melacak keberadaan keluarga Soekeni menjelang kelahiran Bung Karno.

“Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso akhir Desember 1901 dan menetap hingga 1907. Artinya, saat Bung Karno lahir enam bulan kemudian, yakni Juni 1902, posisi ayahnya memang sedang berdinas di Ploso,” terangnya.

Selain itu, Cak Arif juga mengungkap adanya catatan tulisan tangan Raden Soekeni yang menyebutkan bahwa putranya lahir pada 6 Juni 1902.

Data tersebut, kata dia, selaras dengan arsip dari Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), yang mencatat Raden Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal yang sama.

Untuk memperkuat argumentasinya, Cak Arif memaparkan dokumen laporan pekerjaan sipil pemerintah Hindia Belanda tahun 1894 terkait proyek irigasi Sungai Brantas.

Dalam laporan tersebut, sejumlah desa yang kini masuk wilayah Kabupaten Jombang disebut sebagai bagian dari wilayah Surabaya.

“Laporan itu menuliskan pembangunan pintu irigasi di wilayah Surabaya, namun titik koordinat dan nama desanya sekarang ada di Kecamatan Kesamben dan Tembelang, Jombang. Ini bukti bahwa penyebutan Surabaya pada masa itu mencakup wilayah yang kini menjadi Kabupaten Jombang,” paparnya.

Sinkron dengan Biografi Cindy Adams

Cak Arif menilai temuan data primer yang berhasil dihimpunnya juga sejalan dengan isi buku biografi legendaris Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Raden Soekeni mengajukan perpindahan tugas dari Bali ke Jawa dan ditempatkan di Surabaya, lokasi tempat Bung Karno kemudian dilahirkan.

Menurut Cak Arif, narasi tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks administrasi wilayah pada masa kolonial Belanda.

“Jadi, narasi ‘lahir di Surabaya’ dalam buku Cindy Adams itu harus dibaca dalam konteks geografis masa lalu. Surabaya yang dimaksud adalah Ploso, yang kala itu masuk Karesidenan Surabaya dan kini menjadi bagian dari Kabupaten Jombang,” pungkasnya.

Pos terkait