Setelah 18 Hari Hilang, ABK KM Virgo Asal Jombang Pulang dalam Peti Jenazah

Foto : Ghondam Prakoso ABK KM Virgo Transport 8 saat dimakamkan di Desa Bulurejo, Diwek, Jombang./Karimatul Maslahah/

Metaranews.co, Kabupaten Jombang – Setelah 18 hari menjadi teka-teki bagi keluarga, Ghondam Prakoso Anak Buah Kapal (ABK) KM Virgo Transport 8, pulang dalam kondisi meninggal dunia setelah jenazahnya ditemukan di Pantai Soreang, wilayah Sampit, Kalimantan Tengah.

Tangis keluarga pecah ketika jenazah Ghondam tiba di rumah duka di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Setelah disalatkan, jenazah pria yang bekerja sebagai mualim dua atau Second Officer itu langsung dimakamkan di pemakaman Desa Bulurejo.

Bacaan Lainnya

Ghondam merupakan salah satu awak KM Virgo Transport 8 yang dinyatakan hilang setelah kapal tersebut terbalik dan tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026).

Bagi keluarga, kabar kepulangan Ghondam menjadi akhir dari penantian panjang yang selama ini diwarnai ketidakpastian.

Paman Ghondam, Zulkarnain Sutopo, mengatakan komunikasi terakhir dengan keponakannya terjadi beberapa saat setelah kapal mengalami musibah.

“Dia menghubungi rumah keluarga. Cuma bilang, ‘Kapal saya tenggelam’. Setelah itu kami menunggu sampai hari ke-18,” ucap Zulkarnain saat ditemui di rumah duka, Kamis (1/10/2026).

Sejak pesan singkat tersebut, keluarga hanya bisa menunggu kabar mengenai keberadaan Ghondam.

Kepastian akhirnya datang pada Rabu (30/9/2026), ketika Basarnas menghubungi keluarga dan menyampaikan hasil identifikasi jenazah yang ditemukan di Kalimantan Tengah.

“Alhamdulillah, kemarin Rabu (30/9/2026) kami mendapat informasi dari Basarnas kalau sudah teridentifikasi, yaitu Ghondam Prakoso. Tadi pagi kami jemput di Bandara Juanda, kemudian dibawa ke rumah duka dan dimakamkan,” ujarnya.

Di balik penantian selama 18 hari itu, keluarga mendapat informasi bahwa Ghondam merupakan salah satu awak yang berada di bagian terakhir ketika para kru berusaha meninggalkan kapal.

Zulkarnain mengatakan informasi tersebut diperoleh dari kapten kapal yang dikenalnya.

Ada lima awak yang disebut keluar paling belakang ketika kondisi kapal mulai tenggelam. Mereka terdiri dari kapten, kepala kamar mesin (KKM), Ghondam, serta dua awak lainnya.

“Kelima orang ini paling terakhir keluar. Sebelumnya mereka melaksanakan tugas membagikan pelampung dan mengembangkan liferaft,” jelasnya.

Menurut Zulkarnain, pengembangan liferaft membutuhkan pengetahuan dan pelatihan keselamatan.

Ghondam disebut sudah mengenakan life jacket setelah meninggalkan kapal. Namun, kondisi laut pada malam kejadian membuat kelima awak tersebut terpisah.

Ghondam bersama Bas Jumbri yang merupakan AKM kapal berada dalam satu kelompok. Sementara tiga awak lainnya berada dalam kelompok berbeda.

“Karena malam dan terkena ombak, mereka akhirnya terpisah. Setelah itu kami tidak tahu bagaimana kondisinya,” kata Zulkarnain.

Selama proses pencarian, keluarga terus menunggu kepastian mengenai keberadaan Ghondam.

Zulkarnain mengaku sudah memiliki dugaan bahwa salah satu jenazah yang ditemukan di Kalimantan Tengah merupakan keponakannya. Namun, keluarga tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum hasil identifikasi resmi keluar.

“Di hari ke-15 saya sudah ada indikasi kalau itu Ghondam. Tapi kami tidak bisa memutuskan sendiri. Kami tetap menunggu hasil identifikasi petugas,” tuturnya.

Hasil identifikasi akhirnya memastikan jenazah tersebut adalah Ghondam Prakoso.

Jenazah kemudian diterbangkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Surabaya sebelum dijemput keluarga di Bandara Juanda.

Kepergian Ghondam meninggalkan seorang istri dan anak laki-laki yang baru berusia empat tahun.

Bagi keluarga, bagian paling berat dari kepulangan tersebut adalah melihat anak Ghondam yang masih kecil harus kehilangan ayahnya.

“Anaknya masih empat tahun. Kalau memanggil saya itu Akung. Jadi dia tahu saya sebagai kakeknya,” ujar Zulkarnain.

Semasa hidup, Ghondam dikenal keluarga sebagai seorang pelaut yang tengah berusaha membangun karier sekaligus masa depan keluarganya.

Perjalanan kariernya bahkan dimulai dari bawah. Setelah lulus SMA, Ghondam diarahkan menempuh pendidikan pelayaran di Semarang.

Ia kemudian memulai pekerjaan sebagai juru mudi hingga akhirnya dipercaya menjadi mualim dua.

“Saya ingin mendidik anak ini supaya tidak hanya mengandalkan ijazah. Dia saya jadikan juru mudi dulu, belajar dari bawah, sampai akhirnya menjadi mualim dua,” ungkapnya.

Ghondam juga tengah mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan sertifikat ANT II. Ia telah mendaftar sekolah, tetapi rencana tersebut terhenti setelah musibah KM Virgo Transport 8.

Kini, seluruh rencana itu tinggal kenangan. Ghondam telah dimakamkan di kampung halamannya setelah 18 hari keluarganya menunggu kepastian.

Keluarga pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pencarian para korban.

“Kami keluarga Ghondam Prakoso mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada instansi terkait dan siapa pun yang sudah bekerja keras membantu mencari korban Virgo,” beber Zulkarnain.

Ia juga meminta masyarakat memaafkan seluruh kesalahan Ghondam semasa hidup.

“Mudah-mudahan almarhum menjadi husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” pungkas Zulkarnain.

Pos terkait