Metaranews.co, Kediri– Untuk kedua kalian setelah sempat berhenti akibat pandemi covid -29 Tradisi Jamasan Arca Totok Kerot kembali digelar di Taman Totok Kerot, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Kamis (9/7/2026).
Jamasan ini tidak sekadar menjadi kegiatan membersihkan cagar budaya, tetapi juga upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam legenda Totok Kerot.
Prosesi jamasan diinisiasi oleh Komunitas Juru Pelihara (Jupel) Cagar Budaya Kabupaten Kediri dan mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Puluhan juru pelihara bersama masyarakat mengikuti rangkaian acara yang diawali doa bersama dan selamatan, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan arca secara gotong royong.
Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priatno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi merawat peninggalan sejarah sekaligus ungkapan syukur menyambut Tahun Baru Jawa di bulan Suro.
”Momentum bulan Suro menjadi waktu yang tepat untuk merawat cagar budaya sekaligus memohon keselamatan di tahun yang baru. Ini adalah inisiatif teman-teman juru pelihara yang kami dukung penuh karena memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Eko.
Menurutnya, jamasan ini juga menjadi media edukasi agar masyarakat semakin mengenal sejarah dan budaya lokal.
Ia menjelaskan, proses pembersihan dilakukan sesuai standar konservasi cagar budaya. Arca hanya dibersihkan menggunakan air dan sikat berbulu halus tanpa bahan kimia agar tidak merusak permukaan batu.
”Perawatan cagar budaya tidak boleh menggunakan sabun atau cairan apa pun. Hanya air dan sikat khusus agar kondisi batu tetap terjaga,” katanya.
Secara arkeologis, lanjut Eko, Totok Kerot merupakan arca Dwarapala yang diperkirakan berasal dari masa akhir Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12. Namun di tengah masyarakat, arca tersebut lebih dikenal melalui legenda Totok Kerot yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kisah rakyat, Totok Kerot diceritakan sebagai seorang putri dari wilayah selatan yang terpikat kepada Raja Sri Aji Joyoboyo. Karena terus memaksa ingin dipersunting dan dianggap mengabaikan nasihat, sang putri dikutuk hingga berubah menjadi batu.
”Kalau secara ilmiah ini adalah arca Dwarapala. Namun legenda Totok Kerot merupakan bagian dari kekayaan budaya yang mengajarkan pentingnya sopan santun dan menghormati nasihat orang tua. Nilai itulah yang ingin terus diwariskan kepada generasi muda,” tutur Eko.
Prosesi jamasan tahun ini menggunakan air yang diambil dari tujuh mata air, di antaranya Sumber Bendo, Sumber Tengger atau Kemanten Wonorejo, Menang Kendung, Sumberejo, dan Sendang Tirtokamandanu. Angka tujuh dipilih sebagai simbol pitulungan atau pertolongan. Selain itu, bunga melati digunakan sebagai pewangi alami saat prosesi siraman.
”Bunga melati hanya menjadi simbol keharuman. Tidak ada kaitannya dengan bunga tujuh rupa, karena inti kegiatan ini adalah pensucian dan perawatan cagar budaya,” jelasnya.
Koordinator Juru Pelihara Cagar Budaya Kabupaten Kediri, Edris, berharap tradisi jamasan dapat terus dilestarikan sehingga masyarakat semakin peduli terhadap keberadaan situs-situs bersejarah.
”Kami ingin masyarakat ikut memiliki rasa tanggung jawab menjaga peninggalan leluhur. Cagar budaya adalah identitas daerah yang harus dirawat bersama,” ujarnya.
Prosesi jamasan tahun ini juga menarik perhatian mahasiswi asal Jepang, Saki Maeta (26), kandidat doktor Antropologi dari Universitas Kobe Jepang. Ia turut mengikuti prosesi pembersihan dan mencuci arca yang mengaku terkesan dengan keterlibatan masyarakat dalam melestarikan warisan budaya.
”Saya tertarik melihat bagaimana masyarakat Kediri merawat peninggalan sejarah masa lalu. Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Kediri berharap tradisi jamasan Arca Totok Kerot dapat menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya menjaga kelestarian cagar budaya, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta menarik minat wisatawan untuk mengenal sejarah Kediri lebih dekat.






