Asal Nama Kanjuruhan Sebagai Kerajaan Tertua di Jawa Timur

metaranews.co
Candi Badut Malang peninggalan Kerajaan Kanjuruhan.

Metaranews.co, Malang- Nama Stadion Kanjuruhan Malang seminggu ini tengah menjadi perbincangan publik karena adanya tragedi kemanusiaan yang merenggut 131 nyawa karena gas air mata usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya. Tapi, sebenarnya darimana asal nama Kanjuruhan yang digunakan stadion milik Kabupaten Malang ini? Berikut penjelasan Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono tentang Kanjuruhan.

Kanjuruhan sebagai nama kerajaan kali pertama dikenal lewat prasasti bertarikh Saka 678 (760 Masehi). Tarikh prasasti disurat dengan angka dan dikalimati sebagai candrasangkala lombo “nayana (2) vasu (8) rasa (6)”, yang bila ditata urut angkakan secara terbalik menjadi “682” tahun Saka”. Prasasti batu  atau lingo prasasti ini tidak terbilang sebagai prasasti panjang (long inscription), lantaran hanya berisikan 26 baris tulisan. Benda koleksi Museum Nasional ini dikenal pula dengan “Prasasti Dinoyo I”. Bahwa Kanjuruhan kala itu merupakan kerajaan yang “otonom” terbukti oleh adanya tiga orang raja yang memerintah secara berturut-turut, yaitu : (1) Dewa Simha, (2) Gajayana (Liswa), dan (3) Utejjana — menikah dengan raja Pradaputra, juga ibu dari Anana yang bijaksana. Gajayana yang adalah raja ke-2, putra Dewa Singa dan ayah dari putri Utejjana, perintahkan citralekha untuk menuliskan prasasti. Tarikh mutlak (absolud dating)-nya, 28 November 760, dijadikan sebagai petanda “Hari Jadi Daerah Kabupaten Malang”, yang dengan demikan pada tahun ini (2022) memasuki usia 1262 tahun.

Bacaan Lainnya

Bagi Provinsi Jawa Timur, jejak budaya Kanjuruhan bisa dibilang menjadi “momentum” untuk beberapa hal, yaitu sebagai :(a) kerajaan otonom tertua di Jawa Timur — meski se-masa dengan kerajaan Mataram, hingga akhir abad IX atau bahkan hingga awal abad X sandang status “otonom”, bukan “underbow (bawahan, vasal)” kerajaan Mataram; (b) candi-candi tinggalan kerajaan Kanjuruhan seperti halnya candi Badut, candi Gasek (Karangbesuki) serta reruntuhan candi di Kelurahan Karangbesuki menjadi pembukti akan keberadaan agama serta budaya Hindu-Siwa tertua di Jawa Timur: (c) prasasti Dinoyo I (Kanjuruhan) adalah prasasti tertua di Jawa Timur, dan (d) aksara yang digunakan adalah aksara Jawa Kuna yang tertua  kedua di Jawa setelah prasasti Plumpungan (672 Saka = 750 Masehi). Demikianlah kerajaan otonom Kanjuruhan beserta peninggalan budayanya di area Malang menduduki posisi “monumental”. Namun, sayang keberadaannya kurang tersuarakan, nyaris “senyap” diantara ketenaran dari kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Dalam buku babon yang berjudul “Sejarah Nasional Indonesia (SNI)” jilid II, keberadaan Kanjuruhan ha- nya disinggung sekilas dalam konteks pembicaraan mengenai kerajaan Mataram. Sebenarnya, rentang kesejarahan Kanjuruhan tak sebatas pada tiga raja (Dewa Simha, Gajayana, dan Utejjana). Sangat mungkin eksistensinya sebagai kerajaan “otonom” berlanjut hingga Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu dari kerajaan Mataram yang berpusat (ber-kadatwan) di Poh Pitu pada wilayah Jawa Tengah mengadakan ekspansi kekuasaan memasuki Jawa Timur, dengan antara lain menaklukkan Kanjuruhan. Sejak itu statusnya turun dari kerajaan “otonom” menjadi “watak”, yang dipimpin pejabat setingkat Rakai, dengan sebutan “Rakryan Kanuruhan”. Ekspansi Mataram terjadi di era pemerintahan raja Balitung, yang memerintah antara 9 Juni 898 (tarikh prasasti Wanua Tengah III, yang menyebut tanggal pentabisan raja Balitung) hingga pertengahan tahun 910 (tarikh daribprasasti Watu Ridang, 22 Maret 910, prasasti terakhir rqja Balitung). Semenjak itu Kanuruhan menjadi salah satu diantara sejumlah watak (dua, tiga, dan kian bertambah pada masa berikut) pada Malang Raya.  Eksistensi Kanjuruhan sebagai watak, terbukti terus berlanjut hingga memasuki masa Majapahit.

Dinamika Kanjuruhan sebagai kerajaan otonom hingga menjadi watak itu kurang tersuarakan ke masyarakat. Sayangnya, masyarakat lebih mengenal Kanjuruhan sebagai nama Gedung Olah Raga (GOR) dan Universitas daripada sebagai kerajaan otonom tertua di Jawa Timur dan salah satu watak di Malang Raya. Kabupaten Malang yang nota bene menjadikan prasasti Kanjuruhan sebagai petanda untuk Hari Jadi Malang, kurang bersungguh- sungguh untuk menyuarakan Kerajaan Kanjuruhan beserta tinggalan-tinggalan sejarahnya. Kabupaten ini hanya meminjam nama “Kanjuruhan” untuk menamai stadionnya di Kepanjen.

Selama ini (sejak tahun 1978 s.d  sekarang), belum pernah dihelat “Festival Kanjuruhan” yang diinisiasi apa lagi difasilitasi oleh Pemkab Malang. Oleh karena itu, bisa dipahami bila tidak semua pelajar di Malang Raya mengenal Kerajaan Kanjuruhan, padalah berada di kawasannya. Barulah kali ini (Oktober 2022) publik di Malang Raya familier dengan Kanjuruhan. Namun sayang yang kini familier itu bukan Kanjuruhan sebagai kerajaan dan jejak-jejak sejarahnya, namun Kanjuruhan sebagai GOR padamana tragedi bola yang merenggut jiwa ratusan suporter Arema terjadi.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *