Metaranews.co, Kediri – Perubahan suhu yang ekstrem sejak awal Mei 2026 menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya ikan cupang di Sentra Budidaya Ikan Betta, Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
Perbedaan suhu yang cukup tajam antara malam dan siang hari menyebabkan pertumbuhan ikan terganggu hingga memicu tingginya angka kematian benih.
Pada pagi hari, suhu udara di kawasan tersebut berkisar 21–22 derajat Celcius. Sementara pada siang hingga sore hari mencapai 27–31 derajat Celcius. Padahal, suhu ideal untuk budidaya ikan cupang berada di kisaran 27–30 derajat Celcius.
Dampak perubahan suhu itu dirasakan langsung oleh Ardiansyah Maulana Ahmad, pemilik Santoso Betta Fish di Jalan Kelapa, Kelurahan Ketami. Ia mengaku sudah dua bulan terakhir gagal panen karena ribuan benih ikan mati.
Ardiansyah mengelola sekitar 50 ribu ekor ikan cupang dan setiap bulan biasanya menebar 30 hingga 50 ribu benih. Namun sejak awal Mei, ia telah melakukan penyebaran benih sebanyak 10 kali di empat kolam budidaya tanpa menghasilkan panen yang optimal.
”Kalau pagi suhu air hanya sekitar 21 sampai 22 derajat Celcius, sedangkan siang bisa mencapai 27 sampai 32 derajat Celcius. Akibatnya ikan menjadi lambat tumbuh, nafsu makannya menurun, dan angka kematian meningkat. Setiap bulan hampir 10 ribu ekor benih mati,” ujar Ardiansyah ditemui di kolam budayanya, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kerugian yang dialaminya mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta. Sementara biaya operasional budidaya yang harus dikeluarkan setiap bulan mencapai sekitar Rp10 juta, meliputi biaya pakan, listrik, obat-obatan juga ongkos pekerja.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Maju Mandiri, Santoso, mengatakan kelompoknya beranggotakan sekitar 50 peternak ikan cupang. Saat ini hanya sebagian kecil peternak yang masih dapat menikmati hasil panen, sedangkan sebagian besar mengalami penurunan produksi akibat suhu yang tidak stabil.
”Perubahan suhu membuat pertumbuhan ikan melambat dan tingkat kematian benih tinggi. Akibatnya banyak peternak yang gagal panen,” kata Santoso.
Untuk meminimalkan kerugian, Santoso menyarankan beberapa langkah diambil para peternak. langkah pertama mengurangi frekuensi penyebaran benih, kemudian memilih kolam yang mendapatkan intensitas sinar matahari cukup. langkah ketiga rutin menambah air kolam agar suhu tetap stabil, ke empat menggunakan indukan berkualitas agar benih lebih kuat menghadapi perubahan cuaca.
”Kalau seperti ini kurangi penyebaran benih, tempatkan di kolam yang sinar matahari cukup, sering isi air baru dan ganti indukan yang bagus,” tuturnya.
Para peternak berharap kondisi cuaca segera kembali normal sehingga produksi ikan cupang di Sentra Ikan Betta Ketami dapat pulih. Mereka juga berharap angka kematian benih menurun agar panen kembali normal mengingat usaha budidaya ikan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.






